Perkedel Kentang, Warisan Nusantara Bergizi dan Bermanfaat

  • 26 Nov 2025 11:00 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Sejak dahulu, Perkedel kentang sudah dikenal luas di Indonesia sebagai lauk atau camilan sederhana yang banyak digemari kalangan. Namun bukan berarti namanya merupakan akronim dari “persatuan kentang dan telur”. Faktanya, dilansir kajian Museum Ullen Sentalu, istilah “perkedel” berasal dari adaptasi nama Belanda yakni frikadel yang dibawa ke Hindia Belanda pada masa zaman kolonial. Di Belanda, frikadel awalnya dibuat dari daging cincang, telur, dan rempah, lalu digoreng. Namun karena daging kala itu mahal dan sulit dijangkau penduduk lokal mengganti daging dengan kentang yang akhirnya terciptalah versi lokal yang sederhana dan terjangkau bernama perkedel kentang.

Dari segi gizi, perkedel kentang ternyata menawarkan sejumlah nutrisi penting tergantung jumlah porsi dan cara memasaknya. Menurut data FatSecret, satu potong perkedel kentang mengandung sekitar 21 kilokalori, dengan komposisi 1,12 gram lemak, 2,48 gram karbohidrat, 0,46 gram protein, sekitar 0,2 gram serat, serta sejumlah mineral dan gula dalam jumlah kecil. Data tersebut menunjukkan bahwa perkedel kentang bisa menjadi pilihan camilan “ringan” tergantung porsinya, meskipun tidak bisa menggantikan makanan pokok sebagai sumber protein utama.

Manfaat mengonsumsi perkedel kentang cukup beragam, berdasarkan laman IAIN Bukittinggi tentang manfaat perkedel kentang, diketahui perkedel dapat membantu meningkatkan fungsi otak, menjadi sumber energi yang mudah diserap, serta mendukung kesehatan tubuh secara umum mulai dari gula darah dan daya tahan berkat kandungan vitamin dan mineralnya. Selain itu, karena kentang adalah makanan yang relatif mudah dicerna, perkedel bisa menjadi alternatif lauk ringan namun tetap bernutrisi.

Meski bermanfaat, cara mengolah perkedel kentang sangat mempengaruhi nilai gizinya. Menggoreng dengan banyak minyak dapat meningkatkan kandungan lemak dan kalori, sehingga manfaat positif seperti energi dari karbohidrat bisa berkurang. Untuk pilihan yang lebih sehat, penggunaan metode memasak yang lebih ringan atau mengatur porsi konsumsi dapat membantu agar perkedel tetap menjadi bagian dari pola makan yang seimbang.

Dengan demikian, perkedel kentang bukan hanya makanan warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi jika diolah dan dikonsumsi secara proporsional. Hidangan yang berakar dari kuliner kolonial ini telah beradaptasi menjadi sajian lokal yang akrab di meja keluarga Indonesia dan tetap relevan hingga kini berkat nilai gizi serta manfaatnya. (RRI/Aldi W.)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....