Kendalikan Nyamuk DBDB Dengan Predator Alami

  • 01 Jul 2026 15:52 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Memasuki musim pancaroba yang kini melanda sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Kabupaten Dompu sendiri memiliki sejarah panjang serangan DBD yang cukup tinggi. Bahkan pada tahun 2005 lalu, daerah ini sempat ditetapkan sebagai wilayah dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD.

Meski dalam lima tahun terakhir angka kasus cenderung melandai, status KLB tersebut hingga kini belum dicabut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Maria Ulfa, menjelaskan bahwa salah satu alasan status KLB belum dicabut adalah karena angka Incidence Rate (IR) DBD masih berada di atas 14 per 100 ribu penduduk.

“Secara kasus memang sudah menurun, tetapi indikator IR masih menjadi dasar status KLB itu belum dicabut,” jelasnya.

Maria mengungkapkan, pola penyebaran DBD di Dompu kini juga mengalami pergeseran. Jika sebelumnya serangan banyak terjadi di wilayah endemis lama, kini justru muncul di daerah-daerah baru.

Wilayah endemis lama seperti Kelurahan Bali Satu dan Karijawa di Kecamatan Dompu, Kelurahan Simpasai di Kecamatan Woja, serta Desa Jala di Kecamatan Hu’u, dalam lima tahun terakhir tercatat nol kasus.

Sebaliknya, wilayah baru seperti Kecamatan Kilo, sebagian wilayah Woja di luar Kelurahan Simpasai, serta Kelurahan Dorotangga di Kecamatan Dompu justru menjadi daerah dengan angka serangan tertinggi sepanjang tahun 2025 lalu.

“Ini menunjukkan adanya perubahan pola penyebaran. Daerah yang dulu endemis sekarang sudah terkendali, tapi muncul titik-titik baru yang harus diwaspadai,” katanya.

Sementara itu, Kecamatan Pekat yang selama puluhan tahun dikenal sebagai daerah endemis malaria, dalam sepuluh tahun terakhir justru berhasil mencatat nol kasus.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu model penanganan yang kini ingin diterapkan untuk pengendalian DBD.

Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu kini mulai menjalin koordinasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan untuk mengadopsi metode pengendalian alami, seperti yang berhasil diterapkan dalam penanganan malaria dan DBD tahun 2005 – 2007.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menebar ikan air tawar di lagon-lagon maupun genangan air milik warga.

Pemanfaatan ikan tersebut dinilai efektif sebagai pengendali alami jentik nyamuk Aedes aegypti, tanpa harus bergantung pada fogging maupun penggunaan bahan kimia.

“Ini menjadi salah satu solusi jangka panjang yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Maria.

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada selama musim pancaroba, terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....