Muda Berkarya, Bahasa Berdaya untuk Masa Depan

  • 08 Jun 2026 06:28 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Aril dan Nisa membuktikan bahwa kepedulian terhadap bahasa dapat membuka ruang kontribusi bagi masyarakat sekaligus menjaga identitas daerah
  • Bahasa menjadi sarana anak muda untuk berkarya dan menghadirkan solusi

RRI.CO.ID, Mataram - Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di tangan generasi muda, bahasa dapat menjadi sarana untuk berkarya, membangun identitas, hingga menghadirkan solusi bagi masyarakat. Semangat inilah yang dibawa oleh Pemenang 2 Duta Bahasa NTB 2026, Lalu Asryl Wahyu Ramdani atau Aril dan Sri Annisa Septiani atau Nisa, saat hadir dalam talkshow Sore Ceria.

Bagi Nisa, mahasiswi semester dua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, perjalanan menjadi Duta Bahasa bermula dari dorongan teman-temannya. Mereka melihat kemampuan public speaking yang dimiliki Nisa dan menyarankan dirinya untuk mengikuti seleksi Duta Bahasa. Ketertarikan Nisa semakin besar karena ia melihat kesempatan tersebut sebagai jalan untuk menjadi perpanjangan tangan Balai Bahasa dalam mengampanyekan penggunaan bahasa yang baik sekaligus pelestarian bahasa daerah.

Sementara itu, Aril yang saat ini menempuh pendidikan di Program Studi Hubungan Internasional Universitas Indonesia mengaku ketertarikannya pada bahasa lahir dari lingkungan keluarga. Sejak kecil ia tumbuh berdampingan dengan budaya sastra dan aksara karena keluarganya aktif berkecimpung dalam dunia kesastraan. Baginya, bahasa bukan hanya membawa identitas seseorang, tetapi juga mampu mengubah perspektif dan menjadi wadah untuk menyampaikan gagasan maupun keresahan.

Meski berhasil meraih gelar Pemenang 2 Duta Bahasa NTB 2026, keduanya mengaku tidak pernah membayangkan hasil tersebut. Nisa merasa terkejut sekaligus bersyukur karena melihat banyak peserta lain yang memiliki kemampuan luar biasa. Namun, kemenangan itu justru menjadi pengingat bahwa tanggung jawab yang lebih besar kini menanti untuk dijalankan, khususnya dalam bidang kebahasaan.

Hal serupa dirasakan Aril. Ia mengaku awalnya hanya menargetkan masuk 20 besar agar dapat turut berkontribusi dalam pelestarian bahasa. Nasihat sang ayah untuk selalu siap menghadapi kegagalan menjadi pegangan selama mengikuti kompetisi. Karena itu, saat berhasil menjadi pemenang, rasa syukur menjadi hal utama yang ia rasakan.

Menurut keduanya, anak muda yang berdaya adalah mereka yang mampu melihat potensi di sekitarnya, peka terhadap berbagai persoalan, dan berani menghadirkan solusi. Bahasa menjadi salah satu sarana penting untuk mewujudkan hal tersebut. Dengan bahasa yang baik, ide dapat tersampaikan, kolaborasi dapat terbangun, dan perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

Di akhir talkshow, Nisa mengajak generasi muda untuk berani bermimpi setinggi mungkin. Sebab, menurutnya, mimpi besar akan membawa seseorang terus bergerak maju.

“Bermimpilah setinggi-tingginya, karena suatu saat ketika jatuh, kita akan jatuh di tengah bintang-bintang yang bersinar,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....