Mengapa Nastar Selalu Jadi "Primadona" Idul Fitri?

  • 20 Mar 2026 02:24 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Setiap kali Lebaran tiba, meja tamu di rumah-rumah Indonesia seolah berubah menjadi panggung bagi berbagai macam kue kering. Namun, dari sekian banyak pilihan, Nastar tetap menjadi bintang utama yang tak tergoyahkan. Fenomena ini ternyata bukan cuma soal selera, tapi ada sejarah panjang dan makna mendalam di baliknya.

1. Warisan Budaya Belanda yang Berakulturasi

Asal-usul nastar sebenarnya berasal dari pengaruh kuliner Belanda. Nama "Nastar" merupakan singkatan dari bahasa Belanda Ananas (nanas) dan Taartjes (tart). Dulu, orang-orang Belanda di Indonesia ingin membuat kue pai atau tart buah seperti di Eropa.

Karena buah-buahan seperti stroberi atau blueberry sulit didapat di iklim tropis saat itu, mereka memutar otak dan menggantinya dengan nanas. Sejarah kuliner ini menunjukkan bagaimana kreativitas lokal mengubah resep Barat menjadi identitas baru bagi masyarakat Indonesia.

2. Simbol Kemakmuran "Ong Lai"

Bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Asia Tenggara, nanas memiliki arti filosofis yang kuat. Dalam dialek Hokkien, nanas disebut Ong Lai yang secara harfiah berarti "kemakmuran datang". Warna kuning keemasannya juga melambangkan rezeki dan keberuntungan.

Filosofi nanas inilah yang kemudian terserap ke dalam tradisi perayaan hari besar di Indonesia, termasuk Idul Fitri, sebagai simbol harapan agar keluarga yang merayakan mendapatkan berkah berlimpah.

3. Tekstur yang Memanjakan Lidah

Secara teknis, nastar disukai karena profil rasanya yang sangat seimbang. Mengutip ulasan dari Fatmah Bahalwan, pakar kuliner dari Natural Cooking Club, kunci kelezatan nastar terletak pada kualitas mentega dan teknik memanggang agar kulitnya crumbly (renyah namun lumer) saat digigit. Perpaduan adonan yang gurih dengan selai nanas yang asam-manis menciptakan sensasi "nagih" yang jarang ditemukan pada kue kering lainnya.

4. Tradisi Pembuatan yang Erat dengan Kebersamaan

Nastar bukan kue yang bisa dibuat dalam waktu singkat. Proses memasak selai nanas hingga kering membutuhkan waktu berjam-jam, belum lagi proses membulatkan adonan satu per satu. Kesibukan inilah yang membangun tradisi kebersamaan di rumah. Aroma harum panggangan nastar yang memenuhi ruangan menjadi "tanda" bahwa Lebaran sudah di depan mata, menciptakan ikatan emosional yang kuat bagi siapa pun yang menciumnya.

Kesimpulan

Nastar adalah simbol harmonis antara sejarah kolonial, filosofi Tionghoa, dan kehangatan tradisi lokal. Itulah mengapa, seberapa banyak pun muncul tren kue baru, nastar akan selalu punya tempat khusus di hati (dan toples) kita.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....