Dinkes KLU Temukan Suspek Campak, Lingkungan Pasien Dipastikan Aman

  • 30 Mar 2026 17:17 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Utara- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan satu kasus suspek Campak yang ditemukan pada seorang anak di Dusun Sira, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, sejak Januari 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Utara, Lalu Bahrudin, mengatakan sampel pasien telah dikirim ke laboratorium rujukan di Surabaya guna memastikan diagnosis secara ilmiah. Hingga pertengahan Maret 2026, pihaknya masih menunggu hasil resmi pemeriksaan tersebut.

“Bisa saja itu bukan campak, tapi kita tetap menunggu hasil laboratorium untuk memastikan secara pasti,” ujar Bahrudin saat dikonfirmasi, Jumat 27 Maret 2026.

Meski masih berstatus suspek, Dinkes KLU tidak tinggal diam. Pemantauan intensif dilakukan terhadap lingkungan sekitar pasien, termasuk pelacakan kemungkinan kontak erat. Hasil pemantauan selama 14 hari pasca dugaan infeksi menunjukkan tidak adanya indikasi penularan ke anak-anak lain di wilayah tersebut.

“Dari hasil pemantauan kami, tidak ditemukan penularan di sekitar lokasi kasus. Ini menjadi indikasi bahwa situasi masih terkendali,” katanya.

Ia menjelaskan, campak merupakan penyakit infeksi yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi, bahkan lebih cepat dibandingkan beberapa penyakit menular lainnya seperti tuberkulosis. Oleh karena itu, kewaspadaan tetap menjadi prioritas meskipun belum ada konfirmasi positif.

Menurut Bahrudin, penanganan cepat dan tepat menjadi kunci utama untuk mencegah dampak yang lebih serius. Ia menegaskan bahwa campak pada umumnya tidak menyebabkan kematian secara langsung.

“Yang berbahaya itu biasanya komplikasi, bukan virus campaknya sendiri. Kalau ditangani cepat oleh tenaga medis, risikonya bisa ditekan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa anak yang menjadi suspek telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Namun demikian, ia menegaskan bahwa vaksinasi tidak menjamin seseorang sepenuhnya bebas dari risiko infeksi.

“Vaksin itu bukan membuat kebal mutlak, tapi memperkecil risiko tertular dan mengurangi tingkat keparahan jika terinfeksi,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, ia mencontohkan vaksin BCG yang diberikan untuk mencegah tuberkulosis. Meski sudah divaksin, seseorang tetap memiliki kemungkinan terinfeksi, namun dengan risiko yang lebih ringan.

Di sisi lain, Bahrudin menyebut cakupan imunisasi dasar di Lombok Utara saat ini telah mencapai angka yang sangat tinggi, bahkan mendekati 100 persen. Meski demikian, masih terdapat sejumlah kecil masyarakat yang menolak vaksinasi karena berbagai kekhawatiran.

“Kami akui masih ada beberapa wilayah dengan penolakan vaksin. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami dalam upaya pencegahan penyakit menular,” katanya.

Untuk itu, Dinas Kesehatan terus melakukan edukasi kepada masyarakat guna meningkatkan pemahaman tentang pentingnya imunisasi. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap waspada terhadap gejala penyakit menular, khususnya pada anak-anak.

Saat ini, Dinkes KLU menegaskan akan terus melakukan pemantauan lapangan sembari menunggu hasil laboratorium. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi dini untuk mencegah potensi penyebaran penyakit di wilayah Lombok Utara.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....