Ragasa Guncang Asia Timur, Apa Pelajaran untuk Indonesia?
- 24 Sep 2025 10:11 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Typhoon Ragasa dianggap sebagai salah satu badai atau topan paling mematikan yang pernah terjadi di Asia Timur. Ini adalah badai tropis kategori lima yang sekarang melanda wilayah Asia Timur.
Badai ini telah melanda negara-negara Asia Timur seperti Filipina, Taiwan, dan pesisir selatan Tiongkok, dan berdampak pada infrastruktur mereka. Dengan kecepatan angin maksimum mencapai 267 km/jam, Ragasa disebut-sebut menjadi salah satu badai terkuat dalam satu dekade terakhir
Dilansir dari DisasterReliefMaps.com Ragasa menyebabkan banjir dan tanah longsor yang signifikan di wilayah Luzon Utara Filipina. Lebih dari 24.000 orang dievakuasi oleh pemerintah setempat, dengan satu orang tewas akibat longsor di Benguet, dan enam nelayan hilang di lepas pantai Luzon.
Pemadaman listrik dilakukan di lebih dari 8.000 rumah dan gangguan pada transportasi darat dan udara di Taiwan. Sinyal badai level 8 telah dikeluarkan di Hong Kong dan Makau. Selama 36 jam, Bandara Internasional Hong Kong ditutup, dan ratusan ribu orang dievakuasi dari wilayah pesisir seperti Lei Yue Mun dan Heng Fa Chuen.
Pemerintah setempat mengambil beberapa tindakan untuk mengurangi dampak badai, di antaranya:
- Melakukan evakuasi cepat di wilayah yang rentan terhadap banjir dan longsor
- Meningkatkan kekuatan struktur melalui penggunaan karung pasir dan pelindung jendela
- Pengiriman logistik makanan, air, dan obat
- Peringatan cuaca secara real-time diberikan melalui aplikasi dan platform media sosial
Langkah-langkah ini dinilai efektif dalam mempercepat proses tanggap darurat dan mengurangi risiko korban jiwa.
Warga lombok di Taiwan
Selebihnya, Ismah Roestam, diaspora dari Lombok yang saat ini berdomisili di Taiwan selatan melalui pesan whatsapp pada tim RRI Mataram, mengungkapkan bahwa badai besar melawati wilayah selatan Taiwan yang akhirnya topan ini tidak berdampak langsung pada Taiwan"
"Yang terkena itu Philipines, Hongkong dan mainland China, namun kemarin Taiwan terdampak hujan besar karena tyhponn tersebut," ujarnya, Rabu, 24/09/2024.

(Ismah Roestam, warga Lombok yang saat ini berada di Taiwan)
Topan Ragasa menjadi pengingat bahwa bencana alam tidak mengenal batas negara. Solidaritas regional dan kesiapsiagaan lokal menjadi kunci dalam menghadapi ancaman serupa di masa depan.
Dalam kesempatan yang sama Ismah juga mengungkapkan bahwa mitigasi bencana oleh pemerintah Taiwan sangat baik sehingga meminimalkan dampak bencana
"Kalo peringatan selalu ada karena disini siaga bencananya memang sekeren itu. Tahun lalu 2024 pernah terjadi badai topan cukup besar namanya Thyphoon Kongrey..maka dua hari sebelumnya kami sudah dapat informasi libur kegiatan pendidikan dan perkantoran. Juga larangan keluar rumah." ungkapnya pada RRI Mataram. selain itu ia menambahkan bahwa kecanggihan teknologi dan tanggung jawab pemerintah berperan besar dalam menekan angka resiko bencana
"Kecanggihan teknologi, tanggung jawab pemerintah dan kesadaran masyarakat selalu membuat korban sangat minimal ketika ada bencana di Taiwan. Misal bencana gempa 2024 lalu 7SR itu korbannya total 19 orang," jelasnya.
Pelajaran untuk Indonesia
Berdasarkan pengalaman yang dialami Ismah Roestam tersebut, maka ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Selain itu Indonesia adalah negara kepulauan yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, dan kita dapat belajar banyak dari bagaimana menangani Topan Ragasa.
Di Indonesia, hal-hal berikut dapat dilakukan
- meningkatkan sistem peringatan dini BMKG
- mempromosikan mitigasi berbasis komunitas
- menggunakan teknologi digital untuk memberikan informasi dengan cepat
- kolaborasi lintas sektor dalam penanganan bencana.
Menurut GoodStats.id, sistem distribusi Ragasa juga meningkatkan kemungkinan hujan lebat di wilayah Kalimantan Utara, Timur, dan Barat. BMKG menyarankan agar wilayah pesisir Indonesia, khususnya NTB dan NTT, yang rentan terhadap dampak tidak langsung badai tropis, lebih siap.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....