Dinkes Lombok Tengah, Catat 22 Kasus Baru HIV hingga Pertengahan Juni 2026

  • 09 Jul 2026 07:33 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah mencatat 22 kasus baru HIV selama periode Januari hingga pertengahan Juni 2026. Jumlah tersebut dinilai meningkat dibandingkan tren pada semester pertama dalam tiga tahun terakhir.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Kesehatan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Putrawangsa, mengatakan kasus-kasus baru tersebut ditemukan di sejumlah wilayah kerja puskesmas di Lombok Tengah.

"Kasus baru HIV sampai pertengahan Juni 2026 sebanyak 22 orang. Sebarannya ada di beberapa puskesmas, rata-rata masing-masing ditemukan satu hingga dua kasus," katanya belum lama ini.

Putrawangsa menjelaskan, secara kumulatif sejak 2003 hingga pertengahan 2026, jumlah kasus HIV yang tercatat di Lombok Tengah mencapai 564 kasus. Dari jumlah itu, 211 orang masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV), sementara sisanya merupakan pasien yang telah meninggal dunia atau hilang kontak.

Ia menjelaskan, pasien yang hilang kontak adalah mereka yang tidak lagi datang mengambil obat sehingga keberadaannya tidak dapat dipantau oleh petugas kesehatan. Padahal, pengobatan HIV harus dijalani secara rutin seumur hidup agar kondisi kesehatan tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan.

Dari 22 kasus baru yang ditemukan tahun ini, jumlah penderita laki-laki dan perempuan sama banyak, masing-masing 11 orang. Mayoritas merupakan kelompok usia produktif, yakni 22 hingga 40 tahun, dan sebagian besar masih dapat beraktivitas seperti biasa karena mendapatkan penanganan sejak dini.

Menurut Putrawangsa, temuan 22 kasus pada semester pertama 2026 tergolong cukup tinggi. Sebab, dalam tiga tahun terakhir, jumlah kasus baru pada periode yang sama umumnya hanya berkisar 15 hingga 17 kasus.

"Kalau melihat tren tiga tahun terakhir, semester pertama biasanya masih belasan kasus. Tahun ini sudah mencapai 22 kasus, sehingga angkanya memang lebih tinggi," ujarnya.

Ia menambahkan, penularan HIV saat ini didominasi oleh hubungan seksual berisiko. Sementara penularan melalui penggunaan jarum suntik kini semakin jarang terjadi karena alat suntik sekali pakai telah menjadi standar dalam pelayanan kesehatan.

"Kita terus memperkuat upaya edukasi kepada masyarakat mengenai pencegahan HIV, pentingnya menerapkan perilaku seksual yang aman, serta mengajak kelompok yang berisiko untuk melakukan tes HIV sejak dini agar pengobatan dapat segera diberikan dan penularan bisa dicegah," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....