Mendikdasmen: Persatuan Bukan Berarti Menghapus Perbedaan
- 01 Sep 2026 09:08 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menekankan pentingnya pendidikan dalam merawat keberagaman sekaligus memperkuat persatuan generasi muda. Menurutnya, sekolah memiliki posisi strategis karena menjadi tempat bertemunya peserta didik dengan latar belakang suku, agama, bahasa, dan budaya yang berbeda.
Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri Temu Generasi Muda Khonghucu di Jakarta, Sabtu 22 Agustus 2026. Ia menilai keberagaman yang dimiliki Indonesia seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi modal bersama dalam membangun kehidupan kebangsaan.
Menurut Abdul Mu’ti, persatuan tidak dapat dimaknai sebagai upaya menyeragamkan masyarakat. Justru, kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan untuk menerima dan menghargai perbedaan yang ada.
“Bersatu itu tidak berarti meniadakan perbedaan. Persatuan itu tidak berarti penyeragaman,” jelasnya.
Ia menambahkan, persatuan harus diwujudkan melalui sikap saling menerima, menghormati, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk melakukan berbagai kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks pendidikan, nilai tersebut dapat tumbuh melalui interaksi peserta didik di sekolah. Lingkungan sekolah mempertemukan anak-anak dari berbagai latar belakang sehingga mereka memiliki kesempatan untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain.
“Sekolah adalah tempat terjadinya pertemuan anak-anak bangsa yang berbeda-beda latar belakangnya. Saya menyebut dengan meeting point,” ungkap Abdul Mu’ti.
Menurutnya, pertemuan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi ruang untuk membangun ikatan bersama sebagai satu bangsa. Perbedaan latar belakang tidak lagi menjadi sekat ketika peserta didik memiliki pengalaman bersama dalam lingkungan pendidikan.
“ Mereka punya latar belakang yang berbeda-beda tapi punya satu ikatan yang bernama Indonesia,” lanjutnya.
Upaya memperkuat persatuan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung cepat. Pendidikan tidak hanya perlu membekali peserta didik dengan kemampuan akademik, tetapi juga membangun kemampuan hidup bersama dalam masyarakat yang majemuk.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Ketua Pemuda Khonghucu Indonesia, Aristya, yang mengajak generasi muda tetap mengambil bagian dalam perubahan tanpa kehilangan jati diri. Menurutnya, nilai-nilai yang dimiliki setiap kelompok justru dapat menjadi kekuatan ketika menghadapi perubahan zaman.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Budi Santoso, menyoroti pentingnya nilai kebajikan di tengah kemajuan teknologi. Ia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial, perlu disertai penguatan nilai kemanusiaan agar kemajuan tersebut tetap memiliki arah.
Gagasan tersebut menempatkan sekolah bukan sekadar sebagai tempat memperoleh pengetahuan. Lebih jauh, sekolah menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus tempat peserta didik belajar hidup bersama di tengah perbedaan.
Bagi Abdul Mu’ti, kemampuan menerima keberagaman menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi Indonesia menuju 2045. Generasi yang kuat bukan hanya generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mampu menjaga persatuan serta menghargai perbedaan.
Melalui pendidikan yang memberi ruang bagi keberagaman, generasi muda diharapkan tumbuh sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang saling menghormati. Dari lingkungan sekolah, nilai persatuan tersebut kemudian diharapkan terbawa dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....