Fenomena Pinjol di Indonesia: Budaya Instan dan Tantangan Literasi Keuangan
- 31 Agt 2023 18:33 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Fenomena pinjaman online (Pinjol) di Indonesia menjadi sorotan yang menarik. Fenomena ini telah mencapai tingkat yang luar biasa, dengan sekitar 1,7 triliun rupiah merupakan jumlah hutang orang di Indonesia yang terjerat dalam pinjaman online.
Nurliya Ni'matul Rohmah, Dosen Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Mataram memandang ini sebagai akibat dari kemudahan persyaratan, seperti hanya memerlukan KTP dan KK, serta promosi agresif.
Menurutnya pinjol telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Iklan-iklan Pinjol muncul di setiap sudut, bahkan selalu menghiasi platform seperti game dan YouTube. Kesenangan akan konsumsi dan keinginan untuk menjadi produktif menjadikan masyarakat terpikat pada kemudahan ini. Semua ini menghasilkan fenomena yang tak terelakkan.
"Iklannya itu juga luar biasa, iklan pinjol itu setiap game pasti muncul setiap nonton youtube pasti muncul, jadi memang luar biasa gitu, orang-orang yang pingin konsumsif dan juga produktif yang membuat mereka akhirnya memilih sesuatu yang instan kayak gitu," ujar Nurliya dalam wawancara dengan RRI, Kamis (31/8/2023).
Lebih lanjut Nurliya memandang fenomena ini, tidak terlepas dari literasi keuangan di Indonesia masih belum merata. Upaya meningkatkan literasi ini seharusnya juga diikuti dengan literasi digital yang digalakkan oleh pemerintah. Ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi sering kali muncul, dan melihat gaya hidup glamor di media sosial turut memicu rasa iri. Kecenderungan ini memengaruhi masyarakat, terutama generasi muda, yang mencari solusi instan.
"Inilah yang kemudian mendorong mereka untuk mencari pinjaman instan seperti Pinjol," ungkapnya.
Lebih lanjut Nurliya melihat bahwa ada konsekuensi serius dari ketergantungan pada Pinjol. Rendahnya gaji bagi dosen dan guru di Indonesia telah menjadi perdebatan lama. Walau memiliki nilai lebih dalam hal pendidikan, namun gaji mereka jauh lebih rendah. Ini mengindikasikan bahwa pekerjaan di sektor pendidikan masih kurang dihargai, padahal kebutuhan hidup semakin meningkat.
Masalah finansial bukan hanya masalah pendidikan, melainkan juga kebutuhan dasar manusia. Dalam keadaan ini, beberapa orang akhirnya menjalankan pinjaman online untuk mengatasi masalah keuangan.
"Dosen, guru di Indonesia itu masih kurang dihargai jadi masih sangat rendah. kemudian kebutuhan hidup juga luar biasa banyak," tambah Nurliya.
Menyikapi orang yang terjerat dalam lingkaran Pinjol menurutnya juga adalah tugas yang sulit. Banyak dari mereka terperangkap begitu dalam sehingga membutuhkan pengorbanan besar untuk membantu mereka keluar. Proses ini bukanlah hal mudah, karena orang yang sudah terjerat biasanya terjebak dalam lingkaran pinjaman yang semakin membesar. Bunga pinjaman yang tinggi membuat mereka harus membayar lebih banyak dari yang dipinjam, hingga terperangkap dalam utang yang menggunung.
Namun menurut Nurliya, yang lebih mengkhawatirkan adalah eksposur data pribadi. Bukan hanya KTP yang terancam, tetapi juga data pribadi lainnya seperti kontak WhatsApp. Informasi kontak dan identitas pribadi bisa diakses oleh para peminjam online ilegal. Mereka dapat mengeksploitasi data ini untuk menghubungi dan meneror tidak hanya peminjam, tetapi juga keluarga dan kenalan mereka.
Dalam kesimpulannya, fenomena Pinjol di Indonesia menggambarkan budaya instan dan kelemahan literasi keuangan yang perlu mendapatkan perhatian serius. Ketergantungan pada pinjaman instan semacam ini menciptakan lingkaran setan dari utang yang semakin besar, sementara rendahnya gaji di sektor pendidikan dan kurangnya literasi keuangan memperumit situasi. Pendidikan finansial dan literasi digital menjadi penting dalam membantu masyarakat memahami implikasi dari tindakan mereka, serta melindungi diri dari ancaman terkait data.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....