Asal Kata “Lupa Daratan”

  • 20 Sep 2025 05:22 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Bahasa Indonesia kaya dengan ungkapan dan peribahasa yang lahir dari pengalaman hidup masyarakat, terutama yang dekat dengan alam. Salah satunya adalah ungkapan “lupa daratan”, yang hingga kini masih sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang hilang kendali karena harta, jabatan, atau kesenangan.

Makna Harfiah

Secara bahasa, ungkapan ini terdiri dari dua kata:

Lupa → tidak ingat, lalai.

Daratan → tanah tempat berpijak, lawan dari lautan.

Jika diartikan secara harfiah, “lupa daratan” berarti melupakan tempat berpijak. Bayangan yang muncul adalah orang yang berada di laut lepas dan lupa arah ke daratan, sehingga mudah hanyut, tersesat, atau kehilangan pegangan.

Peralihan ke Makna Kiasan

Dalam tradisi Melayu, laut dan daratan bukan sekadar ruang geografis, melainkan juga simbol kehidupan.

Daratan → tempat aman, stabil, dan menjadi pijakan.

Laut → penuh gelombang, menggoda, dan bisa menyesatkan.

Karena itu, orang yang “lupa daratan” diibaratkan sebagai orang yang terlalu terbawa arus kehidupan duniawi, hingga melupakan asal-usul dan jati diri.

Makna dalam Kehidupan Sehari-hari

Secara kiasan, ungkapan “lupa daratan” dipakai untuk menyebut orang yang:

1. Terlalu terbuai kesenangan sehingga lupa pada kewajiban.

2. Sombong karena kekayaan, kedudukan, atau popularitas.

3. Lupa asal-usul, tidak lagi peduli pada keluarga atau lingkungan asalnya.

Contoh pemakaian:

“Sejak kaya mendadak, dia benar-benar lupa daratan.”

“Jangan sampai kita lupa daratan ketika mendapat sedikit keberhasilan.”

Jejak dalam Sastra dan Pepatah Melayu

Ungkapan-ungkapan serupa banyak ditemukan dalam pepatah Melayu yang bernuansa nasihat moral, misalnya:

“Jangan sampai lupa akan pangkal, meski sudah sampai ke ujung.”

“Besar di laut, jangan lupa daratan.”

Pepatah-pepatah ini mengingatkan agar manusia selalu sadar diri dan tidak hilang arah dalam menghadapi godaan hidup.

Ungkapan “lupa daratan” lahir dari pengalaman masyarakat bahari yang akrab dengan laut. Dari makna literal tentang orang yang kehilangan arah di lautan, ungkapan ini kemudian berkembang menjadi simbol orang yang kehilangan kendali karena kesenangan duniawi. Hingga kini, peringatan untuk “jangan lupa daratan” tetap relevan, sebagai pengingat agar manusia selalu rendah hati dan ingat pada pijakan hidupnya.

(Dian Mustapa)

Sumber Informasi

KBBI – “lupa daratan: bertindak tanpa menghiraukan harga diri, melampaui batas.”

Peribahasa Melayu – diartikan sebagai “hilang pertimbangan, lupa diri setelah mendapat kesenangan.”

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....