Dr. Muazar Habibi Soroti Pembubaran Nobar Film “Pesta Babi”, Tekankan Dialog Akademik

  • 09 Mei 2026 18:21 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram – Pembubaran kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di lingkungan Universitas Mataram (Unram) memunculkan beragam respons dari kalangan akademisi dan mahasiswa. Menyikapi dinamika tersebut, dosen Unram sekaligus mantan aktivis 1998, Dr. Muazar Habibi, menilai peristiwa itu perlu dijadikan refleksi bersama dalam membangun tradisi dialog akademik di kampus.

Dalam refleksi akademiknya, Muazar menegaskan kampus sejatinya merupakan ruang kebebasan berpikir dan dialektika intelektual. Karena itu, menurutnya, setiap bentuk ekspresi mahasiswa semestinya disikapi melalui pendekatan persuasif dan argumentatif, bukan sekadar tindakan represif.

“Kalau ada karya atau tayangan yang dianggap sensitif maupun provokatif, cara terbaik menyikapinya adalah dengan diskusi ilmiah yang terbuka, bukan pembubaran yang justru berpotensi menimbulkan kegaduhan baru,” jelasnya, Sabtu 9 Mei 2026.

Ia mengaku telah melakukan tabayun dengan pimpinan universitas, termasuk Wakil Rektor III Unram, serta berdiskusi dengan sejumlah dosen dan aktivis untuk memahami konteks peristiwa secara menyeluruh.

Dr. Muazar menilai persoalan dalam kegiatan nobar tersebut tidak semata berada pada substansi film dokumenter Pesta Babi, tetapi juga berkaitan dengan prosedur penyelenggaraan kegiatan di lingkungan kampus. Ia menyebut institusi perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menjaga stabilitas dan ketertiban akademik.

“Langkah preventif kampus tentu memiliki pertimbangan administratif. Persoalan sering muncul pada aspek prosedural seperti izin kegiatan dan teknis pelaksanaan,” katanya.

Meski demikian, ia berpandangan bahwa kegiatan mahasiswa akan lebih bernilai apabila dikemas dalam format kajian akademik yang lebih terstruktur. Misalnya melalui forum diskusi ilmiah dengan menghadirkan pakar hukum, sosiologi, maupun akademisi lain untuk membedah isi film secara objektif.

Menurutnya, pendekatan seperti itu akan memperkuat nilai edukatif sekaligus menghindari munculnya kesan politisasi terhadap kegiatan mahasiswa.

“Kalau dikemas menjadi forum kajian akademik resmi di auditorium dengan menghadirkan narasumber ahli, maka substansi intelektualnya akan lebih menonjol dibanding sekadar kerumunan nobar,” jelasnya.

Muazar juga menyoroti adanya perbedaan cara pandang antara kelompok aktivis mahasiswa dengan birokrasi kampus. Aktivis, kata dia, cenderung bergerak dinamis dan ekspresif, sementara birokrasi bekerja berdasarkan aturan administratif dan pertimbangan stabilitas.

Karena itu, ia menilai dibutuhkan jembatan komunikasi yang lebih empatik antara kedua pihak agar potensi konflik dapat dicegah sejak awal.

“Pihak kampus perlu memahami karakter aktivisme mahasiswa, sementara mahasiswa juga perlu memahami tanggung jawab pimpinan universitas dalam menjaga kondusivitas,” ujarnya.

Ia menawarkan pendekatan fasilitasi sebagai solusi. Alih-alih membubarkan kegiatan, kampus dapat mengarahkan mahasiswa untuk menjadwalkan ulang kegiatan secara resmi dengan dukungan fasilitas kampus dan format diskusi yang lebih akademis.

Dalam refleksinya, Muazar juga mengingatkan pentingnya semangat literasi dan budaya membaca situasi secara utuh sebelum masyarakat mengambil kesimpulan terhadap suatu peristiwa.

Ia turut mengajak mahasiswa untuk mengedepankan intelektualitas dan kedalaman analisis dalam setiap gerakan maupun aksi yang dilakukan di ruang publik kampus.

“Mahasiswa perlu tampil sebagai kelompok intelektual yang menawarkan gagasan dan analisis mendalam, bukan sekadar mengejar sensasi atau viralitas,” terangnya.

Di sisi lain, ia menilai pimpinan kemahasiswaan di perguruan tinggi perlu memiliki sensitivitas terhadap psikologi massa dan dinamika gerakan mahasiswa agar setiap persoalan dapat diarahkan menjadi ruang edukasi bersama.

Muazar berharap polemik pembubaran nobar film dokumenter Pesta Babi di Unram dapat menjadi momentum memperkuat tradisi dialog, silaturahmi, dan budaya intelektual di lingkungan kampus.

“Semoga ini menjadi pelajaran bersama agar kampus tetap menjadi ruang akademik yang dewasa, terbuka, dan mampu menyelesaikan perbedaan melalui dialog,” katanya, mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....