Dari Budaya Lokal, UIN Mataram Bangun Tradisi Akademik Moderat
- 28 Agt 2026 16:10 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Perguruan tinggi Islam dinilai memiliki ruang besar untuk mempertemukan nilai keislaman dengan kekayaan budaya lokal dalam membangun kehidupan akademik yang terbuka dan berkeadaban. Gagasan tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Muhammad Amin Abdullah dalam Focus Group Discussion (FGD) di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Kamis 27 Agustus 2026.
Dalam forum bertema “Membumikan Islam dan Budaya Lokal untuk Membangun Kampus yang Moderat dan Berkeadaban” tersebut, Prof. Amin Abdullah mengajak sivitas akademika melihat hubungan agama dan budaya dari sudut pandang yang lebih kontekstual. Menurutnya, nilai-nilai Islam yang bersifat universal dapat tumbuh dan diwujudkan melalui realitas sosial serta budaya masyarakat.
Pandangan tersebut membuka pembahasan mengenai posisi budaya lokal dalam pengembangan keilmuan di perguruan tinggi Islam. Budaya tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus bagian dari identitas masyarakat.
Bagi UIN Mataram, kekayaan budaya masyarakat Nusa Tenggara Barat dapat menjadi ruang pengembangan kajian yang mempertemukan keislaman, kearifan lokal, ilmu pengetahuan dan persoalan yang berkembang di masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan kampus menghasilkan pengetahuan yang berangkat dari konteks lokal, namun tetap memiliki perspektif yang lebih luas.
Diskusi yang berlangsung sekitar 45 menit itu juga menyoroti bagaimana tradisi akademik moderat seharusnya dibangun di lingkungan kampus. Moderasi tidak berhenti pada program atau slogan kelembagaan, tetapi perlu tercermin dalam cara sivitas akademika berpikir, berdialog dan menyikapi perbedaan.
Keterbukaan terhadap berbagai pandangan, penghormatan terhadap keragaman, kemampuan berpikir kritis serta keberanian berdiskusi menjadi bagian dari tradisi akademik yang didorong dalam forum tersebut. Ilmu pengetahuan ditempatkan sebagai ruang untuk mencari kebenaran sekaligus menghasilkan kemaslahatan.
FGD yang berlangsung di Ruang Rapat Rektor UIN Mataram itu dibuka Wakil Rektor II UIN Mataram, Prof. Dr. H. Muhammad Saleh. Hadir pula Direktur Pascasarjana Prof. Dr. H. Subhan Abdullah Achim, M.A., Kepala Biro AUPKK Arya Hukmi, S.E., M.M., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Prof. Dr. Baiq Elbadriati, dosen, serta tenaga kependidikan.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pembentukan budaya akademik tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. Nilai moderasi juga perlu hadir dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, tata kelola, serta interaksi sehari-hari di lingkungan perguruan tinggi.
Perguruan tinggi, dalam konteks itu, memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik. Pendidikan juga diarahkan untuk membentuk pribadi yang memiliki karakter, etika, kepekaan sosial, serta mampu hidup dalam lingkungan masyarakat yang beragam.
Gagasan yang berkembang dalam forum tersebut menjadi refleksi bagi UIN Mataram untuk terus mempertemukan identitas keislaman dengan keterbukaan terhadap kemajemukan. Kemajuan ilmu pengetahuan juga diharapkan berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap budaya dan nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui dialog antara Islam, budaya lokal, ilmu pengetahuan dan peradaban, UIN Mataram didorong untuk terus membangun tradisi akademik yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga moderat, inklusif dan berkeadaban.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....