Mengenal Penanganan Rasa Cemas Atau Anxiety
- 28 Sep 2024 21:11 WIB
- Mataram
Mengutip dalam laman Alodokter, Rasa cemas atau anxiety hal yang normal, namun bisa menjadi gangguan kecemasan jika muncul secara berlebihan, sulit dikendalikan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Seperti yang di sampaikan oleh Arman Fasihin,S.Farm seorang apoteker RSJ Mutiara Sukma, " cemas aja kenapa harus di obati, cemas itu semua orang pernah mengalami baik itu dari usia anak-anak, remaja ataupun orang tua, cuma di sini kita harus membedakan yang membutuhkan obat adalah ketika cemas ini sudah berlebihan dalam arti akan muncul kondisi dimana orang tersebut secara terus menerus merasa ketakutan, merasa deg-degan kemudian seperti takut berkomunikasi dengan lingkungan sekitar dan ini terjadi terus-menerus dan ketika kita mengalami kondisi seperti ini sebaiknya memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater, mungkin kita sudah mengalami gejala kecemasan, " ketika mengisi siaran Berugak Kita di pro 4 RRI Mataram. Kondisi cemas yang sering terjadi memang terlihat biasa namun jika rasa cemas yang kita rasakan berlebihan bahkan cendrung mengganggu atau bahkan sampai berniat untuk melikai diri sendiri, maka perlu segera melakukan konsultasi untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kondisi kita.
Ada beberapa tipe atau golongan pengobatan yang berkaitan dengan rasa cemas atau anxiety yang di lansir dari laman Alodokter yaitu
1. Terapi Prilaku Kognitif (CBT)
Terapi ini dilakukan untuk membantu pasien agar tidak mengubah pemikiran biasa kearah negatif. Terapi ini dilakukan secara bertahap dimana pasien diajak untuk menghadapi objek atau situasi yang menjadi penyebab kecemasan yang di alami. Terapi ini juga bertujuan untuk membangun rasa percaya diri pasien untuk mampu mengelola situasi dan kondisi yang terjadi ketika gejala cemas muncul
2. Pengunaan Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan untuk pasien tentunya memerlukan resep yang sesuai dengan kebutuhan pasien, hal ini berkaitan dengan penggunaan obat-obatan tersebut secara jangka panjang. ada 2 golongan atau jenis obat yang di gunakan untuk pengobatan gejala cemas seperti :
- Obat antidepresan, seperti Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI), yang berkerja untuk meningkatkan kadar serotonin dalam otak.
- Obat sedatif, seperti benzodiazepine (valium) ,untuk penanganan rasa cemas yang di sesuaikan dengan diagnosa pasien.
3. Pengobatan Rumahan
Jenis terapi ini lebih kepada merubah gaya hidup agar lebih sehat ditambah dengan lingkungan yang baik, seperti
- Melakukan olahraga secara teratur untuk memastikan fisik tetap aktif, karena olahraga merupakan salah satu aktivitas yang sangat membantu meringankan stres.
- Istirahat yang cukup juga sangat membantu mengurangi resiko gangguan kecemasan
- Lakukan relaksasi, seperti meditasi atau yoga yang bermanfaat untuk menenagkan pikiran.
- Jauhi alkohol dan Narkoba, karena kandungannya yang dapat menimbulkan ketagihan yang sangat mudah memicu gejala kecemasan.
Penggunaan terapi tentunya di sesuikan dengan hasil konseling yang di lakukan dengan Psikolog atau Psikiater ( Dokter Spesialis Jiwa) sehingga dapat mengobati gejala cemas sesuai tingkatan nya.
Dalam terapi penggunaan obat terdapat efek samping yang di rasakan pasien seperti rasa mengantuk, dan akan berefek ketergantungan seperti yang di sampaikan Arman, " ketika efek samping mengantuk sebenarnya tujuan nya supaya tenang, di arahkan supaya bisa tidur, tenang, nyenyak gitu itu salah satu efeknya, kemudian obat untuk cemas ini sendiri kalo penggunaan jaka panjang itu dapat juga terjadi ketergantungan, itulah makanya untuk penggunaan obat seperti ini harus melalui diagnosis dokter dulu untuk penggunaannya" ujarnya. Untuk itulah Arman sendiri menyampaikan penggunaan obat anti cemas harus melalui resep dari dokter sehingga tidak berefek negatif pada pasien, dan Sangat di anjurkan untuk tidak membeli obat-obat anti cemas tanpa resep atau ilegal karena bisa berdampak jika di gunakan tidak sesuai anjuran dokter.
Kesehatan Jiwa memiliki peran penting dalam aktivitas sehari-hari, namun terkadang masih banyak masyarakat yang merasa malu untuk memeriksakan kesehatan mental mereka ke rumah sakit jiwa, karena banyak yang beranggapan hal tersebut bisa membawa dampak negatif ke lingkungan sosial mereka, padahal memeriksakan kesehatan jiwa sama pentingnya dengan pemeriksaan kesehatan fisik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....