SMKN 5 Mataram Perkuat Sekolah Ramah Anak Lewat Sistem Pelaporan Berlapis
- 22 Jul 2026 15:00 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram - Mewujudkan lingkungan belajar yang aman tidak cukup hanya mengandalkan aturan sekolah. SMKN 5 Mataram memilih membangun sistem pencegahan yang memungkinkan seluruh warga sekolah hingga masyarakat ikut berperan dalam mencegah terjadinya perundungan maupun bentuk kekerasan lainnya.
Kepala SMKN 5 Mataram, H. Istiqlal, mengatakan sekolah telah membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) sebagai langkah awal menciptakan sekolah ramah anak. Tim tersebut telah disahkan dan memiliki mekanisme kerja yang jelas dalam menerima maupun menindaklanjuti setiap laporan.
"Pertama kami membentuk tim pencegahan kekerasan atau bullying di sekolah. Tim ini sudah kami sahkan dan memiliki mekanisme kerja yang jelas," ujarnya, Rabu 22 Juli 2026.
Menurut Istiqlal, sekolah juga menyediakan berbagai saluran pelaporan agar siswa maupun masyarakat tidak ragu menyampaikan persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah. Selain melalui WhatsApp dan hotline khusus yang dikelola bidang kesiswaan, sekolah juga menyediakan kotak saran yang dapat digunakan secara anonim.
Ia menjelaskan, sistem anonim sengaja diterapkan untuk memberikan rasa aman kepada pelapor. Dengan demikian, siswa cukup menuliskan permasalahan yang terjadi tanpa harus mencantumkan identitas dirinya.
"Kalau ada yang tidak berani melapor secara langsung, cukup menuliskan permasalahannya secara anonim. Tim kami nanti yang akan menindaklanjutinya," katanya.
Setiap laporan yang masuk kemudian direkap oleh tim untuk diverifikasi sebelum dilakukan penanganan. Apabila laporan berkaitan dengan tenaga pendidik, penyelesaiannya dilakukan secara profesional tanpa membuka identitas pelapor.
"Kami tidak pernah menyebut siapa yang melapor. Yang kami sampaikan hanya pokok persoalannya sehingga tidak ada pihak yang merasa dihakimi," ucapnya.
Menariknya, Istiqlal mengungkapkan sebagian besar laporan yang masuk melalui kotak saran justru bukan mengenai perundungan antarsiswa. Sebaliknya, laporan lebih banyak berkaitan dengan kedisiplinan guru, seperti keterlambatan masuk kelas.
Ia menegaskan setiap laporan tetap ditindaklanjuti sebagai bentuk komitmen sekolah dalam meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.
"Kalau ada laporan guru terlambat atau tidak masuk kelas, kami langsung memanggil yang bersangkutan untuk dilakukan pembinaan," tuturnya.
Selain membangun sistem pelaporan, SMKN 5 Mataram juga terus memperkuat kolaborasi dengan orang tua agar pengawasan terhadap peserta didik tidak berhenti ketika mereka meninggalkan lingkungan sekolah.
Melalui sistem pelaporan yang terbuka, perlindungan identitas pelapor, serta keterlibatan seluruh warga sekolah, SMKN 5 Mataram berharap budaya saling menghormati dapat terus tumbuh dan menjadikan sekolah sebagai ruang belajar yang aman bagi seluruh peserta didik.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....