PkM UIN Mataram di Desa Gapuk, Bekali Warga Hadapi Perubahan Sosial dan Ekonomi
- 17 Agt 2026 15:41 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Rencana Kehadiran Kampus III Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram di Desa Gapuk, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, diproyeksikan membawa perubahan pada kehidupan masyarakat sekitar. Bukan hanya dari sisi pendidikan, tetapi juga ekonomi, sosial, budaya hingga pola interaksi masyarakat.
Menyadari perubahan tersebut, UIN Mataram melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kolaboratif di Desa Gapuk pada 6, 8 dan 10 Agustus 2026. Kegiatan dipusatkan di Kantor Desa Gapuk dengan mengusung tema "Mewujudkan Masyarakat Desa Gapuk yang Sejahtera, Cakap Digital dan Inklusif".
Program tersebut dirancang bukan sekadar memberikan penyuluhan, tetapi menjadi bagian dari proses menyiapkan masyarakat menghadapi perubahan yang akan muncul seiring kehadiran Kampus III UIN Mataram.
Ketua LP2M sekaligus Ketua Pengabdian Integratif UIN Mataram, Prof. Dr. H. Kadri, M.Ag., mengatakan PkM di Desa Gapuk diarahkan pada empat fokus utama, yakni kesadaran hukum terutama pencegahan pernikahan anak, literasi digital, pemberdayaan ekonomi serta moderasi beragama.
Menurutnya, empat aspek tersebut dipilih karena keberadaan kampus nantinya akan membawa mahasiswa, aktivitas ekonomi, perjumpaan budaya hingga penggunaan teknologi yang lebih intensif di tengah masyarakat.
"Pengabdian ini adalah langkah awal untuk menyiapkan masyarakat Gapuk menyongsong kehidupan yang pluralis dan kompetitif. Kehadiran kampus tentu membawa banyak hal, mulai dari mahasiswa, aktivitas ekonomi, budaya sampai perkembangan teknologi," ujarnya saat penutupan acara, Sabtu 15 Agustus 2026.
Dalam konsep PkM tersebut, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penerima program semata. UIN Mataram menggunakan pendekatan community development melalui pemetaan sosial dan identifikasi aset, perencanaan partisipatif, pelatihan, pendampingan serta monitoring dan evaluasi secara partisipatif.
Sasaran kegiatan juga dibuat beragam. Mulai dari perangkat desa, tokoh agama dan tokoh masyarakat, generasi milenial dan Gen Z, santri serta pengajar pondok pesantren, keluarga yang menikah muda, perempuan kepala keluarga hingga penghulu desa. Kegiatan pengabdian tersebut dihadiri oleh 40 peserta dari berbagai kalangan tersebut.

Materi yang diberikan pun tidak berhenti pada satu isu. Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembahasan mengenai hoaks, disinformasi, kecerdasan buatan dan etika bermedia, regulasi perkawinan, serta kewirausahaan kreatif berbasis nilai Islam dan potensi lokal. Hari kedua dilanjutkan dengan workshop cek fakta, pembahasan faktor dan dampak merarik kodek, serta materi pengembangan potensi desa menjadi ide bisnis.
Bagi Gemuh Surya Wahyudi, M.A., anggota tim PkM UIN Mataram, literasi digital menjadi kebutuhan penting karena perubahan di Desa Gapuk diperkirakan semakin cepat setelah Kampus III mulai berkembang.
Ia melihat masyarakat Gapuk yang selama ini banyak bergerak di sektor agraris nantinya akan berhadapan dengan aktivitas baru, seperti kos-kosan, tempat makan dan berbagai usaha jasa yang tumbuh mengikuti kebutuhan mahasiswa.
"Begitu ada pembangunan di satu tempat, kondisi sosial masyarakat otomatis ikut berubah. Karena itu masyarakat perlu disiapkan dari sisi literasi," ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, warga diperkenalkan dengan sejumlah cara untuk memeriksa informasi dan membedakan fakta, hoaks maupun propaganda. Menurut Gemuh, kemampuan tersebut penting untuk mencegah informasi palsu berkembang menjadi fitnah, ujaran kebencian hingga konflik sosial.
UIN Mataram juga menyiapkan keberlanjutan program melalui pembentukan komunitas sadar digital. Komunitas tersebut nantinya tidak hanya diarahkan untuk mampu memilah informasi, tetapi juga memproduksi konten yang positif, sejuk dan mendorong kehidupan sosial yang inklusif.
Persoalan keluarga menjadi fokus lain yang mendapat perhatian. Prof. Dr. H. Jumarim, M.H.I., menyoroti praktik merarik kodek atau perkawinan anak yang masih menjadi persoalan di masyarakat.
Menurutnya, edukasi mengenai usia perkawinan penting untuk mencegah putus sekolah sekaligus memastikan calon orang tua memiliki kesiapan pendidikan dan emosional.
Ia melihat adanya perubahan pola pikir di masyarakat. Kelompok yang telah memperoleh pendidikan lebih tinggi mulai lebih banyak memilih proses perkawinan melalui lamaran dibandingkan merari kodek.
Namun, Prof. Jumarim menilai edukasi tidak cukup dilakukan sekali. Kesadaran tersebut perlu dirawat melalui pengorganisasian masyarakat agar warga dapat saling mengingatkan dan menjadi bagian dari pencegahan perkawinan anak.
"Kalau edukasinya ingin nyambung, masyarakat perlu diwadahkan. Mereka kemudian bisa menjadi bagian yang mencegah dirinya menikah dini, mencegah anaknya dan menjadi bagian dari gerakan tersebut," jelasnya.
Sementara dari sisi desa, kehadiran Kampus III UIN Mataram justru dipandang sebagai peluang yang harus dipersiapkan sejak sekarang.
Kepala Desa Gapuk, Nurudin, S.Pd.I., menyambut positif program PkM tersebut. Ia menilai perubahan akibat kehadiran kampus merupakan hal positif yang yang harus dimanfaatkan dengan baik.
Menurutnya, aktivitas kampus berpotensi membuka ruang ekonomi baru. Kehadiran mahasiswa dapat menciptakan kebutuhan terhadap tempat tinggal, makanan, jasa maupun produk masyarakat setempat.
"Keberadaan UIN tentu menjadi atensi baru, menjadi problem baru juga, tetapi problem yang positif. Mau tidak mau kita harus siap menyambut pembangunan kampus maupun orang-orang baru yang akan berinteraksi dengan warga kami," ujarnya.
Nurudin mengatakan pemerintah desa juga mendorong warga untuk meningkatkan kapasitas agar tidak menjadi asing di wilayah sendiri ketika perubahan mulai berlangsung.
Sejumlah potensi lokal, seperti pertanian, perikanan, perkebunan kelapa dan kerajinan emping, dinilai dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi. Desa juga mulai membentuk wadah "Puan Jaga" bagi perempuan penjaga keluarga agar mereka dapat berperan sebagai subjek pembangunan.
Bagi Nurudin, keberhasilan PkM tidak cukup diukur dari tiga hari pelaksanaan. Namun, antusiasme masyarakat selama kegiatan menjadi tanda awal bahwa ruang kolaborasi antara desa dan UIN Mataram dapat dikembangkan lebih jauh.
Ia berharap hubungan tersebut tidak berhenti setelah program PkM selesai, tetapi berlanjut melalui kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.
"Tiga hari itu memang tidak menjadi barometer penilaian. Tetapi melihat antusiasme masyarakat, saya anggap ini berhasil. Kami berharap UIN betul-betul menjadi partner Desa Gapuk untuk kegiatan-kegiatan berikutnya," katanya.
UIN Mataram menempatkan keberlanjutan sebagai bagian penting dari program, termasuk penguatan komunitas sadar digital, komunitas bisnis atau entrepreneur, komunitas toleransi serta kelompok masyarakat yang bergerak dalam pencegahan pernikahan anak.
Dengan pola tersebut, PkM di Desa Gapuk diarahkan bukan sebagai kegiatan yang berhenti setelah materi disampaikan. UIN Mataram ingin pengetahuan yang diberikan tumbuh menjadi kesadaran dan kemudian berkembang menjadi gerakan masyarakat.
Langkah itu sekaligus menjadi bagian dari persiapan sosial sebelum Kampus III UIN Mataram hadir dan mengubah dinamika Desa Gapuk. Masyarakat diharapkan bukan hanya mampu menerima perubahan, tetapi juga dapat mengambil manfaat sosial dan ekonomi dari perubahan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....