Dikpora NTB Dorong Classroom of Hope Perluas Pembangunan hingga SMA Sederajat

  • 05 Jul 2026 10:00 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur – Program pembangunan ruang kelas yang selama ini dijalankan Classroom of Hope di Pulau Lombok diharapkan tidak berhenti pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Provinsi Nusa Tenggara Barat mendorong agar bantuan serupa juga menyasar SMA dan SMK yang masih menghadapi persoalan bangunan tua dan rusak.

Kepala Dikpora NTB, Syamsul Hadi, mengatakan kebutuhan rehabilitasi ruang belajar di jenjang pendidikan menengah masih cukup tinggi. Karena itu, pemerintah daerah berharap kerja sama dengan Classroom of Hope dapat diperluas sehingga lebih banyak sekolah memperoleh fasilitas belajar yang layak.

"Saya berharap Hope Foundation juga dapat memberikan bantuan ke jenjang SMA dan SMK karena memang banyak sekolah-sekolah kita yang sudah termakan usia dan mengalami kerusakan," kata Syamsul, Sabtu 4 Juli 2026.

Menurutnya, hingga kini belum ada laporan resmi mengenai rencana perluasan program tersebut ke jenjang SMA maupun SMK. Meski demikian, peluang kerja sama dinilai masih terbuka karena Classroom of Hope masih akan melanjutkan program pembangunan sekolah di Lombok.

Syamsul menjelaskan, sejak mulai berkontribusi pascagempa Lombok 2018, Classroom of Hope menargetkan pembangunan sekitar 200 sekolah di Pulau Lombok. Hingga saat ini, baru sekitar 50 sekolah yang telah dibangun, sehingga masih tersisa sekitar 150 sekolah yang berpotensi mendapatkan bantuan.

"Artinya masih ada sekitar 150 sekolah yang mungkin bisa kita fasilitasi," ujarnya.

Ia mengatakan pemerintah daerah akan segera melakukan koordinasi sekaligus memvalidasi data sekolah yang layak diusulkan sebagai penerima bantuan. Langkah tersebut diperlukan karena Classroom of Hope memiliki sejumlah persyaratan dalam menentukan sekolah penerima program.

Salah satu syarat utama adalah tingkat kerusakan bangunan serta potensi bahaya yang ditimbulkan terhadap aktivitas belajar mengajar.

"Kita harus menyiapkan data yang valid terkait sekolah mana yang bisa diberikan bantuan karena mereka memiliki persyaratan tertentu, terutama tingkat kerusakan dan potensi bahaya yang ada," jelasnya.

Selain validasi data, mekanisme pengajuan bantuan juga akan dibahas bersama. Menurut Syamsul, setiap usulan kemungkinan harus dilengkapi hasil analisis tingkat kerusakan bangunan serta estimasi kebutuhan biaya rehabilitasi sebagai bahan pertimbangan.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga filantropi seperti Classroom of Hope dapat mempercepat pemenuhan infrastruktur pendidikan di NTB, khususnya bagi sekolah-sekolah yang kondisinya sudah tidak layak digunakan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....