Mengapa Sulit Memadamkan Kebakaran Lahan Gambut?
- 30 Sep 2026 15:11 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Gambut menyimpan karbon raksasa dari ribuan tahun lalu, tapi begitu terbakar, apinya menjalar diam-diam di bawah tanah dan sangat sulit dipadamkan total.
RRI.CO.ID, Mataram - Setiap musim kemarau panjang tiba, nama lahan gambut hampir selalu muncul dalam pemberitaan kebakaran hutan dan lahan. Bukan kebetulan. Ada alasan ilmiah kenapa gambut jadi biang keladi kebakaran yang sulit dipadamkan, sekaligus kenapa kerusakannya berdampak jauh lebih luas dibanding kebakaran di lahan mineral biasa.
Semua bermula dari cara gambut terbentuk. Dijelaskan [Wastex.io](https://www.wastex.io/id/post/tanah-gambut), tumpukan sisa tumbuhan yang terjebak dalam kondisi tergenang selama ratusan hingga ribuan tahun membuat gambut menyimpan cadangan karbon dalam jumlah masif, bahkan disebut sebagai salah satu penyimpan karbon daratan terbesar di dunia. Karbon yang terkubur itulah yang membuat gambut, begitu kering dan tersulut api, berubah menjadi bahan bakar alami yang sulit ditandingi.
Api yang Bersembunyi di Bawah Tanah
Berbeda dari kebakaran di lahan biasa yang apinya terlihat jelas di permukaan, kebakaran gambut punya karakter yang jauh lebih licik. Begitu lapisan atas gambut yang kering tersulut, api bisa menjalar ke lapisan lebih dalam tanpa terlihat kobarannya dari luar. Yang tampak di permukaan mungkin cuma asap tipis, padahal di bawahnya api terus membakar tumpukan bahan organik secara perlahan namun konstan.
Karena sifatnya yang menjalar di bawah permukaan inilah, kebakaran gambut jauh lebih sulit dipadamkan hanya dengan menyiram air di permukaan saja. Petugas pemadam kerap harus menggali dan membongkar lapisan gambut yang terbakar untuk benar-benar memastikan api padam sampai ke akarnya, proses yang memakan waktu jauh lebih lama dibanding memadamkan kebakaran lahan biasa.
Sekali Kering, Makin Rawan Terbakar Berulang
Persoalan ini diperparah oleh sifat khas gambut yang disebut kering tak balik. Dijelaskan dalam kajian [Balai Penelitian Tanah](https://www.yumpu.com/id/document/view/19044340/sifat-kimia-dan-fisik-tanah-gambut-balai-penelitian-tanah), begitu gambut kehilangan kadar air di atas ambang tertentu, strukturnya berubah permanen dan menolak menyerap air kembali, mirip kayu kering yang justru mengusir air alih-alih menyerapnya. Gambut yang sudah pernah terbakar dan mengering pun jadi jauh lebih rentan terbakar lagi di musim-musim berikutnya, membentuk lingkaran kerusakan yang terus berulang setiap tahun jika tidak ditangani serius.
Penelitian pada lahan gambut pascakebakaran di Sumatera Selatan yang dipublikasikan Sylva, Jurnal Ilmu-ilmu Kehutanan, bahkan mencatat perubahan nyata pada kadar air dan berat isi tanah, serta pergeseran signifikan pada tingkat keasaman dan kandungan unsur hara dibanding gambut yang belum pernah terbakar. Artinya, kebakaran bukan cuma menghanguskan vegetasi di atasnya, tapi juga mengubah karakter tanah gambut itu sendiri secara mendasar
Dampaknya Menjalar ke Banyak Sisi.
Kerusakan akibat kebakaran gambut tidak berhenti pada lahan yang terbakar saja. Karbon raksasa yang tersimpan ribuan tahun bisa terlepas ke atmosfer dalam waktu singkat saat gambut terbakar, memberi kontribusi besar pada emisi gas rumah kaca. Fungsi hidrologis gambut sebagai penjaga tata air kawasan rawa juga ikut terganggu, yang pada gilirannya memengaruhi kawasan-kawasan di sekitarnya, bukan cuma area yang terbakar langsung.
Situasi inilah yang membuat pengelolaan lahan gambut, khususnya soal pengendalian muka air dan pencegahan pengeringan berlebihan, jadi kunci utama mencegah kebakaran berulang. Menjaga gambut tetap basah pada dasarnya sama dengan menjaga agar bahan bakar alami raksasa ini tidak sampai tersulut sejak awal.
# #
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....