Pernikahan Dini Penyumbang Kemiskinan Baru dan Stunting di Dompu

  • 19 Mei 2026 11:06 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu - Pernikahan dini disebut menjadi salah satu faktor penyumbang tertinggi lahirnya kemiskinan baru dan kasus stunting di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Fenomena tersebut kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena dampaknya yang luas terhadap kondisi sosial dan kesehatan masyarakat.

Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3A Dompu, Yayat Nurhidayat mengatakan, rata-rata pernikahan dini terjadi akibat kasus Married By Accident atau MBA yang dipicu pergaulan bebas di kalangan remaja.

Menurutnya, pasangan yang menikah di usia dini umumnya belum siap secara mental maupun ekonomi untuk menjadi orang tua.

Dengan usia yang masih sangat muda dan minim pengetahuan tentang pola asuh anak, mereka dipaksa menjalani kehidupan rumah tangga dan merawat anak dalam kondisi serba terbatas.

"Kondisi tersebut berdampak langsung pada tumbuh kembang anak," katanya, Selasa, 19 Mei 2025.

Kurangnya pengetahuan tentang pemenuhan gizi dan kesehatan keluarga menyebabkan anak rentan mengalami kekurangan gizi hingga stunting.

Selain itu, usia pasangan yang masih labil juga dinilai menjadi pemicu lahirnya kemiskinan baru. Sebagian besar pelaku pernikahan dini sejatinya masih berada pada usia sekolah dan belum memiliki pekerjaan tetap untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Yayat menyebut, banyak pasangan muda akhirnya bekerja sebagai buruh kasar dengan penghasilan minim.

Bahkan tidak sedikit yang enggan mencari pekerjaan tetap sehingga kondisi ekonomi keluarga terus memburuk dan berpotensi masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem. Dari sisi kesehatan, pasangan muda juga rentan mengalami gangguan reproduksi.

Hal itu dipicu kurangnya pemahaman tentang kesehatan kehamilan, termasuk adanya upaya menggugurkan kandungan maupun tidak merawat janin dengan baik selama masa kehamilan.

Ia menjelaskan, rata-rata korban pernikahan dini berusaha menyembunyikan kehamilannya karena takut diketahui keluarga maupun lingkungan sekitar.

"Akibatnya, kehamilan baru diketahui setelah usia janin tumbuh besar dan kondisi kesehatan ibu maupun bayi sudah berisiko," katanya.

Karena itu, menjaga keluarga dari pengaruh pergaulan bebas dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menekan munculnya kasus pernikahan dini di daerah tersebut.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠Pemerintah daerah berharap keterlibatan keluarga, sekolah, tokoh agama dan masyarakat dapat diperkuat untuk memberikan edukasi kepada remaja, sehingga kasus pernikahan dini yang berdampak pada kemiskinan dan stunting dapat ditekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....