Kenal Askariasis, Risiko Cacing Gelang Usus
- 21 Agt 2025 09:03 WIB
- Mataram
KBRN, Mataram: Kisah memilukan datang dari Sukabumi. Seorang bocah perempuan bernama Raya harus mendapat perawatan medis intensif setelah dokter menemukan puluhan cacing gelang (Ascaris lumbricoides) bersarang di tubuhnya.
Kondisi ini sempat membuatnya lemas, muntah-muntah, dan mengalami nyeri perut hebat. Kasus Raya menyita perhatian publik dan kembali membuka mata masyarakat bahwa infeksi cacing usus atau askariasis bukanlah penyakit ringan yang bisa disepelekan.
Infeksi cacing gelang atau askariasis mungkin terdengar sepele, namun organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 800 juta orang di dunia masih terinfeksi askariasis, dengan angka tertinggi di negara-negara tropis, termasuk Indonesia. Sebagian besar penderita adalah anak-anak yang rentan karena masih sering bermain di tanah tanpa alas kaki dan kurangnya sanitasi lingkungan.
Apa Itu Askariasis?
Dikutip dari Alodokter, Askariasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang Ascaris lumbricoides, salah satu parasit terbesar yang hidup di usus manusia. Cacing ini dapat tumbuh hingga 30 cm panjangnya. Infeksi terjadi ketika telur cacing masuk ke tubuh melalui makanan, air, atau tanah yang terkontaminasi tinja. Setelah tertelan, telur cacing menetas di usus, larvanya masuk ke aliran darah, lalu bermigrasi ke paru-paru sebelum kembali ke usus untuk tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses ini berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan.
Gejala dan Risiko
Sebagian penderita askariasis tidak mengalami gejala. Namun, jika jumlah cacing banyak, akan muncul tanda-tanda berikut:
Gangguan pencernaan: sakit perut, mual, muntah, diare, hingga cacing keluar lewat mulut atau anus.
Masalah pernapasan: batuk, sesak napas, dan gejala mirip pneumonia karena larva bermigrasi ke paru-paru.
Komplikasi berat: penyumbatan usus, infeksi kantong empedu atau pankreas, hingga risiko fatal pada kasus parah
Pada anak-anak, askariasis kronis dapat menyebabkan gizi buruk, anemia, dan stunting yang menghambat pertumbuhan (Kemenkes RI).

Siapa yang Paling Berisiko?
Anak-anak yang sering bermain di tanah tanpa alas kaki.
Masyarakat dengan akses sanitasi buruk atau masih buang air sembarangan.
Lingkungan padat penduduk dan kebersihan makanan yang tidak terjaga.
Suara Masyarakat dan Netizen
Di media sosial, banyak orang yang mengaku kaget setelah membaca kasus-kasus askariasis berat.
“Selama ini saya kira cacingan cuma bikin kurus. Ternyata bisa sampai mengancam nyawa,” tulis seorang warganet.
Seorang ibu rumah tangga di Lombok juga menambahkan, “Setelah tahu bahayanya, saya jadi lebih rajin kasih obat cacing ke anak-anak tiap enam bulan sekali.”
Pencegahan Askariasis
Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan beberapa langkah pencegahan:
1. Cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan setelah buang air.
2. Gunakan jamban sehat, hindari buang air sembarangan.
3. Jaga kebersihan makanan – cuci buah dan sayur, masak hingga matang.
4. Rutin minum obat cacing – terutama untuk anak usia sekolah, minimal dua kali setahun (Kemenkes RI).
Askariasis bukan penyakit baru, tetapi masih sering diremehkan. Padahal, dampaknya bisa serius, terutama pada anak-anak. Dengan edukasi, kebersihan lingkungan, dan pengobatan yang tepat, penyakit ini sebenarnya sangat bisa dicegah.
Kasus Raya, bocah perempuan asal Sukabumi yang harus menjalani perawatan intensif karena cacing gelang menumpuk di tubuhnya, menjadi pengingat nyata. Kisahnya menyadarkan masyarakat bahwa cacingan bukan sekadar penyakit ringan, melainkan ancaman kesehatan yang bisa berujung fatal bila diabaikan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....