Poteng Jaje Tujak: Warisan Kuliner Lombok Tetap Hits

  • 30 Okt 2025 09:04 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Poteng Jaje Tujak adalah salah satu kue tradisional khas Lombok yang selama ini identik dengan perayaan Lebaran. Dilansir dari Warta NTB, kata “jaje” berarti kue atau jajanan, sedangkan “tujak” merujuk pada bentuk atau cara penyajiannya yang biasanya berupa potongan kecil yang disusun rapi di atas daun pisang atau nampan. Lebih dari sekadar camilan, Poteng Jaje Tujak menyimpan makna budaya dan filosofi yang mendalam bagi masyarakat Lombok.

Dikutip dari Media Nusantara, secara tradisional, kue ini memiliki filosofi yang kaya. Susunan potongan-potongan jaje tujak yang rapi melambangkan keharmonisan dan keteraturan hidup bermasyarakat, sementara variasi warna dan rasa pada kue tersebut mencerminkan keragaman yang tetap bersatu dalam satu kesatuan. Filosofi ini menjadi pengingat bagi masyarakat Lombok bahwa meski berbeda, persatuan dan kerukunan tetap menjadi nilai utama yang dijunjung tinggi.

Poteng Jaje Tujak biasanya hadir saat Lebaran sebagai simbol silaturahmi dan rasa syukur. Menyajikan kue ini di meja saat Idul Fitri dianggap bukan hanya mempercantik tampilan hidangan, tetapi juga sebagai doa agar keluarga tetap rukun, hidup berkecukupan, dan rezeki selalu melimpah. Proses pembuatannya juga mencerminkan ketelitian dan kesabaran, dimulai dari pemilihan bahan alami seperti beras ketan, kelapa parut, dan gula merah hingga pewarnaan alami serta penataan potongan kue agar terlihat menarik (Lombok Post).

Kini Poteng Jaje Tujak tidak lagi hanya muncul di momen Lebaran. Berbagai pedagang dan toko kue di Lombok mulai menjualnya sepanjang tahun. Hal ini memungkinkan masyarakat lokal maupun wisatawan untuk menikmati kue tradisional ini kapan saja, sekaligus menjaga kelestarian kuliner Lombok agar tetap relevan dengan kebutuhan modern. Adaptasi ini membuktikan bahwa warisan budaya tidak harus hilang, melainkan bisa hidup bersamaan dengan perkembangan zaman.

Poteng Jaje Tujak menjadi bukti bahwa kuliner tradisional dapat bertahan dan terus relevan. Masyarakat Lombok, baik lokal maupun generasi muda, diharapkan tetap menghargai dan mencintai warisan ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....