Ramai di Medsos: Sakit Lihat Teman Baik ke Musuhmu

  • 13 Agt 2026 10:17 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Kenapa melihat sahabat tetap akrab dengan orang yang menyakiti kita terasa seperti dikhianati? Ini penjelasan psikologi di balik rasa ditinggalkan itu.

RRI.CO.ID, Mataram - Belakangan ini, curahan hati soal "teman yang katanya netral" kerap jadi bahan konten pendek di TikTok dan Instagram. Videonya biasanya sederhana: tulisan reflektif di layar hitam, diiringi lagu sendu, isinya soal seseorang yang merasa dikhianati karena sahabatnya sendiri tetap ramah dengan orang yang justru memusuhinya.

Salah satu contohnya bisa dilihat di unggahan akun TikTok @my_s.t.o.r.y, yang membahas soal memilih hidup netral dan tetap berbuat baik pada orang lain meski namanya sudah dijelekkan, di cerita pihak yang berkonflik dengannya. Videonya sederhana, tapi kolom komentarnya ramai oleh orang-orang yang mengaku relate dengan situasi serupa.

Fenomena ini menggambarkan sisi lain dari isu yang pernah dibahas sebelumnya, yakni sosok "penengah" yang memilih netral demi menjaga kewarasannya sendiri di tengah konflik pertemanan. Kali ini, sudut pandangnya dibalik. Bagaimana rasanya jadi pihak yang sedang terluka, lalu melihat sahabat sendiri malah tetap santai mengobrol, nongkrong, bahkan menyukai unggahan media sosial orang yang jelas-jelas pernah menyakitinya?

Bagi orang yang sedang berada dalam posisi tersakiti, situasi semacam ini jarang terasa sesederhana kata "maklum". Di baliknya, sering tersimpan rasa perih yang tidak terucap.

Kenapa Kita Butuh Validasi dari Sahabat?

Hubungan pertemanan yang intim, menurut psikiater Harry Stack Sullivan lewat teori Interpersonal Theory of Psychiatry, bukan sekadar ikatan untuk mengisi waktu luang. Dikutip dari kajian Social Work Institute, Sullivan menyebut kepribadian seseorang justru terbentuk dan hanya bisa dipahami lewat relasi interpersonalnya, dan persahabatan dekat menjadi ruang penting tempat seseorang mencari rasa aman sekaligus penegasan atas harga dirinya.

Saat seseorang disakiti atau dikhianati pihak lain, fondasi kepercayaannya ikut goyah. Dalam kondisi rapuh semacam ini, secara naluriah manusia cenderung mencari sekutu, sebuah mekanisme yang dalam psikologi sosial dikenal sebagai efek penyangga sosial atau social buffering effect. Dilansir dari Sage Reference Encyclopedia of Social Psychology, dukungan sosial berfungsi sebagai penyangga yang meredam dampak stres terhadap kesejahteraan psikologis seseorang, sehingga kehadiran sahabat idealnya menjadi benteng yang menegaskan "kamu tidak salah, kamu aman bersamaku."

Masalahnya, ketika sahabat justru memilih berdiri netral dan tetap menjaga hubungan baik dengan sumber luka tersebut, benteng itu terasa runtuh. Tanpa disadari, sikap netral itu bisa diterjemahkan sebagai pesan tersirat bahwa rasa sakitnya dianggap tidak cukup penting untuk membuat sahabatnya menjaga jarak dari orang itu.

Aturan Tak Tertulis Bernama Solidaritas

Dari sisi sosiologi, dinamika ini bisa dijelaskan lewat Social Identity Theory yang dicetuskan psikolog Henri Tajfel. Dilaporkan Britannica, teori ini menjelaskan bagaimana individu mengategorikan diri mereka ke dalam kelompok tertentu, yang kemudian memengaruhi persepsi dan perilaku terhadap kelompok lain di luar dirinya.

Dalam lingkaran pertemanan yang erat, ada semacam aturan tak tertulis soal solidaritas kelompok dalam atau in-group solidarity. Sahabat kerap dianggap sebagai perpanjangan dari diri sendiri, sehingga muncul ekspektasi moral bahwa musuh sahabat adalah musuh bersama. Ketika aturan tak tertulis ini "dilanggar" atas nama profesionalitas atau kedewasaan, muncul ketegangan batin yang dalam psikologi disebut disonansi kognitif.

Sosiolog Arlie Hochschild menyebut kondisi ini bisa memaksa sahabat yang terluka melakukan kerja emosional atau emotional labor yang berat. Di depan sahabatnya, ia harus menahan kekecewaan dan tampil seolah berlapang dada, padahal di dalam hati ada perasaan ditinggalkan sendirian menghadapi konfliknya.

Ketika Jarak Emosional Perlahan Tercipta

Sikap netral yang dipilih seorang sahabat pada akhirnya bisa berdampak nyata pada kualitas hubungan itu sendiri. Pihak yang terluka berisiko mulai menarik diri, tidak lagi menceritakan kerapuhan dan keluh kesahnya secara utuh, karena muncul kekhawatiran ceritanya tidak akan mendapat pembelaan emosional yang penuh. Hubungan yang semula terasa dalam, perlahan menyusut menjadi sekadar formalitas di permukaan.

Boleh Kecewa, Tapi Jangan Dipendam

Melihat sahabat tetap baik-baik saja dengan orang yang pernah menyakiti kita memang membutuhkan kedewasaan psikologis yang tidak mudah dicapai, apalagi ketika luka masih terasa segar. Namun merasa kecewa dengan sikap netral sahabat sendiri bukan berarti kekanak-kanakan. Itu reaksi manusiawi yang valid, sebentuk harapan wajar akan loyalitas dari orang yang dianggap berharga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....