Filosofi Tumpeng, Mengetahui Arti, Bentuk, dan Makna
- 21 Jul 2026 08:23 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Saat kita menghadiri perayaan di Indonesia, seperti syukuran kelahiran, ulang tahun, peresmian gedung, atau beberapa perayaan lainnya, hidangan yang hampir selalu ada adalah nasi tumpeng. Tumpeng bukan hanya makanan pengenyang perut atau hiasan meja semata. Setiap lekuk bentuk, warna, bahkan jenis lauk yang mendampinginya ternyata menyimpan makna tersendiri tentang kehidupan dan spiritualitas manusia.
Tumpeng merupakan nasi kuning berbentuk kerucut yang dikelilingi aneka lauk pauk. Disebutkan dalam Instagram RRI Official, bentuk kerucut ikonik yang dimiliki tumpeng ini meniru bentuk gunung suci yang dalam kepercayaan masyarakat Jawa Kuno dan Hindu Budha dianggap sebagai tempat bersemayamnya dewa atau leluhur. Ketika ajaran Islam masuk ke tanah Jawa, filosofi ini diselaraskan juga yaitu bentuk kerucut tumpeng dimaknai sebagai simbol hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan. Bahkan kata tumpeng sendiri menurut akronim Bahasa Jawa Kuno berasal dari kalimat “yen metu kudu mempeng” yang memiliki arti kalau kita hidup dan melakukan sesuatu kita harus melakukannya dengan sungguh dan penuh semangat.
Sedangkan lauk pauk yang mengelilingi nasi tumpeng, biasanya secara tradisional ada tujuh jenis lauk yang menyertai. Dalam Bahasa Jawa angka tujuh disebut pitu yang dimaknai sebagai pitulungan atau simbol permohonan atau pertolongan kepada yang maha kuasa. Setiap lauk mewakili unsur alam semesta seperti ikan asin atau teri yang melambangkan kehidupan laut dan pentingnya kebersamaan serta kerukunan. Ayam jago yang dimasak utuh melambangkan Upaya manusia untuk menghindari sifat-sifat buruk dan sombong seperti ayam jago. Sementara urap sayuran seperti kangkung, bayam, dan toge, melambangkan kesuburan, pertumbuhan, serta jalinan hubungan sosial yang harmonis antar sesama manusia.
Ada satu fakta penting selama ini kita sering melihat orang memotong tumpeng langsung dari bagian puncaknya, ternyata secara filosofis cara itu justru keliru. Memotong tumpeng langsung dari atas dipercaya memutus hubungan manusia dengan sang pencipta dan melambangkan kerakusan. Cara yang dipercaya benar dan sarat filosofi adalah dengan menyendok nasi dan lauknya dari bagian bawah atau dasarnya secara horizontal terlebih dahulu. Hal ini melambangkan rasa syukur yang dinikmati bersama-sama dan cerminan bahwa segala sesuatu di dunia ini harus dimulai dari bawah menuju puncak keberhasilan.
Seiring berjalannya waktu, nasi tumpeng kini telah bertransformasi menjadi simbol persatuan dan kebersamaan masyakarat Indonesia tanpa memandang latar belakang budaya. Sebuah warisan kuliner yang mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, rendah hati, dan hidup berdampingan secara harmonis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....