Balai Bahasa NTB Gelar Bimtek Penerjemahan Cerita Anak Dwibahasa

  • 29 Mei 2026 14:47 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penggunaan Bahasa dan Strategi Penerjemahan dalam Penulisan Cerita Anak Dwibahasa secara daring melalui Zoom, pada Selasa, 26 Mei 2026.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Toni Samsul Hidayat dan Kasman, serta diikuti 50 penulis terpilih Sayembara Penulisan Cerita Anak Dwibahasa Tahun 2026 bersama para penyunting yang akan terlibat dalam proses penyuntingan naskah.

Ketua panitia, Safoan Abdul Hamid, mengatakan kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian penyusunan produk penerjemahan yang diawali dengan sayembara penulisan cerita anak dwibahasa.

Ia menjelaskan Balai Bahasa NTB sebagai lembaga di bawah Badan Bahasa Kemendikdasmen memiliki tanggung jawab menjaga kualitas kebahasaan seluruh produk yang diterbitkan, termasuk buku cerita anak dwibahasa.

“Kesalahan bahasa sekecil apa pun tidak dapat ditoleransi dalam produk kebahasaan. Begitu juga dalam penerjemahan karena kesalahan penerjemahan dapat berdampak fatal terhadap kualitas hasil terjemahan,” ujar Safoan.

Menurutnya, pemahaman mengenai strategi dan metodologi penerjemahan penting dimiliki penulis yang sekaligus berperan sebagai penerjemah agar makna dan nilai budaya dalam cerita tetap terjaga.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Adriansyah Isa, menekankan pentingnya mempertahankan unsur lokalitas dalam penerjemahan cerita anak daerah.

Ia menjelaskan setiap bahasa memiliki unsur budaya yang melekat, baik dalam kosakata maupun struktur kalimat, sehingga identitas budaya perlu tetap dipertahankan dalam bahasa sasaran.

“Dalam penerjemahan cerita anak daerah, lokalitas jangan sampai hilang. Unsur budaya, kosakata khas, bahkan struktur tertentu dari bahasa asal tetap perlu dipertahankan agar pembaca dapat mengenal identitas budaya yang terkandung di dalam cerita,” kata Arie.

Arie juga menyinggung teori foreignisasi dalam penerjemahan yang mempertahankan kekhasan bahasa sumber agar nuansa budaya tetap terasa dalam hasil terjemahan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya strategi penerjemahan dan ketelitian penggunaan ejaan dalam penulisan cerita anak dwibahasa.

Pada sesi materi, Toni Samsul Hidayat memaparkan berbagai strategi penerjemahan melalui contoh penulisan kalimat dan penerjemahan dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia.

Sementara itu, Kasman memberikan materi penggunaan ejaan bahasa Indonesia melalui studi kasus dan latihan kebahasaan guna meningkatkan ketelitian peserta dalam penggunaan tanda baca, ejaan, dan struktur kalimat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....