Era AI, SMAN 2 Mataram Dorong Guru dan Siswa Tetap Utamakan Proses Berpikir

  • 04 Okt 2026 06:33 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Perubahan teknologi turut menggeser cara guru mengelola pembelajaran di sekolah. Memasuki era kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), guru tidak hanya dituntut menguasai materi, tetapi juga mampu memilih dan memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan pembelajaran.

Plt. Kepala SMA Negeri 2 Mataram, Gunawan, mengatakan perkembangan teknologi memberikan banyak pilihan bagi guru untuk mengembangkan metode pembelajaran. Media pembelajaran interaktif dan berbagai ruang belajar digital dinilai dapat membantu mempercepat sekaligus memperkaya proses belajar mengajar.

"Pembelajaran yang dilakukan Bapak dan Ibu Guru harus mengikuti perkembangan teknologi dan sosial. Salah satu acuannya tentu kurikulum yang berlaku, kemudian pengembangan diri guru juga bisa dilakukan melalui penggunaan teknologi," jelasnya, Sabtu 3 Oktober 2026.

Menurutnya, kehadiran AI menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Namun, teknologi tidak seharusnya digunakan secara penuh untuk menggantikan proses berpikir peserta didik maupun peran guru dalam pembelajaran.

Gunawan menilai pemanfaatan teknologi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks pembelajaran. Tidak seluruh informasi yang dihasilkan teknologi dapat langsung diterapkan tanpa melalui proses pemeriksaan dan penyesuaian.

"Teknologi itu harus digunakan secara bijak. Tidak semuanya harus disadur atau diaplikasikan langsung. Ada kebutuhan, ada penggunaan dan ada tempatnya," ujarnya.

Karena itu, guru dituntut terus berinovasi agar dapat mengimbangi perkembangan pengetahuan dan teknologi. Kemampuan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya sekolah menjaga proses pembelajaran tetap relevan dengan perubahan zaman.

Di sisi lain, SMAN 2 Mataram juga memberikan perhatian terhadap penggunaan AI oleh siswa. Menurut Gunawan, pendekatan secara langsung tetap menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan berpikir peserta didik.

Ia mengatakan siswa perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan pendapat, mengembangkan potensi dan mempraktikkan langsung materi yang dipelajari. Dengan cara tersebut, AI dapat ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir.

"Anak-anak perlu pendampingan. Penggunaan AI lebih kepada membantu ketika memang dibutuhkan, tetapi mereka tetap harus memiliki kecakapan untuk mengolah kembali hasil yang diperoleh, melihat apakah sudah sesuai atau belum," katanya.

Guru juga perlu memastikan informasi yang diperoleh melalui AI sesuai dengan materi dan dapat dipertanggungjawabkan. Jika ditemukan informasi yang tidak tepat, siswa diarahkan untuk mencocokkannya kembali dengan sumber lain maupun penjelasan guru.

Menurut Gunawan, proses pembelajaran secara langsung antara guru dan siswa tetap memiliki peran penting dalam membangun kemampuan berpikir. Interaksi tersebut menjadi ruang bagi guru untuk melihat sejauh mana siswa memahami materi yang diberikan.

"Ketika pikiran orisinal anak dikembangkan secara langsung melalui pendampingan Bapak dan Ibu Guru, penggunaan AI bisa menjadi bagian yang melengkapi. Jadi, bukan AI yang menggantikan proses berpikir anak," tuturnya.

Ia menambahkan, AI pada dasarnya dapat membantu proses pembelajaran apabila digunakan sesuai kebutuhan. Tantangannya adalah memastikan teknologi tersebut tetap berada dalam kendali pengguna dan tidak membuat siswa bergantung sepenuhnya pada jawaban yang dihasilkan sistem.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....