Risol Mayo: Dari Rissole Prancis hingga Menjadi Jajanan Favorit Indonesia

  • 31 Agt 2026 08:44 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID Mataram - Risol Mayo, kini menjadi salah satu jajanan yang mudah ditemukan di berbagai tempat. Kulitnya tipis dan renyah setelah digoreng, sementara bagian dalamnya biasanya berisi telur, smoked beef atau sosis, serta mayones yang creamy dan gurih. Ketika dibelah, isian mayones yang lumer menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, tahukah bahwa risol mayo sebenarnya merupakan hasil evolusi dari risoles yang memiliki sejarah jauh lebih panjang?

Berawal dari Rissole di Eropa

Dilansir dari.dictionnaire-academie.com Jejak sejarah risoles dapat ditelusuri hingga Eropa, khususnya Prancis. Dalam bahasa Prancis dikenal istilah rissole, yang merujuk pada makanan berupa adonan atau pastry yang membungkus isian kemudian dimasak, biasanya dengan cara digoreng atau dipanggang.

Kamus Akademi Prancis mencatat kata rissole telah dikenal sejak abad ke-12 hingga ke-13. Istilah tersebut berakar dari bahasa Latin russeola, yang berkaitan dengan sesuatu yang berwarna kemerah-merahan.

Pada perkembangannya, rissole dikenal sebagai pastry berisi berbagai macam bahan, termasuk daging, ikan, buah, hingga selai. Catatan sejarah kuliner Prancis menunjukkan bahwa makanan sejenis rissole telah dikenal sejak Abad Pertengahan.

Ketika masuk ke Indonesia, risoles mengalami proses adaptasi. Pengaruh kuliner Eropa, terutama pada masa kolonial, ikut memperkenalkan berbagai jenis pastry kepada masyarakat Nusantara.

Di Indonesia, bentuk dan cara pembuatan risoles kemudian disesuaikan dengan bahan yang lebih mudah ditemukan. Kulit yang digunakan bukan lagi pastry seperti versi Eropa, melainkan lembaran tipis yang dibuat dari adonan tepung, telur, air atau susu.

Isinya pun berkembang. Risoles Indonesia kemudian identik dengan ragout, yaitu campuran sayuran dan daging yang dimasak bersama saus putih atau béchamel. Ada pula versi yang menggunakan ayam, sayuran, keju, hingga berbagai isian lainnya.

Dari sinilah risoles perlahan berubah menjadi salah satu jajanan pasar yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia.

Berbeda dengan sejarah risoles yang memiliki dokumentasi panjang, tidak ada satu catatan sejarah yang benar-benar memastikan siapa pencipta pertama risol mayo atau kapan tepatnya varian tersebut pertama kali dibuat.

Karena itu, risol mayo lebih tepat disebut sebagai inovasi modern terhadap risoles, bukan makanan yang memiliki satu tanggal kelahiran yang pasti.

Risol mayo mengubah konsep isian risoles tradisional. Jika risoles klasik banyak menggunakan ragout sayuran atau daging, risol mayo justru mengandalkan kombinasi telur, smoked beef atau sosis, dan mayones. Perpaduan tersebut menghasilkan rasa gurih, creamy, sedikit asin, dan semakin nikmat ketika bertemu kulit risol yang renyah.

Salah satu sumber kuliner pemerintah juga menggambarkan risol mayo sebagai varian modern risoles dengan isian seperti smoked beef, telur rebus, dan mayones.

Ada alasan sederhana mengapa makanan ini mudah diterima.

Pertama adalah teksturnya. Bagian luar yang renyah bertemu dengan isian lembut dan creamy.

Kedua adalah kombinasi rasa. Gurihnya smoked beef atau sosis berpadu dengan telur yang lembut dan mayones yang memberikan sensasi creamy.

Ketiga adalah kemudahan berinovasi. Risol mayo dapat dikembangkan dengan berbagai tambahan seperti saus pedas, keju, jagung, ayam, daging, hingga sambal.

Menariknya, perjalanan risol mayo memperlihatkan bagaimana makanan dapat berubah mengikuti zaman.

Dari rissole Eropa, kemudian beradaptasi menjadi risoles khas Indonesia, dan akhirnya berkembang menjadi berbagai varian modern seperti risol mayo, makanan ini menunjukkan bahwa kuliner tidak pernah benar-benar berhenti berkembang.

Risol mayo yang terlihat sederhana sebenarnya menyimpan perjalanan panjang. Ada pengaruh kuliner Eropa, proses adaptasi masyarakat Indonesia, pemanfaatan bahan lokal, hingga kreativitas pelaku usaha masa kini.

Dan mungkin, di situlah kekuatan kuliner Indonesia. Makanan tidak harus tetap sama untuk mempertahankan sejarahnya. Ia bisa berubah, berinovasi, dan mengikuti selera zaman—tanpa kehilangan cerita dari mana semuanya bermula.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....