Unram Terapkan IoT untuk Pantau Kualitas Air di Banyumulek

  • 20 Agt 2026 17:50 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Universitas Mataram menerapkan Kit PEKAT berbasis IoT untuk memantau kualitas air secara real-time di Perumahan Pesona Banyu Asri, Banyumulek.
  • Teknologi ini mengukur empat parameter air, yakni TDS, EC, pH, dan temperatur, serta dapat diakses melalui perangkat yang terhubung internet.
  • Program PkM melibatkan masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu Majlis Ta’lim Baiturrahman, melalui sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan agar mampu memantau serta merawat teknologi secara mandiri.

RRI.CO.ID, Mataram : Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Mataram melaksanakan program pemberdayaan kemitraan masyarakat melalui penerapan teknologi pemantauan kualitas air sanitasi di lingkungan Perumahan Pesona Banyu Asri, Desa Banyumulek, Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan ini mendapatkan dukungan pendanaan dari DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026 dengan nomor kontrak 3984/UN18.L1/PP/2026.

Kegiatan PkM diketuai oleh Dr. Alfina Taurida Alaydrus, S.Pd., M.Sc., dosen Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram. Tim PkM terdiri atas Dr. Arif Budianto, M.Si. (dosen Fisika FMIPA Universitas Mataram) dan Halil Akhyar, ST., M.InfTech. (dosen Teknik Informatika Universitas Mataram) selaku anggota. Selain para dosen, kegiatan ini juga melibatkan 10 mahasiswa Fisika FMIPA Universitas Mataram.

Program ini melibatkan kelompok pengajian Majlis Ta’lim Baiturrahman sebagai mitra. Mayoritas anggota kelompok tersebut adalah ibu rumah tangga. Selain menjadi tempat kegiatan keagamaan, Majlis Ta’lim Baiturrahman juga menjadi ruang pendidikan nonformal serta ruang interaksi sosial bagi masyarakat di lingkungan Pesona Banyu Asri.

Ketua tim pelaksana, Dr. Alfina Taurida Alaydrus, S.Pd., M.Sc., menjelaskan bahwa program tersebut berangkat dari kondisi air sumur bor yang digunakan masyarakat dalam kegiatan sehari-hari. Berdasarkan observasi awal, air di lingkungan mitra ditemukan dalam kondisi kurang jernih, berbau seperti karat, serta mengandung partikel atau pasir.

Hasil pengukuran awal menunjukkan nilai Total Dissolved Solids (TDS) sebesar 310 mg/L dan Electrical Conductivity (EC) sebesar 550 µS/cm. Sementara itu, nilai pH air tercatat sebesar 6,7 dengan temperatur berkisar antara 25–26 °C. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar dilaksanakannya kegiatan pemantauan kualitas air di lingkungan mitra.

“Masyarakat memiliki sumber air yang dapat digunakan, tetapi belum memiliki sarana untuk mengetahui kondisi kualitas air tersebut secara berkala. Karena itu, kami tidak hanya membawa alat, tetapi juga memberikan pengetahuan agar masyarakat mampu melakukan pemantauan secara mandiri,” ujar Dr. Alfina Taurida Alaydrus, S.Pd., M.Sc.

Pemantauan Air Secara Real-Time

Salah satu teknologi yang diterapkan dalam program ini adalah Kit PEKAT, yaitu perangkat pemantauan kualitas air yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian dosen dan mahasiswa Universitas Mataram. Perangkat tersebut dapat mengukur 4 parameter kualitas air, yaitu TDS, EC, pH, dan temperatur.

Data hasil pengukuran diproses menggunakan mikrokontroler dan ditampilkan melalui sistem berbasis Internet of Things (IoT). Dengan sistem tersebut, informasi kualitas air dapat diakses melalui telepon genggam, laptop, komputer, maupun layar monitor yang terhubung ke internet. Kit PEKAT juga dirancang untuk diintegrasikan dengan model Artificial Neural Network (ANN).

Teknologi tersebut digunakan untuk membantu membaca pola perubahan kualitas air dan memberikan informasi peringatan dini apabila salah satu parameter melewati nilai yang telah ditetapkan.

Masyarakat Terlibat Langsung

Program ini tidak hanya berfokus pada penerapan teknologi. Tim pengabdian juga melaksanakan sosialisasi, pelatihan pengoperasian alat, pendampingan pemeliharaan, diskusi kelompok, serta evaluasi bersama masyarakat. Dalam pelaksanaannya, mitra dilibatkan dalam penentuan lokasi pemasangan perangkat, pemantauan operasional alat, perawatan sistem, serta kegiatan Focus Group Discussion (FGD).

Pendekatan partisipatif tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap teknologi yang diterapkan.

Tim juga menargetkan terbentuknya kelompok ibu-ibu tangguh dalam penanggulangan permasalahan air. Kelompok ini diharapkan mampu memahami indikator kualitas air, mengoperasikan alat, melakukan perawatan dasar, serta menyampaikan informasi kepada warga ketika ditemukan kondisi air yang kurang layak.

“Keberhasilan program tidak hanya diukur dari terpasangnya perangkat. Hal yang lebih penting adalah ketika masyarakat mampu menggunakan, merawat, dan memanfaatkan informasi dari perangkat tersebut secara berkelanjutan,” kata Dr. Alfina Taurida Alaydrus.

Mendukung Kesehatan dan Pemberdayaan Perempuan

Melalui program ini, tim menargetkan peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai kualitas air, tersedianya data pemantauan secara real-time, serta peningkatan kemampuan masyarakat (melalui peran perempuan) dalam menangani permasalahan air secara mandiri.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs, khususnya tujuan kehidupan sehat dan sejahtera serta air bersih dan sanitasi yang layak. Program juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar langsung di luar kampus melalui kegiatan sosialisasi, instalasi teknologi, pelatihan, serta pendampingan masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, teknologi hasil penelitian diharapkan tidak hanya menjadi produk akademik, tetapi juga dapat diterapkan secara langsung untuk membantu meningkatkan kualitas kesehatan dan kehidupan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....