Pemkab Dompu Perkuat Kesiapsiagaan Antisipasi Virus Nipah

  • 09 Feb 2026 12:57 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Dompu – Pemerintah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mulai memperkuat langkah antisipasi terhadap potensi penyebaran Virus Nipah, meski hingga kini belum ditemukan kasus di Indonesia. 

Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan layanan kesehatan hingga pelibatan aktif masyarakat dalam deteksi dini penyakit menular.

Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Nasrullah mengatakan, langkah awal yang dilakukan adalah menindaklanjuti instruksi dari Pemerintah Provinsi NTB, yang kemudian diteruskan ke seluruh puskesmas.

“Instruksi dari provinsi sudah kita teruskan ke puskesmas, karena puskesmas adalah garda terdepan yang langsung berhadapan dengan masyarakat dan berperan penting dalam mengenali ciri-ciri awal Virus Nipah,” Nasrullah, ditemui di Kantornya, Senin, 9 Fabruari 2026.

Ia menegaskan, prinsip utama dalam menghadapi penyakit menular adalah deteksi cepat dan respons cepat. Menurutnya, semakin dini penyakit terdeteksi, maka semakin cepat pula penanganan dilakukan dan risiko penyebaran dapat dibatasi.

“Logika penyakit menular itu sederhana, deteksi itu yang paling utama. Kalau cepat terdeteksi, maka cepat ditanggulangi, dan penyebarannya bisa dibatasi,” jelasnya.

Nasrullah menambahkan, kesiapsiagaan tidak hanya bertumpu pada tenaga kesehatan, tetapi sangat bergantung pada kesadaran masyarakat. Penyakit yang dibiarkan tanpa penanganan berpotensi menjadi sumber penularan.

“Ini sangat bergantung pada kesiapsiagaan semua unsur, terutama masyarakat. Jangan ada penyakit yang didiamkan. Ketika muncul gejala, apalagi sampai kejang-kejang, segera datang ke fasilitas kesehatan,” tegasnya.

Dinas Kesehatan Dompu juga mengandalkan jaringan pelayanan kesehatan hingga tingkat desa, seperti puskesmas pembantu (pustu) dan kader posyandu. 

Aktivitas pemantauan kesehatan masyarakat dilakukan secara rutin setiap bulan melalui kegiatan posyandu, ditambah pemantauan insidental jika ditemukan kasus tertentu.

“Ujung tombak kita sampai ke desa itu pustu dan kader posyandu. Setiap bulan kita turun ke lapangan, belum lagi kegiatan insidental,” katanya.

Pengalaman menghadapi pandemi Covid-19, lanjut Nasrullah, menjadi modal penting dalam membangun sistem kesiapsiagaan saat ini. 

Koordinasi lintas program pun diperketat, terutama jika mengarah pada kondisi kejadian luar biasa (KLB).

Dalam hal penyampaian informasi kepada masyarakat, Dinas Kesehatan mendorong peran tenaga promosi kesehatan (promkes) untuk lebih masif melakukan edukasi terkait Virus Nipah, meski statusnya masih wabah di beberapa negara dan belum menjadi pandemi.

“Teman-teman promkes kita dorong agar tema edukasi ke masyarakat saat ini mengarah pada kewaspadaan terhadap penyakit dengan gejala Virus Nipah, dan mengimbau masyarakat segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Virus Nipah diketahui merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, dengan Kelawar sebagai salah satu inang alami. 

Meski belum ada deteksi kasus di Indonesia, Nasrullah menilai kesiapsiagaan tetap wajib dilakukan, mengingat mobilitas manusia yang semakin tinggi.

“Contohnya di Bangladesh dan India, mereka sudah terjangkit. Di Indonesia memang belum ada deteksi, tapi kita tidak tahu apakah hewan pembawanya, seperti Kelawar, sudah terpapar atau belum. Semua punya potensi dengan kondisi mobilitas saat ini,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penguatan pengawasan di pintu masuk wilayah, termasuk pelabuhan dan bandara, menjadi faktor penting dalam mempersempit potensi penularan, meskipun hal tersebut berada di bawah kewenangan unit kesehatan lainnya.

“Kalau semua aspek diperkuat, dari pintu masuk hingga layanan kesehatan dasar, maka potensi yang tinggi itu bisa kita persempit,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....