Pendidikan Inklusi di SMPN 2 Mataram Dorong Siswa Belajar Setara
- 28 Mei 2026 09:46 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Suasana belajar di SMPN 2 Mataram tidak hanya diisi siswa reguler, tetapi juga anak-anak berkebutuhan khusus yang mengikuti proses pembelajaran bersama dalam satu kelas. Melalui penerapan pendidikan inklusi, sekolah berupaya menciptakan lingkungan belajar yang setara tanpa diskriminasi.
Siswa berkebutuhan khusus di sekolah tersebut tetap mengikuti aktivitas belajar seperti siswa lainnya dengan pendekatan pembelajaran yang disesuaikan berdasarkan kemampuan masing-masing peserta didik.
Plt. Kepala SMPN 2 Mataram, Ni Nengah Sri Swathi, mengatakan sekolah berkomitmen memberikan layanan pendidikan yang sama bagi seluruh siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus.
“Kami tidak boleh menolak anak-anak berkebutuhan khusus, jadi tetap kami layani di sekolah reguler,” ungkapnya, Kamis 28 Mei 2026.
Menurut Sri Swathi, siswa berkebutuhan khusus yang bersekolah di SMPN 2 Mataram memiliki kondisi yang beragam, mulai dari hambatan akademik hingga kebutuhan emosional tertentu.
Meski belajar di kelas yang sama dengan siswa lainnya, sekolah tetap melakukan penyesuaian metode pembelajaran dan target capaian belajar sesuai kemampuan masing-masing siswa.
“Belajarnya tetap bersama di kelas reguler, hanya indikator dan pendekatan pembelajarannya yang kami sesuaikan,” jelasnya.
Ia menjelaskan, penyesuaian tersebut dilakukan agar siswa berkebutuhan khusus tetap dapat mengikuti proses pembelajaran tanpa merasa tertinggal maupun tertekan.
Selain itu, sekolah juga membangun lingkungan belajar yang mendukung dengan menanamkan sikap saling menghargai kepada seluruh siswa.
Menurut Sri Swathi, sejauh ini siswa lain di kelas mampu menerima dan membantu teman-teman mereka yang berkebutuhan khusus selama proses belajar berlangsung.
“Teman-temannya justru sangat mendukung. Syukurnya tidak ada pembullyan di sekolah,” ucapnya.
Meski demikian, pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah umum masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan tenaga pendamping khusus dan dukungan pembiayaan.
Sri Swathi menilai sekolah inklusi membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah karena sistem pembelajaran yang diterapkan berbeda dengan sekolah reguler pada umumnya.
“Kalau ada tambahan guru pendamping tentu pelayanan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus bisa lebih maksimal,” terangnya.
Ia berharap pendidikan inklusi dapat terus diperkuat agar seluruh anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....