Gendang Beleq Berbasis Video Mapping, Tradisi Sasak Tampil dengan Wajah Baru

  • 18 Agt 2026 06:27 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Gendang Beleq di Pantai Kuranji Dalang, Lombok Barat, tampil dengan konsep video mapping yang memadukan musik tradisional Sasak dan teknologi digital.
  • Inovasi ini ditujukan untuk menjaga nilai budaya Gendang Beleq sekaligus membuatnya lebih menarik dan dekat dengan generasi muda.

RRI.CO.ID, Lombok Barat — Tabuhan Gendang Beleq berpadu dengan cahaya dan visual digital dalam pertunjukan berbasis video mapping di Pantai Kuranji Dalang, Lombok Barat, Sabtu malam, 15 Agustus 2026. Pertunjukan ini menjadi upaya menghadirkan seni tradisi Sasak dalam format yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi dan selera generasi muda.

Para penampil mengenakan busana tradisional Sasak. Mereka memainkan gendang, gong, dan instrumen tradisional lainnya, sementara visual digital diproyeksikan ke latar panggung. Perpaduan bunyi dan gambar itu menciptakan suasana pertunjukan yang berbeda dari pementasan Gendang Beleq pada umumnya.

Pertunjukan tersebut dibuka oleh Kepala Desa Kuranji Dalang. Dukungan pemerintah desa menjadi bagian dari upaya menyediakan ruang bagi kreativitas masyarakat sekaligus menjaga keberadaan seni tradisional di tengah perubahan zaman.

Ketua Komunitas Gendang Beleq, Sahidin, mengatakan penggunaan teknologi bukan untuk mengubah atau menghilangkan karakter tradisional Gendang Beleq. Teknologi, kata dia, justru digunakan sebagai medium untuk memperkenalkan kesenian tersebut dengan pendekatan baru.

“Kami ingin Gendang Beleq ini tidak hanya dimainkan sebagai kesenian tradisional, tetapi juga bisa mengikuti perkembangan zaman,” kata Sahidin.

“Melalui video mapping, kami mencoba menghadirkan sesuatu yang baru tanpa menghilangkan karakter dan nilai budaya yang ada di dalam Gendang Beleq," imbuhnya.

Menurut Sahidin, inovasi dibutuhkan agar Gendang Beleq tetap dikenal dan diminati generasi muda. Kolaborasi dengan teknologi visual menjadi salah satu pilihan untuk membuat pertunjukan tradisional lebih atraktif tanpa mengorbankan identitas budaya.

Masyarakat yang hadir malam itu dapat menyaksikan dua pengalaman sekaligus: permainan musik tradisional secara langsung dan sajian visual digital yang memenuhi area panggung. Konsep tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional tidak harus berhenti pada bentuk pertunjukan yang sudah ada.

Gendang Beleq, yang selama ini lekat dengan ekspresi budaya masyarakat Sasak, dipertemukan dengan teknologi multimedia. Pertemuan itu membuka kemungkinan bagi seni tradisi untuk berkembang melalui eksplorasi kreatif, sekaligus menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal dengan cara yang lebih kontekstual.

Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara komunitas seni, pemerintah desa, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan tim dosen pelaksana. Mereka berharap inovasi tersebut tidak hanya menjadikan Gendang Beleq sebagai warisan yang dipertahankan, tetapi juga sebagai kesenian yang terus hidup dan berkembang.

Pertunjukan pada 15 Agustus 2026 itu terlaksana dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Hibah Program Inovasi Seni Nusantara Tahun Anggaran 2026.

Penyelenggara juga menyampaikan apresiasi kepada warga Kuranji Dalang dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pertunjukan. Dukungan masyarakat dinilai menjadi bagian penting agar inovasi seni tradisi dapat terus tumbuh dari lingkungan komunitasnya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....