Luka di Balik Tumpukan Barang: Mengenal Hoarding Disorder

  • 11 Apr 2026 18:25 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Kenali Hoarding Disorder lebih dalam. Mengapa sulit membuang barang? Simak penjelasan ahli jiwa tentang kaitan trauma, fungsi otak, dan cara pulihnya."

RRI.CO.ID, Mataram — Bagi banyak orang, botol plastik kosong atau tumpukan koran usang hanyalah sampah. Namun, bagi pengidap hoarding disorder, benda-benda itu adalah jangkar ingatan. Membuangnya bukan sekadar membersihkan rumah, melainkan seperti membuang potongan nyawa sendiri.

Kondisi ini sering kali dicap negatif sebagai kebiasaan hidup jorok. Padahal, secara medis, ada kerumitan emosional yang mendalam di balik gunungan barang yang memenuhi ruang tamu hingga tempat tidur tersebut.

Rasa Sakit yang Nyata di Otak

Bukan tanpa alasan mereka sulit berkata "tidak" pada benda tak berharga. Riset neurobiologis oleh David Tolin (2012) mengungkap fakta menarik. Lewat pemindaian otak, ditemukan bahwa saat penderita dipaksa memutuskan untuk membuang barang miliknya, bagian otak Anterior Cingulate Cortex bereaksi sangat tajam.

Uniknya, area otak ini adalah wilayah yang sama yang memproses rasa sakit fisik. Artinya, bagi seorang penimbun, membuang barang kesayangan secara emosional terasa sama menyakitkannya dengan luka fisik yang nyata.

Benda Sebagai Benteng Memori

Pakar psikologi Gail Steketee dan Randy Frost (2003) menjelaskan bahwa penderita sering terjebak dalam keterikatan emosional yang tidak wajar. Mereka melihat benda sebagai "pengingat eksternal". Muncul ketakutan hebat bahwa jika benda itu lenyap, maka memori berharga yang melekat padanya akan ikut hilang selamanya.

Sering kali, perilaku menimbun ini menjadi "benteng" atau mekanisme pertahanan diri setelah seseorang mengalami trauma berat, seperti kehilangan orang tercinta atau pengalaman kemiskinan ekstrem di masa lalu.

Beda Kolektor dan Penimbun

Ahli jiwa memberikan garis pembatas yang tegas. Seorang kolektor akan menata barangnya dengan bangga dan sistematis. Sebaliknya, pengidap hoarding cenderung merasa malu, menarik diri dari pergaulan, dan membiarkan barang menumpuk tanpa aturan hingga rumah tak lagi bisa ditinggali dengan layak.

Memanusiakan Proses Pulih

Sejak masuk dalam standar diagnosa DSM-5 pada 2013, pengobatan gangguan ini mulai fokus pada Terapi Perilaku Kognitif (CBT). Namun, kunci utama bukan pada seberapa cepat rumah dibersihkan, melainkan seberapa besar empati keluarga.

Membuang barang penderita secara paksa tanpa izin mereka justru akan memicu trauma baru. Memulihkan seorang penimbun berarti perlahan-lahan menyembuhkan luka batinnya, barulah kemudian merapikan tumpukan barangnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....