Psikolog BNNP NTB: Medsos Berlebihan Bisa Turunkan Prestasi Anak

  • 29 Mei 2026 17:57 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Penggunaan media sosial secara berlebihan sejak usia dini dinilai dapat memengaruhi perkembangan kognitif anak. paparan konten hiburan yang terus-menerus berpotensi mengganggu kemampuan berpikir dan konsentrasi anak.

Psikolog Klinis BNNP NTB, Wahyu Hasni Ilmi, mengatakan, perkembangan teknologi digital saat ini membuat anak semakin mudah mengakses berbagai jenis konten melalui gadget. Tanpa pengawasan yang tepat, kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak negatif terhadap proses belajar anak.

“Anak nantinya bisa sulit mengambil keputusan, konsentrasinya menurun, motivasi belajar rendah, dan mudah putus asa,” jelasnya, Jumat 29 Mei 2026.

Ia menjelaskan dalam otak manusia terdapat bagian bernama prefrontal cortex yang berfungsi mengatur pengambilan keputusan dan perilaku. Paparan konten hiburan secara berlebihan disebut dapat memengaruhi fungsi bagian otak tersebut.

Kondisi itu membuat anak menjadi lebih sulit mempertahankan fokus dalam belajar. Anak juga cenderung lebih mudah bosan dan kehilangan semangat ketika menghadapi proses yang membutuhkan usaha jangka panjang.

“Daya juang anak bisa menurun karena otaknya terbiasa menerima kesenangan instan dari media sosial. Akibatnya anak tidak tahan menghadapi proses belajar yang panjang,” katanya.

Menurut Wahyu, media sosial yang digunakan hanya untuk hiburan membuat otak anak terus menerima stimulasi emosional secara cepat. Hal tersebut berbeda dengan aktivitas edukatif yang mendorong anak berpikir dan memahami sesuatu secara lebih mendalam.

Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius bagi keluarga maupun sekolah. Sebab, dampak penggunaan media sosial tidak hanya memengaruhi perilaku anak, tetapi juga prestasi akademiknya.

“Ketika motivasi belajar menurun, otomatis prestasi anak juga akan terdampak. Anak menjadi sulit mempertahankan fokus untuk mencapai targetnya,” jelasnya.

Wahyu mengatakan pengawasan penggunaan gadget perlu dilakukan secara konsisten. Orang tua dinilai perlu mengatur durasi penggunaan media sosial dan memastikan anak tetap memiliki aktivitas lain di luar dunia digital.

Ia juga mendorong adanya pembiasaan aktivitas positif seperti membaca, olahraga, dan interaksi sosial langsung agar perkembangan kognitif anak tetap seimbang. Menurutnya, anak membutuhkan stimulasi yang beragam dalam proses tumbuh kembang.

“Anak harus tetap memiliki aktivitas nyata di lingkungan sekitar. Jangan sampai seluruh waktunya hanya dihabiskan di depan layar,” ungkapnya.

Wahyu berharap masyarakat mulai menyadari bahwa dampak media sosial tidak hanya terlihat dalam jangka pendek. Penggunaan yang tidak terkontrol juga dapat memengaruhi kualitas generasi muda di masa depan.

Karena itu, ia menilai pembatasan media sosial dan pengawasan keluarga menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental serta kemampuan belajar anak.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....