Keren! Irfan Hadiaturrahman Menangkan CG Connect 3D Awards di Polandia

  • 22 Jun 2026 07:12 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Barat– Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra Nusa Tenggara Barat di tingkat internasional. Irfan Hadiaturrahman (23), pemuda asal Dusun Lekong Siwak, Desa Tanak Beak, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, berhasil meraih gelar juara pada ajang CG Connect 3D Awards 2026 yang digelar di Polandia.

Pengumuman pemenang dilakukan pada pukul 19.15 waktu Polandia atau 00.15 WIB. Kemenangan tersebut menempatkan Irfan sebagai satu-satunya 3D Artist dari kawasan Asia Pasifik yang berhasil membawa pulang trofi dalam ajang yang dikenal sebagai salah satu penghargaan paling prestisius di dunia visualisasi arsitektur atau architectural visualization (archviz).

Bagi para pelaku industri kreatif digital, CG Connect 3D Awards kerap disebut sebagai "Piala Oscar" bagi dunia visualisasi arsitektur. Kompetisi ini mempertemukan para seniman digital, studio visualisasi, dan profesional kreatif dari berbagai negara dengan standar penilaian yang sangat tinggi.

Irfan mengaku masih sulit mempercayai pencapaian yang berhasil diraihnya tersebut. Menurutnya, penghargaan ini menjadi bukti dari proses panjang belajar dan dedikasi yang selama ini dijalani.

"Saya sangat bersyukur dan sejujurnya masih sedikit tidak menyangka. Banyak orang di industri ini menyebut CG Connect 3D Awards sebagai Piala Oscar-nya visualisasi arsitektur. Mengingat standar kompetisinya yang luar biasa tinggi, penghargaan ini menjadi pembuktian atas dedikasi dan proses belajar saya selama ini," ujarnya, Minggu 21 Juni 2026.

Karya yang mengantarkan Irfan menjadi pemenang justru tampil berbeda dari kecenderungan karya visualisasi arsitektur pada umumnya. Jika sebagian besar karya archviz menampilkan bangunan yang bersih, sempurna, dan teratur, Irfan memilih menghadirkan realitas kehidupan sehari-hari yang lebih organik dan tidak terduga.

Dalam karya tersebut, sebuah bangunan bata dengan bentuk geometris yang tegas dipadukan dengan kehadiran seekor ayam di bagian depan gambar. Bagi Irfan, elemen sederhana itu menjadi simbol bagaimana kehidupan nyata sering kali berjalan di luar skenario yang dirancang manusia.

"Arsitektur dirancang secara presisi dan terencana, tetapi ketika bertemu realita semuanya berubah. Saya menampilkan bangunan yang sangat geometris, namun fokus utama justru hadir melalui seekor ayam di bagian depan. Ayam tidak mengerti geometri dan tidak peduli dengan alur sirkulasi yang dirancang arsiteknya. Di situlah arsitektur menjadi panggung bagi kehidupan yang tidak tertebak," jelasnya.

Dari sisi teknis, Irfan memanfaatkan perangkat lunak Blender untuk seluruh proses utama, mulai dari pemodelan tiga dimensi, tekstur, pencahayaan hingga rendering. Sementara teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) digunakan sebagai sentuhan akhir untuk memperkuat suasana visual yang ingin dibangun.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam proses pengerjaan karya adalah menciptakan hubungan yang alami antara objek utama dan lingkungan sekitarnya. Berbagai eksperimen dilakukan untuk menemukan komposisi kamera, sudut pandang, warna, serta keseimbangan visual yang tepat.

"Saya menggunakan sudut pandang low-angle agar narasi visualnya lebih kuat. Menyatukan subjek ayam di foreground dengan bangunan geometris di background membutuhkan banyak percobaan hingga tercipta harmoni yang diinginkan," katanya.

Keberhasilan Irfan tidak hanya menjadi prestasi pribadi, tetapi juga menunjukkan kualitas sumber daya manusia NTB yang mampu bersaing di tingkat global. Irfan menilai fondasi keilmuan yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Program Studi Arsitektur Universitas Mataram memiliki peran besar dalam membentuk kualitas karya yang dihasilkannya.

Menurutnya, pendidikan arsitektur tidak hanya mengajarkan desain bangunan, tetapi juga membangun kepekaan terhadap ruang, skala, proporsi, detail material, hingga bagaimana cahaya berinteraksi dengan sebuah massa bangunan.

"Pemahaman arsitektural itulah yang membuat visualisasi saya terasa masuk akal dan memiliki pijakan realitas yang kuat. Selain itu, budaya studio di kampus juga membentuk disiplin serta cara berpikir kreatif saya hingga sekarang," ungkapnya.

Dukungan keluarga juga menjadi faktor penting dalam perjalanan kariernya. Irfan menyebut orang tua merupakan sumber kekuatan yang membuatnya mampu bertahan dan terus berkembang di bidang yang ditekuninya.

"Mereka sangat bahagia dan bangga. Dukungan ibu dan bapak adalah jangkar emosional saya. Prestasi ini menjadi hadiah yang manis untuk membalas kesabaran mereka dalam mendukung pilihan karier saya," tuturnya.

Kemenangan di Polandia membuka peluang baru bagi Irfan untuk memperluas kiprahnya di dunia internasional. Karya pemenangnya dijadwalkan tampil dalam pameran pada Architecture in Perspective International Conference yang akan digelar di Washington D.C., Amerika Serikat.

Selain memperluas jaringan profesional dan meningkatkan kepercayaan klien internasional, pengalaman tersebut juga menjadi bekal berharga bagi minatnya untuk mengembangkan karier di bidang Architecture for Fiction and Entertainment, sebuah sektor yang menggabungkan arsitektur dengan industri film dan permainan digital.

Kepada generasi muda, khususnya mahasiswa arsitektur dan para kreator digital di Indonesia, Irfan berpesan agar tidak hanya berfokus pada penguasaan perangkat lunak semata. Menurutnya, pemahaman dasar arsitektur, fotografi, komposisi visual, serta kemampuan menerima kritik jauh lebih penting untuk membangun karya yang berkarakter.

"Teknologi akan terus berkembang. Karena itu, asah kepekaan arsitektur, pelajari fotografi, tata cahaya, dan komposisi. Teruslah bereksplorasi, terbuka terhadap kritik, serta jangan takut mengukur kemampuan diri melalui kompetisi tingkat global," pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....