Kenapa Balita Rentan Hipotermia? Ini Penjelasannya
- 14 Apr 2026 14:12 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Kasus hipotermia pada anak kecil belakangan ini menjadi perhatian publik, terutama setelah muncul kejadian balita yang mengalami kondisi tersebut saat berada di pegunungan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tidak semua aktivitas alam aman untuk anak, apalagi di kondisi cuaca ekstrem. Banyak orang tua mungkin belum menyadari bahwa tubuh anak kecil memiliki respons yang berbeda terhadap suhu dingin.
Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun di bawah 35°C, sehingga tubuh tidak mampu mempertahankan fungsi normalnya. Dilansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Primaku.com, kondisi ini terjadi saat tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan kemampuan untuk memproduksinya. Jika tidak segera ditangani, hipotermia dapat menyebabkan gangguan fungsi organ, penurunan kesadaran, bahkan berisiko lebih fatal. Lingkungan dengan suhu rendah seperti pegunungan ditambah angin kencang dan kelembapan tinggi menjadi faktor risiko utama yang dapat mempercepat terjadinya hipotermia, terutama pada bayi dan balita.
Dalam penjelasan dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) (Dokter Spesialis Anak) yang disampaikan melalui tayangan Tribun, anak balita sangat rentan kehilangan panas tubuh dibandingkan orang dewasa. Hal ini disebabkan karena anak memiliki frekuensi napas yang lebih cepat, sehingga panas tubuh lebih mudah hilang. Selain itu, tubuh anak juga memiliki cadangan energi yang lebih sedikit untuk mempertahankan suhu tubuh.
Faktor lingkungan juga menjadi risiko besar, terutama di daerah pegunungan, terlebih bagi balita yang kondisi tubuhnya masih rentan. Berdasarkan penjelasan dari Childhood Preparedness.org, suhu dingin, angin, hujan, serta medan yang sulit dapat mempercepat penurunan suhu tubuh. Pada balita, kondisi ini bisa terjadi lebih cepat karena kemampuan tubuh mereka dalam mempertahankan panas belum optimal. Ditambah lagi, akses evakuasi yang terbatas membuat penanganan darurat menjadi lebih sulit jika terjadi kondisi serius.
dr. Piprim Basarah Yanuarso juga mengingatkan bahwa balita bukanlah “orang dewasa versi kecil”. Aktivitas seperti mendaki gunung dengan jarak jauh dan cuaca tidak menentu sangat tidak direkomendasikan untuk anak usia dini. Jika ingin mengenalkan alam, orang tua disarankan memulai dari aktivitas ringan dengan risiko yang lebih kecil dan akses yang mudah dijangkau metode.
Untuk mencegah hipotermia, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan. Dilansir dari laman Kehamilan Sehat.com, anak perlu mengenakan pakaian hangat berlapis, termasuk penutup kepala dan kaus kaki. Pastikan tubuh tetap kering karena pakaian basah dapat mempercepat hilangnya panas. Asupan cairan dan makanan juga perlu dijaga agar tubuh tetap bertenaga.
Dalam kondisi darurat, metode sederhana seperti menghangatkan tubuh anak dengan kontak langsung kulit ke kulit (skin to skin) dapat membantu menaikkan suhu tubuh sementara. Cara ini dapat menjadi pertolongan pertama sebelum mendapatkan bantuan medis.
Kasus hipotermia pada anak menunjukkan bahwa faktor usia, kondisi tubuh, dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap keselamatan. Memahami risiko ini menjadi penting agar orang tua dapat lebih bijak dalam merencanakan aktivitas, terutama di tempat dengan suhu ekstrem. Dengan persiapan yang tepat, risiko dapat diminimalisir dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama. (RRI/Aldi W)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....