SMAN 3 Mataram Evaluasi Program, Disiplin hingga Literasi Jadi Prioritas
- 02 Agt 2026 21:09 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – SMA Negeri 3 Mataram menetapkan sejumlah program prioritas pada tahun ajaran 2026/2027 setelah menggelar rapat kerja (Raker) selama dua hari. Selain mengevaluasi pelaksanaan program tahun sebelumnya, sekolah juga merumuskan berbagai inovasi baru, mulai dari penguatan budaya disiplin, peningkatan literasi, hingga persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Kepala SMAN 3 Mataram, Yuspita Martiningrum, mengatakan rapat kerja merupakan agenda tahunan yang menjadi forum seluruh unsur sekolah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program yang telah berjalan sekaligus menyusun strategi peningkatan mutu pendidikan pada tahun berikutnya.
Menurutnya, setiap bidang diminta menyampaikan capaian, hambatan, serta usulan program baru agar kebijakan yang diambil benar-benar berdasarkan kebutuhan sekolah.
"Raker ini menjadi ruang evaluasi program-program yang sudah berjalan sekaligus mematangkan program tahun berikutnya. Ada program yang kami pertahankan, ada yang kami sempurnakan, bahkan ada yang kami hentikan apabila dinilai kurang efektif," ungkapnya, Sabtu 1 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, pembahasan dalam rapat kerja dibagi ke dalam lima kelompok kerja atau DPC yang terdiri atas empat bidang wakil kepala sekolah serta satu bidang tata usaha. Masing-masing kelompok melakukan evaluasi terhadap program sesuai tugasnya sebelum diputuskan menjadi prioritas sekolah.
Yuspita menegaskan setiap program yang disusun harus mempertimbangkan efektivitas pelaksanaan dan penggunaan anggaran. Sebab seluruh kegiatan sekolah dibiayai dari dana negara sehingga harus memberikan manfaat nyata bagi peserta didik maupun peningkatan kualitas layanan pendidikan.
"Semua program yang kami buat memiliki konsekuensi pembiayaan. Karena itu saya selalu mengingatkan agar seluruh warga sekolah melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Kalau ada kendala di lapangan, tugas kita adalah menyempurnakannya, bukan menghentikannya," ujarnya.
Salah satu evaluasi yang mendapat perhatian khusus dalam rapat kerja ialah penanganan siswa yang berulang kali datang terlambat ke sekolah. Berdasarkan evaluasi, pola pembinaan yang selama ini diterapkan dinilai belum memberikan perubahan yang signifikan karena masih terdapat siswa yang melakukan pelanggaran secara berulang.
Menurut Yuspita, selama ini sekolah telah memberikan pembinaan berupa teguran, kegiatan keagamaan, hingga membantu menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Namun pendekatan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan akar persoalan.
Karena itu, mulai tahun ajaran ini sekolah akan menerapkan mekanisme baru dengan melibatkan orang tua apabila siswa telah beberapa kali terlambat.
"Kalau selama ini pembinaannya hanya di internal sekolah, sekarang kami sepakati apabila siswa terlambat tiga kali, maka pada pelanggaran berikutnya orang tua akan kami panggil. Kami ingin mengetahui penyebab sebenarnya sehingga penyelesaiannya juga tepat," jelasnya.
Selain memperkuat budaya disiplin, hasil rapat kerja juga melahirkan sejumlah program baru yang akan mulai diterapkan pada tahun ajaran ini. Salah satunya adalah penguatan budaya literasi melalui kegiatan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai.
Program tersebut akan dilengkapi dengan lomba menulis cerpen dan esai yang diselenggarakan secara berkala sebagai wadah bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, sekaligus berpikir kritis.
"Kami ingin budaya literasi benar-benar hidup di sekolah. Tidak hanya membaca selama 15 menit, tetapi juga kami siapkan lomba menulis cerpen maupun esai secara rutin agar kemampuan literasi anak-anak terus berkembang," ungkapnya.
Program lain yang menjadi perhatian adalah penguatan persiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya memberikan pendalaman materi menjelang pelaksanaan tes, kini latihan soal TKA akan disisipkan ke dalam jam pelajaran sejak awal tahun ajaran.
Yuspita meyakini strategi tersebut akan memberikan hasil yang lebih optimal karena siswa memiliki waktu belajar yang lebih panjang dibandingkan hanya mengikuti bimbingan belajar beberapa minggu sebelum ujian.
"Dulu persiapannya hanya sekitar dua minggu sebelum pelaksanaan. Sekarang kami mulai sejak awal tahun dengan menyisipkan latihan soal TKA pada jam pelajaran sehingga anak-anak memiliki waktu yang lebih panjang untuk mempersiapkan diri," terangnya.
Ia berharap seluruh hasil rapat kerja tersebut mampu memperkuat kualitas layanan pendidikan di SMAN 3 Mataram sekaligus menciptakan keseimbangan antara peningkatan prestasi akademik, pembentukan karakter, serta budaya sekolah yang semakin disiplin dan berorientasi pada mutu.
Menurutnya, evaluasi yang dilakukan setiap tahun bukan sekadar memenuhi agenda administrasi, tetapi menjadi instrumen penting dalam memastikan seluruh program sekolah benar-benar menjawab kebutuhan peserta didik dan perkembangan dunia pendidikan.
"Kami ingin setiap program yang dijalankan memiliki dampak nyata bagi anak-anak. Karena tujuan akhirnya bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter dan budaya belajar yang lebih baik," katanya, menutup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....