Ketika 'Urusanmu Bukan Urusanku' Jadi Pilihan

  • 28 Jul 2026 08:27 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Menolak terlibat dalam perselisihan orang lain di lingkaran pergaulan bukan berarti cari aman. Ini penjelasan ilmiah mengapa memilih jalan tengah itu mandiri sekaligus berisiko.

RRI.CO.ID, Mataram: Di dalam dinamika lingkaran pergaulan, kita pasti pernah atau sedang menghadapi situasi yang serba salah. Di satu sisi, ada seseorang yang sangat dekat dengan kita. Di sisi lain, ada pihak yang jelas-jelas tidak sejalan atau sedang berselisih dengan orang dekat kita tersebut, tetapi kita memilih untuk tetap menyapa, mengobrol, dan berhubungan baik dengannya.

Bagi sebagian orang, sikap ini kerap dicap sebagai bentuk "cari aman" atau bahkan memudarinya solidaritas pertemanan. Namun, dari sudut pandang psikologi dan ilmu sosial, kalimat "urusanmu bukan urusanku" di tengah ketegangan orang lain sebenarnya adalah sebuah mekanisme pertahanan diri yang sangat waras. Meski begitu, jalan tengah ini tidak pernah gratis; ada harga sosial dan psikologis yang cukup mahal yang harus dibayar.

Sekat Pikiran yang Menyelamatkan Mental

Menjaga hubungan baik dengan dua pihak yang sedang tidak bertegur sapa secara psikologis memicu kondisi bernama cognitive dissonance (disonansi kognitif) yang dicetuskan oleh Leon Festinger. Otak kita secara alami akan merasa tidak nyaman dan tegang karena berada di antara dua arus energi yang bertabrakan.

Untuk bertahan di situasi ini tanpa harus kehilangan ketenangan, seseorang biasanya akan melakukan kompartemalisasi. Mereka membuat sekat-sekat terpisah di dalam pikiran mereka. Menurut teori Keseimbangan Kognitif (Balance Theory) dari Fritz Heider, ketika sistem sosial kita tidak seimbang (Kita dekat dengan si A, si A tidak sejalan dengan si B, tapi kita juga ramah pada si B), otak akan dipaksa mencari cara untuk meredakan ketegangan tersebut. Caranya? Dengan memilih posisi netral dan menganggap konflik mereka berada di luar kendali kita.

Banyak individu yang memilih jalan ini sebenarnya memiliki batasan diri (boundary) yang sehat. Mereka mampu memisahkan antara empati personal dan hak otonom untuk menentukan dengan siapa mereka ingin berkomunikasi. Sederhananya: "Aku menghargai posisimu yang tidak sejalan dengannya, tapi tolong hargai keputusanku untuk tidak ikut menjauhinya."

Risiko Nyata: Beban Emosional dan Kehilangan Kepercayaan

Namun, mempraktikkan objektivitas di dunia nyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Risiko terbesar dari sikap ini adalah apa yang disebut sosiolog Arlie Hochschild sebagai emotional labor (kerja emosional).

Si penengah harus terus-menerus memakai "topeng" yang berbeda tergantung dengan siapa dia sedang berbicara. Di depan orang terdekat, dia harus menjaga ekspresi agar tidak terlihat membela pihak seberang. Di depan pihak sebelah, dia harus tetap kasual. Proses menyaring ucapan dan menjaga bahasa tubuh ini secara konstan sangat menguras energi mental dan memicu kelelahan emosional (burnout sosial).

Selain melelahkan secara mental, sosiologi kelompok juga menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan yang kuat terhadap konsep In-Group vs Out-Group (Kelompok Kita vs Kelompok Luar), sebuah fenomena yang dibedah oleh psikolog sosial Henri Tajfel.

Ketika Anda menolak untuk membatasi hubungan, kedua kubu justru bisa menaruh curiga:

Di mata orang terdekat, Anda dianggap kurang memiliki rasa kesetiakawanan. Akibatnya, keintiman hubungan (loss of intimacy) bisa memudar. Mereka mungkin perlahan menarik diri dan tidak lagi menceritakan hal-hal mendalam karena ada kekhawatiran psikologis bahwa ruang aman itu telah bergeser.

Di mata pihak sebelah, Anda bisa dicap oportunis, kurang tegas, atau bahkan dianggap membawa agenda dari lingkaran inti Anda.

Pada titik terekstrem, pilihan untuk tidak berpihak justru berisiko membuat seseorang tereliminasi secara alami dari kedua lingkungan tersebut dan berakhir dalam kesepian sosial.

Kedewasaan yang Sunyi

Memilih prinsip "urusanmu bukan urusanku" dalam hal perbedaan interpersonal memang seolah menempatkan kita di atas tali tipis yang rawan bergoyang. Sosiolog Erving Goffman dalam teori Dramaturgi mengingatkan bahwa setiap peran yang kita ambil di panggung sosial selalu membawa konsekuensi penilaian dari penontonnya.

Namun pada akhir cerita, netralitas yang konsisten selama tidak mengorbankan nilai-nilai kejujuran dan tidak bermaksud mengadu domba adalah salah satu bentuk kedewasaan sosial yang matang. Ini adalah seni mengendalikan ego dan menolak untuk terseret oleh pusaran konflik orang lain.

Mengambil jalan tengah bukan berarti bebas dari masalah, melainkan keberanian untuk memilih jenis risiko yang siap kita hadapi. Risiko ikut menjauhi seseorang adalah menambah jarak baru dengan orang lain; sedangkan risiko tetap netral adalah rawan disalahpahami oleh lingkungan sendiri.

Jadi, jika hari ini Anda memilih untuk tetap menyapa semua orang dengan hangat tanpa peduli siapa yang sedang renggang dengan siapa, Anda tidak sedang berkhianat. Anda hanya sedang membayar harga yang cukup tinggi demi menjadi manusia yang merdeka atas pilihan sosial Anda sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....