Kasus HIV/AIDS di NTB Masih Jadi Fenomena Gunung Es
- 05 Sep 2026 16:21 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Penyebaran HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) di Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Selain jumlah kasus yang terus ditemukan, keterlibatan kelompok usia muda dalam kasus HIV/AIDS dinilai cukup mengkhawatirkan sehingga memerlukan upaya pencegahan yang lebih masif.
Hal itu mengemuka dalam Dialog Khusus RRI Mataram bertajuk “Cegah HIV/AIDS, Lindungi Generasi Muda NTB” yang digelar Kamis, 3 September 2026. Dialog menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB Dr. dr. H. L. Hamzi Fikri, MM., MARS, Konselor RSUD Provinsi NTB Nurhayati, S.Keb., Bd, serta Pengelola Program HIV Dinas Kesehatan Provinsi NTB Dodi Kristianto.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Hamzi Fikri, mengatakan masyarakat perlu memahami perbedaan antara HIV, AIDS, dan IMS agar tidak salah persepsi. Menurutnya, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sedangkan AIDS adalah kondisi lanjutan akibat infeksi HIV yang tidak ditangani dengan baik.
“HIV adalah virusnya, sedangkan AIDS merupakan kondisi atau kumpulan gejala yang muncul ketika infeksi HIV sudah berada pada tahap lanjut dan menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh secara berat,” jelas Hamzi.
Ia menegaskan bahwa HIV bukan lagi vonis kematian seperti anggapan masyarakat selama ini. Dengan pengobatan yang rutin dan teratur, orang dengan HIV dapat menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang baik.
Dalam kesempatan tersebut, Hamzi mengungkapkan bahwa jumlah kasus HIV/AIDS yang tercatat di NTB sejak pertama kali ditemukan telah mencapai lebih dari 4.000 kasus. Namun angka tersebut diyakini belum menggambarkan kondisi sebenarnya karena masih banyak kasus yang belum terdeteksi.
“Kasus HIV/AIDS di NTB ibarat fenomena gunung es. Yang terlihat mungkin sedikit, tetapi diperkirakan masih banyak yang belum ditemukan karena belum melakukan pemeriksaan,” ujarnya.
Selain HIV/AIDS, masyarakat juga diminta mewaspadai Infeksi Menular Seksual (IMS). Menurut Hamzi, IMS merupakan berbagai jenis infeksi yang ditularkan melalui aktivitas seksual yang tidak sehat dan dapat meningkatkan risiko penularan HIV apabila tidak ditangani dengan baik.
Sementara itu, Pengelola Program HIV Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Dodi Kristianto, menjelaskan bahwa HIV menyerang sistem kekebalan tubuh secara bertahap. Jika penderita tidak mendapatkan pengobatan, virus akan terus berkembang hingga memicu munculnya AIDS.
Karena itu, Dodi mendorong setiap orang yang terdiagnosis HIV untuk segera mengakses layanan kesehatan dan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) secara rutin. Pengobatan tersebut berfungsi menekan jumlah virus dalam tubuh sehingga risiko penularan dapat diminimalkan.
“Dengan kepatuhan minum obat ARV, jumlah virus dapat ditekan sehingga tidak berkembang dan tidak mudah menular. Pasien juga akan dipantau secara berkala untuk memastikan pengobatan berjalan optimal,” katanya.
Hamzi menambahkan, seseorang yang terinfeksi HIV tidak serta-merta langsung mengalami AIDS. Proses perkembangan penyakit dapat berlangsung bertahun-tahun tergantung kondisi tubuh dan seberapa cepat penderita mendapatkan diagnosis serta pengobatan.
Gejala yang sering muncul pada tahap lanjut antara lain batuk berkepanjangan, diare yang tidak kunjung sembuh, penurunan berat badan drastis, dan berbagai infeksi lain akibat menurunnya daya tahan tubuh.
Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah perkembangan penyakit. Semakin cepat seseorang memeriksakan diri dan mendapatkan terapi ARV, semakin besar peluang untuk mengendalikan virus dan mempertahankan kualitas hidup.
Di sisi lain, Konselor RSUD Provinsi NTB, Nurhayati, menjelaskan bahwa rumah sakit rujukan tersebut menyediakan layanan pemeriksaan HIV secara sukarela maupun atas inisiatif tenaga kesehatan.
Menurutnya, layanan sukarela atau Provider Initiated Counseling and Testing memungkinkan masyarakat datang sendiri untuk berkonsultasi dan melakukan tes HIV hanya dengan membawa identitas diri (KTP). Sementara pemeriksaan atas inisiatif tenaga kesehatan dilakukan ketika dokter, perawat, atau bidan menemukan gejala yang mengarah pada infeksi HIV.
“Jika ditemukan pasien dengan faktor risiko atau gejala yang mengarah ke HIV, tenaga kesehatan dapat menawarkan pemeriksaan. Apabila hasilnya positif, maka pasangan atau anggota keluarga yang berisiko juga akan dilakukan konseling dan pemeriksaan,” jelas Nurhayati.
Melalui dialog yang diselenggarakan RRI Mataram tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi NTB mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meningkatkan pemahaman mengenai HIV/AIDS, menghindari perilaku seksual berisiko, serta tidak ragu melakukan pemeriksaan kesehatan secara dini.
Edukasi yang tepat, deteksi dini, dan kepatuhan menjalani pengobatan dinilai menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran HIV/AIDS sekaligus melindungi generasi muda NTB dari ancaman penyakit tersebut. (Joe)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....