Berhenti Merokok Butuh Proses dan Dukungan Lingkungan Sekitar

  • 29 Mei 2026 07:38 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Berhenti merokok sering dianggap sulit dilakukan karena tubuh sudah terbiasa menerima nikotin setiap hari. Hal tersebut dibahas dalam talkshow Spada “Selamat Pagi Teman Pro 2” RRI Mataram bersama dr. Sahrun, Sp.P, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Menurut dr. Sahrun, nikotin dalam rokok bekerja dengan merangsang produksi dopamin di otak sehingga menimbulkan sensasi tenang dan nyaman. Ketika seseorang tiba-tiba berhenti merokok, kadar dopamin bisa turun drastis dan memicu stres, gelisah, hingga frustrasi. Karena itu, proses berhenti merokok sebaiknya dilakukan secara bertahap.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berhenti merokok memberikan banyak manfaat bagi tubuh, mulai dari memperbaiki fungsi paru-paru, menurunkan risiko penyakit jantung, hingga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Dr. Sahrun menyarankan beberapa cara sederhana untuk mulai mengurangi kebiasaan merokok, seperti mengurangi jumlah batang rokok per hari. Jika biasanya menghabiskan satu bungkus dalam sehari, jumlahnya bisa dikurangi menjadi setengah bungkus atau lebih sedikit secara bertahap.

Ada juga metode selang-seling seperti teknik 1-1, yaitu satu hari merokok dan satu hari tidak merokok. Selain itu, teknik 2-1-1 juga bisa dilakukan untuk membantu tubuh beradaptasi mengurangi konsumsi nikotin.

Ia menilai lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan berhenti merokok. Jika seseorang masih berada di lingkungan perokok aktif, proses berhenti biasanya akan lebih sulit. Karena itu, dukungan keluarga dan teman sangat penting agar seseorang tetap konsisten menjalani proses berhenti merokok.

Dr. Sahrun juga menyinggung kebiasaan kopi dan rokok yang sering dikonsumsi bersamaan. Kandungan nikotin dan kafein dapat bekerja seperti booster yang meningkatkan rasa nyaman akibat lonjakan dopamin. Untuk mengurangi ketergantungan, ia menyarankan agar konsumsi kopi dan rokok tidak dilakukan bersamaan.

Menariknya, menurut dr. Sahrun, banyak orang sebenarnya mampu berhenti merokok sementara saat menjalani puasa. Hal itu menunjukkan bahwa tubuh memiliki kemampuan mengendalikan keinginan merokok jika disertai niat dan tekad yang kuat.

Di akhir talkshow, dr. Sahrun berpesan bahwa berhenti merokok memang membutuhkan proses, tetapi bukan hal yang mustahil dilakukan.

“Hidup akan lebih bahagia jika bisa menikmati masa tua tanpa rokok dan tetap sehat bersama orang-orang terdekat,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....