Abdul Hadi: Tragedi Rinjani Jadi Alarm Pembenahan Basarnas
- 26 Jun 2025 07:04 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Anggota Komisi V DPR RI yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi PKS Bidang Infrastruktur dan Pembangunan, Abdul Hadi, menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang mengalami kecelakaan tragis di kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat.
Dalam keterangan tertulisnya Rabu (25/6/2205), Abdul Hadi mengungkapkan keprihatinan atas keterlambatan proses evakuasi korban, yang memakan waktu hingga tiga hari sejak sinyal pertama dilaporkan oleh korban.
“Publik berhak mempertanyakan lambatnya evakuasi ini. Bagaimana bisa dalam waktu kritis korban sempat memberi sinyal dan baru bisa dijangkau setelah tiga hari? Ini harus menjadi pembelajaran serius,” ujarnya.
Abdul Hadi menyadari bahwa proses penyelamatan tidak mudah mengingat medan ekstrem, kabut tebal, serta lokasi korban yang berada di jurang sedalam 600 meter. Namun, ia menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur evakuasi di kawasan pegunungan.
“Sudah saatnya kita mengevaluasi dan memperbarui SOP evakuasi di kawasan pegunungan dan taman nasional. Latihan rutin dan pelibatan komunitas lokal harus ditingkatkan agar respons lebih sigap,” ungkap politisi PKS asal Lombok itu.
Lebih lanjut, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat kapasitas dan teknologi pencarian serta penyelamatan (SAR), termasuk pengadaan perangkat modern seperti drone pencari panas dan drone logistik berat.
“Pengadaan drone pencari panas dan drone logistik berat harus menjadi prioritas, sekaligus memastikan seluruh pendaki, terutama wisatawan mancanegara, membawa pelacak GPS atau emergency beacon. Dengan begitu, upaya evakuasi bisa berlangsung lebih cepat dan akurat,” tambahnya.
Tak hanya itu, Abdul Hadi juga menyerukan pembentukan pusat komando terpadu untuk menangani situasi darurat. Menurutnya, koordinasi yang solid antara Basarnas, taman nasional, TNI, Polri, BPBD, dan komunitas lokal harus dilakukan berbasis data real-time untuk efektivitas yang maksimal.
“Kejadian ini harus menjadi momentum pembenahan menyeluruh agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....