Unram dan Yayasan Partha Kaji Modus Perdagangan Orang di Era Digital
- 13 Agt 2026 16:20 WIB
- Mataram
Universitas Mataram (Unram) bersama Yayasan Parinama Astha (Partha) mengkaji isu perdagangan manusia dalam kegiatan Youth Seminar: Generation Safe Online yang mengangkat tema “Perdagangan Orang di Era Digital”. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Sidang Senat Unram pada hari Rabu, 12 Agustus 2026 dan menghadirkan Ketua Umum Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang sebagai narasumber utama.
Direktur Eksekutif Yayasan Partha, Magdalena Pasaribu, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah modus perdagangan orang yang kini dapat menyasar siapa saja, termasuk mereka yang berpendidikan tinggi. Karena itu, generasi muda perlu dilibatkan dalam upaya pencegahan dan penanganannya.
“Modus perdagangan orang sudah berubah. Kalau dulu sasarannya lebih banyak orang-orang dengan tingkat pendidikan rendah, saat ini tidak demikian. Bahkan S3 pun ada yang menjadi korban,” ujar Magdalena.
Sementara itu, Rektor Unram, Prof. Dr. Sukardi, M.Pd., menekankan pentingnya melihat perdagangan orang bukan sekadar sebagai persoalan kejahatan, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan yang berdampak pada korban dan keluarganya.
Ia menilai kerentanan terhadap perdagangan orang dapat dipicu oleh kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, serta minimnya informasi. Kondisi tersebut semakin perlu diwaspadai di era digital ketika berbagai tawaran pekerjaan dan peluang dapat dengan mudah tersebar. Karena itu, Prof. Sukardi mengajak mahasiswa membangun daya hidup melalui kemampuan berpikir kritis, memahami hak-hak diri, serta menggunakan teknologi secara bijak.
Memasuki sesi talkshow, Ketua Umum Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang sekaligus Pendiri Yayasan Parinama Astha, Rahayu Saraswati Djoyohadikusumo, mengajak peserta melihat perdagangan orang bukan sekadar persoalan hukum, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan yang nyata terjadi di Indonesia. Berbagi pengalamannya sejak terlibat dalam penanganan perdagangan orang pada 2010, Saraswati menekankan bahwa di balik setiap kasus terdapat manusia yang menjadi korban.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak melihat perdagangan orang semata sebagai angka statistik. Menurut paparannya, child abuse material di Indonesia meningkat dari sekitar 70 ribu kasus per tahun pada 2012 menjadi lebih dari satu juta per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa eksploitasi juga dapat berlangsung di ruang digital dan menyasar kelompok rentan, termasuk anak-anak.
“Ini bukan angka, tetapi ini terjadi di tanah air kita sendiri. Ini bukan hanya bicara tentang luar negeri, yang terjadi di Indonesia,” tegasnya.
Saraswati turut menyoroti kondisi NTB yang memiliki jumlah pekerja migran cukup besar membuat peningkatan kesadaran mengenai migrasi aman menjadi semakin penting. Ia menyoroti masih adanya masyarakat yang tertipu tawaran pekerjaan di luar negeri karena tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu. Karena itu, mahasiswa didorong untuk ikut meningkatkan kesadaran di lingkungan masing-masing sekaligus mengembangkan kajian dan inovasi terkait perdagangan orang.
Selanjutnya, Communication for Development Practitioner, Guster Sihombing membahas bagaimana perkembangan ruang digital turut mengubah pola interaksi sekaligus membuka celah baru bagi perdagangan orang. Menurutnya, masyarakat kini hidup dalam era attention economy, ketika perhatian dan aktivitas pengguna di media sosial menjadi sesuatu yang bernilai.
Guster menjelaskan bahwa pelaku perdagangan orang kini tidak selalu hadir melalui ancaman atau paksaan secara langsung. Mereka dapat terlebih dahulu membangun kedekatan melalui media sosial, menjadi teman berbagi cerita, pasangan, atau seseorang yang memberikan rasa aman sebelum hubungan tersebut berubah menjadi ancaman.
Menanggapi hal tersebut, Rektor Unram menekankan pentingnya pendidikan dan literasi agar masyarakat mampu mengenali berbagai bentuk kerentanan yang dapat mengarah pada eksploitasi, “Pendidikan itu bukan hanya untuk mencari kejayaan, tapi harus membantu kita mengenali hidup dan mengenali dunia.” (Humas Unram)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....