KOSEMBA, Ikhtiar Desa Sajang Jadikan Kopi sebagai Motor Wisata Berkelanjutan

  • 31 Jul 2026 19:39 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Program KOSEMBA mengembangkan Desa Sajang sebagai destinasi agro-eduwisata kopi dengan mengintegrasikan pertanian, pariwisata, pendidikan, dan teknologi.
  • Program ini diharapkan meningkatkan nilai tambah kopi lokal, memperkuat UMKM, dan mendorong ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

RRI.CO.ID, Lombok Timur - Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, mulai mengembangkan konsep pariwisata berbasis agro-eduwisata kopi melalui program KOSEMBA (Kopi Sajang Sembalun). Program ini dirancang untuk mengintegrasikan sektor pertanian, pendidikan, pariwisata, dan teknologi sebagai upaya mendorong ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.

Selama ini Desa Sajang dikenal sebagai salah satu pintu gerbang menuju kawasan Gunung Rinjani. Di balik potensi alam tersebut, desa ini juga memiliki komoditas kopi yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpeluang dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

Melalui konsep KOSEMBA, wisatawan tidak hanya disuguhi cita rasa kopi khas Sajang, tetapi juga diajak mengikuti proses budidaya, panen, pengolahan, hingga penyajian kopi secara langsung. Pendekatan ini diharapkan memberi pengalaman edukatif sekaligus meningkatkan nilai tambah produk kopi lokal.

Ketua pelaksana kegiatan pengabdian, Abdul Majid Junaidi, mengatakan pengembangan pariwisata di Desa Sajang perlu diarahkan pada prinsip keberlanjutan. Tujuannya, agar manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan maupun budaya setempat.

"Potensi kopi yang dimiliki Desa Sajang merupakan aset yang sangat strategis untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata edukatif yang mampu memberikan nilai tambah bagi petani, pelaku UMKM, dan masyarakat secara keseluruhan," kata Abdul Majid, Jum'at 31 Juli 2026.

Program ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama. Kelompok tani, pelaku UMKM, pemuda desa, hingga kelompok sadar wisata dilibatkan dalam pengelolaan destinasi. Dengan pola tersebut, kopi tidak hanya diposisikan sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai identitas desa yang mampu menarik wisatawan dan membuka peluang usaha baru.

Tim pelaksana yang terdiri atas M. Joni Iskandar, Muhammad Anwar, dan Soraya Gigentika menilai pemanfaatan teknologi menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing destinasi wisata.

Menurut mereka, pengembangan wisata berbasis kopi perlu didukung promosi digital, pemasaran produk secara daring, sistem informasi wisata, hingga pengelolaan destinasi berbasis teknologi agar potensi Desa Sajang semakin dikenal.

"Pengembangan pariwisata saat ini tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Diperlukan sentuhan teknologi, mulai dari promosi digital, pemasaran produk kopi secara daring, sistem informasi wisata, hingga pengelolaan destinasi berbasis teknologi," ujar tim pelaksana.

"Dengan demikian, potensi Desa Sajang dapat dikenal lebih luas dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat," imbuhnya.

Melalui program KOSEMBA, berbagai kegiatan akan dilakukan. Seprti, pelatihan pengelolaan agro-eduwisata kopi, peningkatan kapasitas pelaku wisata, penguatan merek Kopi Sajang, digitalisasi promosi destinasi, penyusunan paket wisata edukasi kopi, serta pendampingan UMKM untuk menghasilkan produk kopi bernilai tambah.

Program ini juga mendorong kolaborasi antara pemerintah desa, perguruan tinggi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Ke depan, KOSEMBA ditargetkan menjadi identitas baru Desa Sajang sebagai destinasi agro-eduwisata kopi di kawasan Sembalun. Selain meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, program tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani kopi, sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Program KOSEMBA terlaksana melalui dukungan pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Kewilayahan Tahun Anggaran 2026. Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan mendukung pembangunan berbasis potensi lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....