Teknologi Bambu Plester Unram Dorong Hunian Ramah Lingkungan di Desa Lingsar

  • 18 Sep 2026 14:18 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat - Pemanfaatan bambu sebagai material konstruksi rumah masih belum banyak dilakukan masyarakat Desa Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Padahal, wilayah tersebut memiliki potensi bambu lokal yang cukup melimpah, seperti bambu tali, galah, betung, dan hijau.

Selama ini, bambu lebih banyak dipandang sebagai material yang kurang menarik secara estetika dan mudah mengalami pelapukan. Kondisi tersebut membuat masyarakat cenderung menggunakan material konvensional seperti bata merah dan beton dalam pembangunan rumah.

Di sisi lain, penggunaan material konvensional memiliki konsekuensi terhadap lingkungan karena proses produksinya membutuhkan energi yang cukup besar dan menghasilkan jejak karbon. Persoalan tersebut mendorong akademisi Fakultas Teknik Universitas Mataram (Unram) menghadirkan teknologi konstruksi yang memanfaatkan potensi material lokal.

Melalui Kelompok Bidang Ilmu Teknologi Arsitektur, Pelestarian Arsitektur, dan Pariwisata, tim akademisi Unram memberikan edukasi dan sosialisasi penerapan Teknologi Bambu Plester kepada masyarakat Desa Lingsar. Kegiatan tersebut dipimpin Teti Handayani, ST., MA., bersama Dr. Ir. Rini S. Saptaningtyas, ST., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., Zaedar Gazalba, ST., MT., Liza Hani Saroya Wardi, ST., MT., Hariyadi, ST., M.Sc.Eng., Dr. Eng., serta mahasiswa pendamping.

Teknologi bambu plester menggabungkan rangka dan anyaman bambu lokal sebagai elemen utama dinding, kemudian dilapisi menggunakan plester semen-pasir atau campuran alami berupa kapur dan tanah liat. Lapisan tersebut tidak hanya memberikan tampilan dinding yang lebih rapi, tetapi juga membantu melindungi bambu dari kelembaban, cuaca, serta serangan hama seperti rayap dan kumbang bubuk.

Penerapan teknologi tersebut juga diarahkan untuk menghasilkan hunian yang lebih nyaman dan hemat energi. Lapisan pada konstruksi dinding bambu dapat berfungsi sebagai insulasi termal alami sehingga membantu mengurangi penetrasi panas matahari dan menjaga suhu ruang tetap lebih sejuk.

Efisiensi juga menjadi salah satu aspek yang ditawarkan teknologi tersebut. Berdasarkan riset yang menjadi dasar penerapannya, penggunaan dinding bambu plester pra-fabrikasi dapat memangkas biaya konstruksi dinding hingga 31,71 persen dibandingkan dengan penggunaan bata merah.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat juga mendapatkan pengetahuan mengenai teknik pengawetan bambu. Pengawetan dapat dilakukan melalui metode perendaman alami maupun metode kimiawi menggunakan boraks untuk membantu memperpanjang usia pemanfaatan bambu sebagai material bangunan.

Selain pengawetan, masyarakat diperkenalkan dengan kaidah konstruksi yang diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan akibat kelembaban. Salah satunya dengan membuat dinding peralihan atau landasan dari batu bata dengan ketinggian minimal 30 sentimeter dari permukaan tanah.

Penerapan bambu plester juga dinilai memiliki keterkaitan dengan upaya pembangunan berkelanjutan. Inisiatif pengabdian Fakultas Teknik Unram tersebut berkontribusi pada SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, melalui penyediaan alternatif hunian yang aman, terjangkau, tahan gempa, dan memanfaatkan bahan baku lokal.

Dari sisi konsumsi dan produksi, pemanfaatan bambu sebagai material terbarukan juga sejalan dengan SDG 12. Penggunaan material lokal tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya tidak terbarukan sekaligus menekan jejak karbon yang dihasilkan dari proses manufaktur material konstruksi konvensional.

Sementara itu, dari aspek penanganan perubahan iklim, pemanfaatan bambu yang mampu menyerap karbon selama masa pertumbuhannya dipadukan dengan konsep hunian hemat energi. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim berbasis masyarakat di tingkat lokal dan sejalan dengan SDG 13.

Respons positif masyarakat terhadap inovasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Surat Pernyataan Pemanfaatan Hasil Karya Dosen oleh Kepala Desa Lingsar, Sahyan. Materi yang diperkenalkan tim Unram selanjutnya diadopsi untuk digunakan dalam edukasi kepada masyarakat desa.

Selain penerapan di tingkat masyarakat, hasil kegiatan pengabdian tersebut juga telah dikembangkan dalam bentuk naskah ilmiah. Naskah tersebut telah memperoleh Letter of Acceptance (LoA) untuk dipresentasikan dalam Seminar Nasional PEPADU 2025.

Tim Unram selanjutnya merancang pendampingan lanjutan yang diarahkan pada pelatihan teknis pengawetan bambu secara mandiri. Pendampingan tersebut diharapkan dapat mendorong pemanfaatan bambu secara lebih luas dan menjadikan konstruksi hijau sebagai bagian dari praktik pembangunan perdesaan di Desa Lingsar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....