Teknologi SIGERU Ubah Rumput Laut Jerowaru Jadi Produk Bernilai Tinggi
- 20 Jul 2026 20:41 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Rumput laut di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, selama ini dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga memberikan keuntungan terbatas bagi pembudidaya.
- Teknologi SIGERU (Sistem Inovasi Gerakan Rumput Laut Unggul) diterapkan pada Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Dende Ringgit untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.
- Program ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal yang memanfaatkan potensi rumput laut.
RRI.CO.ID, Lombok Timur – Potensi rumput laut yang melimpah di Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, selama ini belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi maksimal bagi masyarakat. Sebagian besar hasil panen masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga keuntungan yang diterima pembudidaya relatif terbatas.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya Teknologi SIGERU (Sistem Inovasi Gerakan Rumput Laut Unggul) yang diterapkan pada Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Dende Ringgit. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas rumput laut, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan produk pangan berbasis sumber daya lokal.
Jerowaru dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Besarnya potensi tersebut dinilai belum optimal karena rantai usaha masih didominasi penjualan bahan baku. Melalui SIGERU, masyarakat didorong masuk ke sektor hilir dengan mengolah rumput laut menjadi berbagai produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Ketua Tim Pelaksana Program, Dr. Ahmad Rosidi, M.H., mengatakan SIGERU dirancang sebagai model pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan inovasi teknologi dengan penguatan kelembagaan ekonomi lokal.
"Apabila potensi rumput laut mampu diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah melalui inovasi teknologi seperti SIGERU, maka masyarakat tidak hanya memperoleh peningkatan pendapatan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi yang berkelanjutan," ujar Ahmad, Senin 20 Juli 2026.
Melalui program tersebut, anggota Poklahsar Dende Ringgit memperoleh pendampingan mulai dari teknik pengolahan, pengembangan produk, manajemen usaha, desain kemasan, pemasaran digital, hingga pemenuhan standar mutu dan legalitas usaha. Pendekatan itu diharapkan mampu menciptakan usaha yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.
Sejumlah produk mulai dikembangkan, di antaranya kerupuk rumput laut, stik rumput laut, minuman kesehatan, serta berbagai pangan fungsional berbahan dasar rumput laut. Diversifikasi produk dinilai menjadi langkah penting untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat yang selama ini bergantung pada penjualan rumput laut mentah.
Selain memberi nilai ekonomi lebih tinggi, pengolahan rumput laut juga mendukung upaya memperkuat ketahanan pangan. Rumput laut mengandung serat, mineral, dan berbagai nutrisi yang berpotensi menjadi bahan pangan bergizi sekaligus membuka peluang lahirnya industri pangan lokal berbasis sumber daya pesisir.
Menurut Ahmad Rosidi, keberhasilan pengembangan ekonomi pesisir tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kolaborasi berbagai pihak. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan kelompok masyarakat dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem ekonomi pesisir yang produktif, inklusif, dan kompetitif.
Pendampingan yang berkelanjutan, kata dia, akan mempercepat transformasi usaha mikro berbasis sumber daya lokal menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir.
Program penguatan kapasitas Poklahsar Dende Ringgit melalui Teknologi SIGERU diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang direplikasi di berbagai sentra rumput laut di Indonesia. Dengan meningkatnya kemampuan produksi, kualitas produk, dan akses pasar, masyarakat pesisir diharapkan tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga pelaku utama industri pengolahan yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Program ini terlaksana berkat dukungan pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Anggaran 2026. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan memperkuat ekonomi berbasis potensi lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....