Leker Jajanan Legendaris Solo Renyah Manis Tetap Digemari hingga Kini
- 21 Jul 2026 08:23 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Leker merupakan jajanan tradisional bertekstur tipis dan renyah dengan beragam isian manis.
- Nama leker berasal dari kata Belanda lekker yang berarti "lezat", kemudian berkembang menjadi ikon kuliner Solo.
- Hingga kini, leker tetap diminati berkat cita rasa klasik, harga terjangkau, dan berbagai inovasi isian.
RRI.CO.ID, Mataram - Leker merupakan jajanan tradisional berbentuk tipis, renyah, dan dilipat menyerupai setengah lingkaran setelah diberi isian. Camilan ini dibuat dari adonan tepung terigu, telur, gula, susu, dan margarin yang dipanggang di atas cetakan besi bundar hingga menghasilkan tekstur garing di bagian luar. Isian leker pun beragam, mulai dari meses cokelat, pisang, keju, kacang, hingga cokelat dan susu, sehingga menghasilkan perpaduan rasa manis dengan tekstur renyah yang menjadi ciri khasnya.
Menurut Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, jajanan tradisional seperti leker menjadi bagian dari kekayaan kuliner Nusantara yang terus dilestarikan melalui wisata gastronomi. Leker menjadi salah satu jajanan yang sangat identik dengan Kota Solo, Jawa Tengah. Meski kini mudah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia, Solo dikenal sebagai kota yang turut memopulerkan camilan ini.
Berdasarkan informasi RRI Surakarta dan Pemerintah Kota Surakarta, leker telah menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat Solo selama puluhan tahun dan masih banyak dijumpai di pasar tradisional, kawasan sekolah, maupun sentra kuliner.
Nama "leker" dipercaya berasal dari kata lekker dalam bahasa Belanda yang berarti "lezat" atau "enak". Seiring berjalannya waktu, masyarakat kemudian mengadaptasi hidangan bergaya panekuk tersebut menjadi jajanan dengan ciri khas kulit yang lebih tipis, renyah, dan sesuai dengan cita rasa lokal.
Hingga kini belum ada catatan sejarah yang memastikan siapa pencipta pertama leker. Namun, berbagai referensi kuliner menyebutkan bahwa jajanan ini berkembang dan semakin populer di Solo sejak sekitar tahun 1970-an. Popularitasnya terus bertahan karena rasanya yang sederhana, harganya terjangkau, serta mudah dinikmati oleh semua kalangan.
Leker masih dibuat menggunakan cetakan tungku tanah liat dengan kayu bakar dan ada juga yang menggunakan besi yang dipanaskan di atas kompor. Setelah adonan menyebar tipis, penjual menambahkan potongan pisang, cokelat leleh, dan taburan meses sebelum melipatnya. Cara memasak sederhana tersebut menghasilkan kulit yang renyah dengan isian yang lembut dan manis, menciptakan perpaduan rasa yang tetap disukai hingga sekarang.
Seiring perkembangan zaman, leker juga mengalami banyak inovasi. Jika dahulu hanya berisi gula pasir, pisang, atau meses, kini tersedia berbagai pilihan isian seperti keju, kacang, selai, cokelat premium, hingga aneka topping modern. Meski demikian, varian klasik tetap menjadi favorit karena mampu menghadirkan nostalgia masa kecil bagi banyak orang.
Keberadaan leker membuktikan bahwa kuliner tradisional tetap mampu bertahan di tengah maraknya makanan modern. Selain menjadi camilan yang lezat, leker juga mencerminkan kreativitas masyarakat dalam mengadaptasi pengaruh budaya asing menjadi kuliner yang memiliki identitas khas Indonesia. Tak heran jika jajanan sederhana ini masih menjadi salah satu kuliner legendaris yang wajib dicoba.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....