Cerita Sukses Tim Kosabangsa Universitas BumiGora Berdayakan Desa Sigar Penjalin

  • 06 Nov 2025 12:45 WIB
  •  Mataram

KBRN, Lombok Utara: Di bawah rindangnya pepohonan ketapang yang tumbuh di sepanjang pesisir Desa Sigar Penjalin, Lombok Utara, kini tersimpan cerita baru tentang perubahan. Bukan sekadar tempat berteduh dari teriknya matahari, daun dan biji ketapang kini menjelma menjadi sumber penghidupan baru bagi warga desa berkat sentuhan inovasi dari Tim Program Kosabangsa Universitas Bumigora.

Program bertajuk “Pemberdayaan Ekonomi Desa Sigar Penjalin melalui Inovasi Sabun Ketapang dan Digitalisasi Wisata Komunitas” ini menjadi angin segar bagi masyarakat pesisir yang selama ini menggantungkan hidup pada hasil tani dan laut. Dengan pendekatan teknologi tepat guna dan pendampingan intensif, masyarakat kini mampu mengolah bahan-bahan alam menjadi produk bernilai ekonomi tinggi salah satunya sabun herbal berbahan daun ketapang.

Program Kosabangsa yang dilaksanakan oleh Universitas Bumigora di Desa Sigar Penjalin, Lombok Utara. (Foto: RRI/Tim Kosabangsa/Universitas Bumigora)

KOSABANGSA: MENGHUBUNGKAN KAMPUS DAN DESA

Program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Bangsa) merupakan inisiatif nasional dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang bertujuan memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui program ini, dosen dan mahasiswa didorong untuk terjun langsung ke desa-desa, menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi bagi permasalahan nyata masyarakat. Program Kosabangsa (Kolaborasi Sosial Membangun Bangsa) menjadi salah satu wujud nyata implementasi kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Program ini dirancang sebagai jembatan antara dunia akademik dan masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor yang berorientasi pada solusi dan pemberdayaan.

Melalui Kosabangsa, perguruan tinggi di seluruh Indonesia berperan sebagai agen perubahan sosial, dengan memanfaatkan hasil riset dan inovasi kampus untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara langsung. Program ini menegaskan pentingnya kontribusi ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan berbagai persoalan nyata di lapangan, terutama di wilayah pedesaan.

Kosabangsa mengusung tiga nilai utama yang menjadi fondasi setiap kegiatannya. Pertama, kolaborasi lintas bidang dan lembaga, yang melibatkan kerja sama aktif antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal. Kedua, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, sebagai solusi konkret terhadap permasalahan ekonomi, sosial, dan lingkungan di masyarakat. Ketiga, peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat, agar mampu mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan dan mandiri.

Melalui semangat kolaboratif tersebut, Kosabangsa tidak hanya memperkuat sinergi antara kampus dan masyarakat, tetapi juga membentuk ekosistem inovasi sosial yang berdampak luas bagi pembangunan desa dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia.

Ketua pelaksana kegiatan, Sahdan Saputra, S.E., M.SM., menjelaskan, bahwa semangat Kosabangsa adalah “Membangun dari Bawah” membantu desa agar bisa mandiri melalui inovasi yang sesuai dengan potensi lokal.

“Kami ingin masyarakat sadar bahwa mereka punya sumber daya besar di sekitar mereka. Ketapang, misalnya, tumbuh melimpah tapi jarang dimanfaatkan. Padahal, dari situ kita bisa hasilkan sabun alami yang punya nilai jual. Itulah tujuan Kosabangsa: menghadirkan ilmu kampus untuk menyelesaikan masalah di akar rumput,” ujar Sahdan penuh semangat.

KETAPANG YANG DULU HANYA DAUN KINI JADI SUMBER PENGHIDUPAN

Melalui rangkaian pelatihan, warga Desa Sigar Penjalin yang berpusat pada aula kantor desa dan rumah Ketua Kelompok Tani Sumber Dagang, Dusun Lendang Berora, Desa Sigar Penjalin, diajarkan cara mengolah daun ketapang menjadi ekstrak alami dan memadukannya dengan bahan-bahan sederhana seperti minyak kelapa, soda api (NaOH), dan gliserin. Hasilnya? Sabun herbal yang lembut di kulit dan ramah lingkungan.

“Awalnya kami ragu, apakah bisa menghasilkan sabun sendiri? Tapi setelah beberapa kali praktik, ternyata hasilnya bagus,” tutur Lukman Hakim, ketua kelompok petani yang menjadi salah satu mitra sasaran.

“Sekarang kami tidak hanya menanam atau menunggu panen, tapi juga bisa produksi sabun untuk di pakai sendiri dan bahkan dijual. Kami bahkan mulai belajar mengemas dan memasarkan lewat media sosial,” tambahnya dengan senyum bangga.

KETIKA NELAYAN TAK BISA MELAUT, SABUN JADI PENYELAMATAN

Selain kelompok petani, kelompok nelayan juga merasakan manfaat besar dari program ini. Saat cuaca buruk atau ombak tinggi membuat mereka tak bisa melaut, mereka kini punya alternatif kegiatan produktif di rumah: memproduksi sabun ketapang dan tentunya mengolah ikan hasil tangkapan .

“Biasanya kalau musim angin, kami hanya duduk di rumah. Sekarang, kami bisa tetap bekerja membuat sabun. Hasilnya bisa untuk tambahan uang sekolah anak-anak,” tutur salah seorang melayan.

Program ini tak hanya memberi pengetahuan baru, tapi juga mengubah cara berpikir masyarakat dari sekadar bergantung pada alam menjadi masyarakat yang inovatif dan mandiri. Pemanfaatan biji ketapang menjadi bahan utama sabun alami serta peningkatan nilai tambah hasil tangkapan ikan melalui berbagai produk olahan yang digemari masyarakat luas.

Ketua pelaksana program menjelaskan, bahwa inisiatif ini bertujuan untuk membangun kemandirian ekonomi nelayan dengan cara yang berkelanjutan.

“Kami ingin para nelayan tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan harian. Melalui pelatihan pembuatan sabun ketapang dan diversifikasi produk ikan, mereka kini memiliki peluang usaha tambahan yang bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.

Inovasi sabun ketapang yang dihasilkan oleh kelompok nelayan terbukti memiliki daya jual karena ramah lingkungan dan memanfaatkan bahan alami lokal yang selama ini terabaikan. Produk sabun ini dikembangkan bersama kelompok petani yang sebelumnya juga menjadi mitra dalam program yang sama. Sinergi antara kedua kelompok masyarakat petani dan nelayan mencerminkan kolaborasi ekonomi desa yang produktif.

Selain itu, pendampingan juga menitikberatkan pada optimalisasi hasil tangkapan ikan. Para nelayan dilatih untuk mengolah ikan menjadi berbagai produk yang diminati pasar, seperti abon ikan, kerupuk ikan, dan nugget ikan. Dengan pendekatan teknologi sederhana dan higienis, hasil olahan tersebut kini mulai menembus pasar lokal hingga menjadi oleh-oleh khas daerah.

Ketua kelompok nelayan Batur Lauq Dusun Sire Lauq, Desa Sigar Penjalin, Suherman, mengaku sangat terbantu dengan program ini.

“Dulu kami hanya menjual ikan segar, kadang harganya turun. Sekarang, dengan pelatihan dari tim Kosabangsa, kami sedikit mempunyai pandangan lebih luas untuk bisa mengolah hasil tangkapan menjadi produk siap jual dan memasarkannya secara efisien. Nilai jualnya naik dan lebih tahan lama,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Pendamping lapangan juga menambahkan bahwa kegiatan ini bukan hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian para nelayan. Mereka kini mulai memahami pentingnya inovasi dan branding produk lokal untuk menarik minat konsumen yang lebih luas.

Melalui Program Kosabangsa, Universitas Bumigora tidak hanya menghadirkan transfer teknologi, tetapi juga membangun jejaring antara akademisi, masyarakat, dan pelaku ekonomi lokal. Keberhasilan kelompok nelayan Desa Sigar Penjalin menjadi contoh nyata bahwa desa pesisir mampu bertransformasi menjadi desa mandiri berbasis inovasi dan kearifan lokal.

“Kami berharap, kisah sukses Sigar Penjalin dapat menginspirasi desa-desa pesisir lain di Indonesia untuk bangkit melalui inovasi dan kolaborasi,” pungkas Prof. Diswandi, Ph.D., sebagai salah satu pendamping Program Kosabangsa.

TEKNOLOGI DAN DIGITALISASI: DESA YANG MULAI MELEK DUNIA MAYA

Selain inovasi sabun, Tim Kosabangsa Unram juga membantu masyarakat mengembangkan digitalisasi wisata komunitas. Desa Sigar Penjalin memiliki potensi wisata alam dan budaya yang luar biasa — pantai, perahu tradisional, hingga kuliner laut khas. Namun potensi itu sering terabaikan karena keterbatasan promosi.

Melalui pelatihan sederhana, masyarakat diajarkan membuat konten foto dan video, mengelola akun media sosial, serta menulis deskripsi menarik untuk memperkenalkan wisata desa ke publik.

“Anak-anak muda di sini sekarang mulai bisa buat konten sendiri. Ada yang bikin video wisata, ada juga yang bantu desain label sabun ketapang. Ini bukti bahwa digitalisasi bisa menjadi jembatan antara desa dan dunia luar,” jelas Prof. Erin Ryantin Gunawan, Ph.D., selaku ketua pendamping program.

Beliau menambahkan, keberhasilan kegiatan ini tak hanya diukur dari produk sabun atau unggahan digital, melainkan dari perubahan perilaku masyarakat yang kini lebih terbuka terhadap inovasi dan teknologi. Berikut beberapa cuplikan kegaiatan dalam Program Kosabangsa.

DARI ILMU MENJADI AKSI: KOLABORASI YANG MENGHIDUPKAN

Program ini melibatkan kolaborasi lintas bidang dari berbagai dosen Universitas Bumigora hingga Universitas Mataram (Unram) mulai dari ekonomi, teknologi, hingga kimia. Semua bekerja bersama masyarakat dengan prinsip kesetaraan, bukan sebagai pengajar yang memberi instruksi, melainkan mitra yang tumbuh bersama.

“Kami belajar dari masyarakat sama banyaknya dengan apa yang mereka pelajari dari kami,” ujar Sahdan Saputra. “Dan itulah keindahan Kosabangsa — kampus dan desa saling memperkaya,” tambahnya.

HARAPAN KE DEPAN: DESA YANG MANDIRI DAN MENGINSPIRASI

Kini, sabun ketapang buatan warga Desa Sigar Penjalin mulai dikenal di sekitar Lombok Utara. Produk ini dijual dalam berbagai varian dan menjadi oleh-oleh unik khas desa pesisir. Tak hanya itu, beberapa warga mulai menjajaki kerja sama dengan toko oleh-oleh dan pasar daring lokal.

Sahdan berharap, apa yang telah dirintis ini tidak berhenti di sini.

“Kami ingin desa ini menjadi model bagi desa lain di NTB. Bahwa pemberdayaan bisa lahir dari hal sederhana — asal ada kemauan, ilmu, dan kolaborasi,” ujarnya.

Ucapan Terima Kasih

Kami menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, yang telah memberikan dukungan pendanaan melalui Skema Hibah Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (KOSABANGSA) Tahun Anggaran 2025.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....