Nikah Dini, Bahaya Bagi Kesehatan Reproduksi dan Mental Perempuan
- 23 Mei 2026 14:18 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Dompu — Pernikahan usia muda atau Pernikahan Dini, dinilai memiliki dampak serius terhadap kesehatan reproduksi dan mental perempuan. Menikah sebelum organ tubuh berkembang sempurna berisiko memicu berbagai komplikasi kesehatan hingga gangguan psikologis jangka panjang.
Ketua Ikatan Bidan Indonesia Kabupaten Dompu, Ida Fitriyani mengatakan, perempuan yang menikah muda cenderung mengalami kehamilan lebih cepat meski kondisi fisiknya belum siap sepenuhnya.
Menurutnya, organ reproduksi perempuan yang masih berusia di bawah 20 tahun belum berkembang optimal untuk menghadapi proses kehamilan maupun persalinan.
“Hamil di bawah usia 20 tahun disebut kehamilan remaja dan memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi,” ujarnya, Sabtu, 23 Mei 2026.
Ia menjelaskan, kehamilan usia remaja dapat meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, preeklamsia atau tekanan darah tinggi saat hamil, hingga bayi lahir dengan berat badan rendah.
Selain itu, persalinan pada perempuan usia muda juga lebih berisiko menyebabkan cedera pada rahim dan organ reproduksi lainnya. Rahim yang belum berkembang sempurna dinilai belum cukup kuat menghadapi tekanan saat proses persalinan berlangsung.
Kondisi tersebut dapat memicu pendarahan hebat hingga robeknya rahim yang berpotensi menyebabkan infertilitas bahkan kematian apabila tidak ditangani secara cepat.
Ida juga mengingatkan bahwa pernikahan dini berkaitan dengan meningkatnya risiko infeksi menular seksual (IMS), seperti HIV, gonore dan klamidia.
Minimnya edukasi kesehatan reproduksi serta keterbatasan akses terhadap kontrasepsi membuat perempuan muda lebih rentan terpapar penyakit tersebut.
“Infeksi menular seksual tidak hanya berdampak pada organ reproduksi, tetapi juga kesehatan tubuh secara keseluruhan,” katanya.
Selain itu, hubungan seksual pada usia terlalu muda juga disebut memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker serviks. Menurut Ida, tubuh perempuan yang belum siap secara biologis lebih rentan mengalami perubahan sel abnormal pada leher rahim.
Gejala kanker serviks umumnya tidak langsung muncul, namun bisa dirasakan lima hingga sepuluh tahun kemudian, seperti keputihan berbau, perdarahan saat berhubungan hingga perdarahan di luar masa haid.
“Ketika gejala itu muncul, bisa saja sudah ditemukan adanya lesi kanker serviks,” ujarnya.
Tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, pernikahan usia muda juga dinilai berpengaruh besar terhadap kesehatan mental perempuan.
Perempuan muda yang belum siap secara emosional sering mengalami tekanan psikologis akibat tuntutan menjalani peran sebagai istri, ibu dan pengurus rumah tangga dalam waktu bersamaan.
Tekanan tersebut dapat memicu stres berkepanjangan, gangguan kecemasan hingga depresi. Bahkan, remaja yang mengalami kehamilan dini disebut lebih berisiko mengalami depresi pascapersalinan.
Karena itu, Ida meminta remaja perempuan yang mengalami tekanan mental selama kehamilan maupun setelah melahirkan agar terbuka kepada tenaga kesehatan, keluarga atau orang yang dipercaya untuk mendapatkan dukungan.
Menurutnya, menikah muda juga dapat membuat perempuan kehilangan kesempatan mengembangkan potensi diri, pendidikan serta masa remaja yang seharusnya digunakan untuk membangun masa depan.
“Perempuan yang menikah muda sering kehilangan kesempatan mengejar pendidikan dan mengembangkan diri sehingga memicu rasa frustrasi dan rendah diri,” katanya.
Ia berharap masyarakat semakin memahami dampak negatif pernikahan usia dini sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan bersama melalui pengawasan keluarga, pendidikan kesehatan reproduksi dan pendampingan terhadap remaja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....