Waspadai Anxiety pada Remaja dan Anak

  • 29 Mei 2026 09:55 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Semakin moderen zaman semakin banyak masyarakat yang mengalami kondisi kecemasan berlebih atau lebih di kenal dengan Anxiety. Dalam obrolan Berugak Kita yang di siarkan melalui FM 103,4 MHz Pro 4 RRI Mataram, mengundang Dokter Spesialis Kejiwaan, Rumah Sakit Mutiara Sukma yang mengangkat topik ini sebagai salah satu bahasan kesehatan yang perlu di ketauhi masyarakat. Sebagai narasumber, dr Sindi Santika,Sp.Kj membahas topik tentang " Anxiety pada anak dan remaja ". Topik ini cukup menarik mengingat banyak orang tua atau pasien yang datang ke Rumah Sakit Mutiara Sukma untuk berkonsultasi mengenai gejala kecemasan berlebih yang di rasakan anak -anak mereka, " Belakangan ini Kasus Anxiety anak dan remaja terpantau cukup tinggi , di konsulkan karena cemas alasan nya banyak hal bisa jadi karena takut ke sekolah, takut di tinggal ketika sekolah, takut meninggalkan rumah, banyak alasan lain juga " ungkapnya.

Kondisi Anxiety sendiri menurut, dr Sindi adalah kondisi kecemasan berlebih dalam waktu lama yang akhirnya akan menganggu aktivitas normal si pasien. Dampak yang lebih besar bagi si pederita seperti anak-anak atau remaja adalah munculnya sensasi-sensasi yang menimbulkan rasa tidak nyaman dan hal ini berasal dari system syaraf pada tubuh yang merespon kondisi kecemasan yang di rasakan " Respon stres tidak hanya secara fisiik seperti deman , stres secara mental juga terjadi sehingga menbangunkan system sayarat dalam tubuh, dan pada saat cemas hormaon kortisol kita bereaksi dalam tubuh kita ,sehingga ada sensasi seperti jantung berdebar, nyeri ulu hati tanpa sebab, kertencing- atau sering kencing, gemetaran atau berkeringan berlebihan sampai sensasi se[erti tercekik " jelasnya.

Rasa cemas memang wajar di alami namun ada perbedaan yang terlihat dengan rasa cemas yang berujung pada Anxiety disorder, dr. Sindi menjelaskan bahwa kondisi tubuh yang cemas adalah hal yang wajar namun jika perasaan cemas yang di rasakan menetap dan intensitas nya terus meningkat dalam kurun waktu yang tidak sebentar, maka ia menyarankan untuk segera memeriksakan diri atau berkonsu;ltasi untuk memahami lebih jauh rasa cemas yang di rasakan " perbedaan ketika cemas yang biasa dengan cemas nya menetap apalagi intentitasnya tinggi misanya dari pagi sampe malam, atau tidak bisa tidur karena kecemasan yang akhirnya menimbulka gangguna pada aktivitas nya seperti sekolah atau bekerja atau keluar rumah merasa takut bisa di katakan itu adalah gangguan yang perlu di terapi dan konsultasi kebih lanjut" ungkapnya.

Pada anak -anak dan remaja terdapat alasan mengapa mereka jauh lebih rentan, dalam obrolan berugak kita terkait topik " Anxiety pada anak dan remaja " di jelaskan bahwa perbedaan kecemasan orang dewasa dan anak-anak atau remaja tedapat pada kondisi biologis, sosial dan lingunagn seperti yang di jelaskan oleh dr. Sindi bahwa secara biologis adalah bawaan anak atau remaja sejak lahir dimana si anaka atau remaja tersebut membawa kondisi hipersensitif yang memungkinkan berkembang menjadi rasa cemas berlebih dalam kondisi lingkungan tertentu. Untuk faktor sosial, anak-anak dan remaja memiliki lingkungan bermain, sekolah atau beraktivitas lainnya dengan teman sebaya dan dalam lingkungan tersebut terdapat pengaruh pergaulan yang bisa memicu kondisi cemas yang di rasakan si anak atau remaja tersebut. Untuk alasan selanjunya adalah kondisi takut terhadap hal tertentu , kondisi ini adalah dimana anak takut terhadap sesuatu yang berakibat terjadinyakecemasan berlebihan pada anak dan remaja.

Kondisi cemas berlebih yang menimbulkan gangguan atau Anviety ini jika tidak segera di konsultasikan akan berdampak cukup besar seprti yang di jelaskan oleh dr.Sindi, ada beberapa dampak yang terjadi jika rasa cemas berlebih terjadi pada anak atau remaja saat ini :

  • Dampak emosional : ketakutan berlebihan, mudah panik ,sulit merasa tenag, overtingking, sampai tidak mau di kritik , jadi mudah tersinggung dan akhirnya menarik diri dari lingkungan. Timbullnya Perasaan rendah diri : takut gagal, perfeksionis berlebihan harus sempurna yang akhirnya menimbulkan kegagalan yang semakin menekan perasaan diri sendiri.
  • Secara Akademik : tidak konsen belajar karena rasa takut berlebihan akhirnya berakibat tidak mau ke sekolah sehingga penurunan daya ingat yang terjadi karena pengalihan tadi yang akhirnya berdampak pada takut sekolah, males ujian sehingga nilai menurun jauh
  • Sosial : sulit berteman karena rendah diri dengan alasan fisik yang tidak menarik yang akhirnya menghindar dan takut berbicara di depan umum
  • Dampak prilaku : Tantrum, menagis, emosi tidak terkendali , sulit tidur sendiri, mengigit kuku, menarik rambut sendiri, atau menyiksa diri sendiri secara tidak sadar dan akhirnya mengisolasi diri dengan gadgetnya yang belum tentu sehat.
  • Dampak fisik dan biologis: timbul rasa sesak, jantung berdebar, keringan berlebihan ,kelelahan kronis yang juga berdampak pada kesehatan fisik, dan gangguan makan berlebih
  • Dampak perkembangan fisikologisnya : gangguan regulasi emosi , sulit mengambil keputusan
  • Resiko gangguan fisiatri : karena kondisi yang sulit tidur, rasa yang tidak nyaman dan labil, sehingga ketika di tawari menggunakan obat-obatan jadi mudah terbujuk sehingga akhirnya menjadi penggunaan narkoba.
  • Gangguan Pribadi tertentu : resiko mengakhiri hidup atau bunuh diri di karenakan rasa lelah yang berlebih dan merasa tidak berdaya.

Mengalami cemas adalah hal yang lumrah bagi kita, namun jika rasa cemas tersebut berujung pada gangguan secara fisik dan mental sebaiknya harus segera berkonsultasi. Terutama untuk anak-anak dan remaja, menurut dr Sindi sebagai Dokter Spesialis Kejiwaan di Rumah sakit Mutiara Sukma, anak-anak dan remaja juga butuh di dengar sama seperti orang dewasa pasa umumnya, luangkan waktu dna berdiskusi adalah salah satu cara yang tepat untuk mengetahui kondisi anak "orang tua harus aktif mencari tahu kondisi si anak dan remaja dengan teliti. Orang tua berperan sebagai sahabat dan meluangkan waktu untuk anak , mengajak anak berdikusi untuk mengetahui kondisi mental anak secara menyeluruh, dan setiap anak tumbuh secara berbeda tidak bisa di samakan jadi orang tua harus tahu kondisi anak di tempat beraktifitas atau lingkungannya, intinya luangkan waktu lah" Ungkapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....