Belajar Cerdas, Bukan Sekadar Mengejar Nilai
- 23 Jul 2026 11:03 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Budaya belajar yang masih berorientasi pada nilai rapor dinilai menjadi tantangan besar dalam dunia pendidikan saat ini. Tidak sedikit siswa yang belajar hanya untuk mendapatkan angka tinggi, bahkan rela berada di bawah tekanan demi menghindari nilai rendah. Kondisi tersebut menjadi pembahasan dalam Majalah Udara Beranda Astacita bertajuk “Belajar Cerdas Bukan Sekadar Mengejar Nilai” yang disiarkan di Studio Pro 1 RRI Mataram, Rabu sore 22 Juli 2026. Dialog yang menghadirkan Sudomo, S.Pd., Guru SMPN 3 Lingsar.
Topik tersebut dinilai relevan setelah seluruh sekolah menyelesaikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung secara efektif.
Sudomo menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara siswa yang belajar hanya untuk mengejar nilai dengan siswa yang benar-benar memahami materi pelajaran. Menurutnya, siswa yang berorientasi pada nilai cenderung belajar secara dangkal dan hanya menghafal materi tanpa memahami maknanya.
“Anak-anak yang belajar hanya untuk mengejar nilai biasanya belum belajar secara mendalam. Mereka lebih banyak menghafal. Berbeda dengan siswa yang sadar apa yang dipelajari, mengapa harus belajar, dan apa manfaat yang akan diperoleh dari materi tersebut,” ujarnya.
Menurut Sudomo, siswa yang belajar dengan kesadaran tujuan belajarnya akan lebih mudah mengenali metode belajar yang sesuai dengan dirinya. Mereka memahami bahwa setiap materi membutuhkan pendekatan yang berbeda sehingga proses belajar menjadi lebih efektif dan bermakna.
Sebaliknya, orientasi berlebihan terhadap nilai sering kali memunculkan rasa takut gagal. Akibatnya, siswa belajar dalam tekanan dan lebih fokus pada hasil akhir dibandingkan proses memahami materi. Kondisi ini bahkan dapat memicu perilaku negatif seperti menyontek demi memperoleh nilai tinggi.
“Kalau hanya mengejar nilai, ada rasa takut mendapatkan nilai rendah. Akhirnya belajar dilakukan dalam kondisi tertekan. Hasilnya tentu berbeda dengan siswa yang belajar karena atas kemauan sendiri dan ingin memahami materi,” katanya.
Sudomo menilai pola pikir seperti ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi para guru dan orang tua. Berdasarkan pengalamannya di sekolah, budaya belajar yang berorientasi pada nilai masih cukup dominan, bahkan mencapai lebih dari 50 persen.
Ia mencontohkan pengalaman saat memberikan tugas berbasis kreativitas dan teknologi digital kepada siswa. Ketika diminta membuat vlog atau video terkait materi pelajaran, sebagian besar siswa justru langsung bertanya apakah tugas tersebut akan dinilai.
“Padahal sebelum dijelaskan detail tugasnya, mereka sudah bertanya apakah ada nilainya. Seharusnya yang ditanyakan adalah bagaimana cara membuat vlog atau video yang baik. Ini menunjukkan bahwa fokus mereka masih pada nilai,” ungkapnya.
Menurutnya, pola pikir tersebut juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Banyak orang tua masih menjadikan nilai rapor sebagai tolok ukur utama keberhasilan belajar anak. Akibatnya, tekanan terhadap capaian akademik sering kali lebih besar dibandingkan perhatian terhadap proses belajar dan pengembangan potensi siswa.
Padahal dalam Kurikulum Merdeka, setiap anak memiliki kecerdasan dan keunggulan yang berbeda. Namun perubahan pola pikir masyarakat tidak bisa terjadi secara instan karena selama bertahun-tahun sistem pendidikan identik dengan pencapaian nilai.
Sudomo menegaskan bahwa nilai bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Nilai tetap penting sebagai alat ukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Namun nilai yang baik harus diperoleh melalui proses belajar yang benar dan pemahaman yang kuat.
“Kalau siswa mendapatkan nilai 90 karena benar-benar memahami materi yang dipelajari, tentu tidak ada masalah. Yang penting siswa sadar sedang belajar apa dan memahami prosesnya,” tegasnya.
Sudomo mengajak siswa, guru, dan orang tua untuk bersama-sama membangun budaya belajar yang lebih sehat, yakni belajar untuk memahami, mengembangkan kemampuan diri, dan mempersiapkan masa depan, bukan semata-mata mengejar angka di rapor.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....