Menjaga Bahasa Daerah lewat Inovasi Generasi Muda

  • 08 Jun 2026 06:27 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Lewat program Mandalika Beraksara dan Krida: Suara Sasambo, Aril dan Nisa mengajak generasi muda NTB menjaga bahasa serta aksara daerah melalui inovasi digital, UMKM, dan inklusivitas bagi penyandang disabilitas

RRI.CO.ID, Mataram - Di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa asing, bahasa daerah sering dianggap memiliki posisi yang lebih rendah. Pandangan inilah yang ingin diubah oleh Pemenang 2 Duta Bahasa NTB 2026, Lalu Asryl Wahyu Ramdani dan Sri Annisa Septiani, melalui berbagai program inovatif yang mereka gagas.

Dalam talkshow Sore Ceria bertema “Muda Berkarya, Bahasa Berdaya”, Aril menyoroti masih adanya anggapan bahwa bahasa daerah kurang prestisius dibandingkan bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Menurutnya, cara terbaik untuk melawan pandangan tersebut adalah dengan menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa daerah sendiri.

Aril menegaskan bahwa bahasa daerah masih hidup dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, bahasa daerah layak dihargai, dijaga, dan dilestarikan. Bahkan saat ini banyak kreator konten dan influencer yang menggunakan logat maupun kosakata daerah dalam kontennya sehingga menjadi ciri khas yang menarik perhatian publik.

Sebagai bentuk nyata pelestarian bahasa, Aril menggagas program “Mandalika Beraksara”. Program ini berfokus pada upaya memperkuat penggunaan aksara daerah yang mulai jarang digunakan. Menurutnya, hanya sebagian kecil masyarakat yang masih memahami aksara tersebut. Padahal, saat sekolah dasar dahulu, pembelajaran aksara seperti Hanacaraka pernah menjadi bagian dari muatan lokal. Melalui program ini, Aril berupaya menghadirkan laman digital yang dapat digunakan masyarakat untuk mempelajari kembali aksara daerah NTB secara lebih mudah.

Sementara itu, Nisa menghadirkan program “Krida: Suara Sasambo”. Program ini berupaya merebranding penggunaan aksara Sasak melalui kolaborasi dengan pelaku UMKM. Salah satu implementasinya dilakukan dengan menampilkan aksara Sasak pada kemasan produk lokal yaitu TuChips Jaje Tujak. Tidak hanya itu, Nisa juga mendorong penggunaan huruf Braille pada kemasan agar informasi produk dapat diakses oleh penyandang tunanetra.

Bagi Nisa, menjaga bahasa daerah berarti menghargai tempat di mana seseorang lahir dan tumbuh. Bahasa daerah menyimpan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat yang tidak dapat digantikan oleh bahasa lain. Karena itu, pelestarian bahasa bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi juga tanggung jawab generasi muda.

Melalui program-program tersebut, Aril dan Nisa ingin menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya dipelajari, tetapi juga dapat menjadi alat pemberdayaan masyarakat. Ketika bahasa dikolaborasikan dengan teknologi, pendidikan, dan dunia usaha, maka bahasa akan tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....