Buaq Rae, Camilan Jadul yang Kini Kian Sulit Ditemui
- 13 Apr 2026 09:08 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Camilan tradisional buaq rae memantik nostalgia di kalangan masyarakat. Jajanan lawas ini kini tergolong langka, sehingga tak heran banyak yang antusias ketika menemukannya.
Hal tersebut terlihat dari unggahan media sosial yang menyebut buaq rae sebagai camilan legendaris. Salah satu warganet, Fitrya Dzkiya, mengaku pertama kali mencicipi buah tersebut saat masih duduk di bangku MTs sekitar tahun 1999. Ia bahkan berkelakar bahwa untuk menikmati buaq rae, diperlukan alat seperti palu atau benda keras lainnya karena teksturnya yang cukup keras.
Minimnya informasi tentang buaq rae juga dirasakan masyarakat. Baiq Hartini mengungkapkan bahwa buah tersebut merupakan favoritnya sejak kecil, namun ia menilai ada perbedaan antara buaq rae dahulu dan sekarang. Menurutnya, buah rae saat ini cenderung lebih keras, dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan yang dulu.
“Dulu ukurannya lebih besar dan rasanya lebih enak,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa bentuk buah ini sering disalahartikan sebagai biji asam jawa karena kemiripannya.
Sementara itu, warga lain, Bu Mar, sembari menunjukkan bungkusan kecil seharga Rp.1000, “ Orang tua dulu menyebut buaq rae dengan nama buah pohon loam”. Dari penuturan tersebut, diketahui bahwa buaq rae berasal dari pohon loa dengan nama ilmiah Ficus racemosa.

Dari berbagai sumber, pohon loa diketahui memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Buahnya mengandung antioksidan yang tinggi, serta memiliki sifat antibakteri dan antiinflamasi. Kandungan ini bermanfaat untuk menjaga kesehatan pencernaan, membantu mengontrol kadar kolesterol, hingga melindungi kesehatan jantung.
Selain itu, buah loa juga secara tradisional digunakan untuk membantu proses penyembuhan luka dan berpotensi sebagai antidiabetik. Buah yang masih muda biasanya diolah sebagai sayuran, sedangkan yang matang dapat dikonsumsi langsung dengan rasa manis cenderung hambar.
Tidak hanya buahnya, bagian lain dari pohon loa seperti daun dan kulit batang juga kerap dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional. Bahkan, akarnya memiliki fungsi ekologis untuk membantu menjaga kestabilan tanah, terutama di lahan kering.
Sayangnya, keberadaan pohon loa kini semakin jarang ditemukan. Minimnya nilai ekonomi membuat pohon ini kerap ditebang dan dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Padahal, tanaman ini memiliki potensi besar sebagai tanaman penghijauan, khususnya di wilayah dengan kondisi tanah kritis.
Dengan berbagai manfaat yang dimilikinya, buaq rae tidak hanya sekadar camilan tradisional, tetapi juga bagian dari kekayaan hayati yang perlu dilestarikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....