Emma Heik, Mahasiswi Jerman Mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa di Unram

  • 04 Jul 2026 11:13 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Bisa belajar langsung memahami dunia pendidikan, nilai-nilai budaya hingga berbagai perspektif yang berkembang di negara lain adalah impian setiap pelajar muda. Banyak yang berusaha melalui jalur beasiswa, mengikuti seminar-seminar, kursus pendek, atau pertukaran pelajar.

Hal ini juga dirasakan oleh Emma Feik, mahasiswa Primary School Teaching dari University of Kassel, Jerman, yang tengah mengikuti program pertukaran mahasiswa Changes: Exploring Critical Sustainable Development Education from Global Perspectives di Universitas Mataram dari 1 April 2026 hingga 31 Juli 2026.

Melalui program ini, Emma mengikuti perkuliahan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Baginya, kesempatan belajar di Unram menjadi ruang untuk mengenal sistem pendidikan Indonesia sekaligus memahami bagaimana nilai-nilai keberlanjutan, pendidikan, dan keberagaman budaya diimplementasikan dalam kehidupan akademik sehari-hari.

Selama mengikuti perkuliahan di FKIP Unram, Emma memperoleh wawasan baru mengenai dunia pendidikan Indonesia. Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah mengikuti mata kuliah Intercultural Understanding, yang membantunya memahami nilai-nilai budaya, gaya komunikasi, serta berbagai perspektif yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Menurut Emma, pengalaman tersebut memperkaya perjalanan akademiknya, tidak hanya dari sisi teori pendidikan, tetapi juga melalui pertukaran gagasan dan budaya yang terjadi setiap hari bersama dosen maupun mahasiswa Universitas Mataram.

"Saya belajar banyak tentang bagaimana pendidikan dipandang di Indonesia dan bagaimana peran seorang guru di masyarakat. Selain itu, saya juga memperoleh pengalaman pertukaran budaya yang sangat berharga melalui berbagai diskusi mengenai nilai, komunikasi, dan cara pandang yang berbeda," katanya.

Emma juga mengamati sejumlah perbedaan antara sistem pembelajaran di Jerman dan Indonesia. Di Jerman, jadwal perkuliahan umumnya telah ditetapkan sejak awal semester dan mahasiswa lebih banyak mengatur proses belajarnya secara mandiri. Sementara di Unram, pembelajaran berlangsung dalam suasana kelas yang lebih kolektif dengan interaksi yang intens antara dosen dan mahasiswa. Namun, hal yang paling membekas baginya bukanlah perbedaan sistem akademik tersebut, melainkan budaya belajar yang hangat dan penuh dukungan.

Ia sadar bahwa proses belajar tidak selalu harus dipenuhi tekanan untuk mendapatkan hasil yang baik. Ia merasakan suasana belajar yang lebih santai, tetapi tetap produktif. Hubungan antara dosen dan mahasiswa juga sangat dekat. Para dosen selalu memastikan mahasiswa merasa nyaman selama mengikuti perkuliahan. Sedangkan di luar aktivitas akademik, kehidupan Emma di Lombok dipenuhi berbagai pengalaman yang memperkaya perjalanan pertukarannya.

Hari-harinya dimulai dengan mengikuti perkuliahan, kemudian mengerjakan tugas di perpustakaan maupun kafe di sekitar kampus. Bersama teman-teman lokal maupun sesama mahasiswa internasional, ia juga menghabiskan waktu berolahraga, bermain bulu tangkis, berlari mengelilingi kawasan kampus, hingga menikmati keindahan pantai-pantai di Pulau Lombok.

Tak hanya aktif di lingkungan kampus, Emma juga terlibat dalam berbagai kegiatan sosial bersama Gugah Nurani Indonesia dan Jage Kastara Foundation. Melalui dua organisasi tersebut, ia berkesempatan mengikuti kegiatan mengajar, berinteraksi langsung dengan anak-anak dan masyarakat, serta mengenal lebih dekat kehidupan sosial dan budaya masyarakat Lombok. Menurutnya, pengalaman tersebut sangat berkesan dan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang tidak dapat diperoleh hanya melalui perkuliahan di kelas.

Pada akhir pekan, Emma memanfaatkan waktunya untuk mengeksplorasi lebih jauh kehidupan masyarakat Lombok. Ia mengunjungi sekolah-sekolah, desa-desa tradisional, menikmati keindahan bawah laut. Seluruh pengalaman tersebut membuat proses belajar baginya tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir melalui setiap perjalanan, interaksi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Lebih dari sekadar program pertukaran mahasiswa, kolaborasi ini mencerminkan komitmen Unram dalam membangun pendidikan tinggi yang inklusif, berwawasan global, dan kolaboratif. Melalui kemitraan internasional serta pengalaman belajar lintas budaya, program ini menjadi kontribusi nyata terhadap pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), sekaligus memperkuat peran Unram sebagai kampus yang aktif membangun jejaring akademik di tingkat global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....